Rasional, Tujuan, Rumusan Capaian Pembelajaran, Dan Karakteristik Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) Kurikulum Merdeka

Rasional, Tujuan, Rumusan Capaian Pembelajaran, Dan Karakteristik Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) Kurikulum Merdeka
Sesuai dengan salinan Lampiran I Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum Dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek No 033/H/KR/2022 Tentang Capaian Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA), dapat Bapak Ibu Guru, jadikan referensi dan standar dalam pengisian dalam Aplikasi E-Raport Kurikulum Merdeka yang tersinkronisasi dengan Dapodik.
Rasional, Tujuan, Rumusan Capaian Pembelajaran, Dan Karakteristik Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) Kurikulum Merdeka
Semoga artikel ini dapat menjadi acuan dan pencerahan saudara dalam mengisi dan melengkapi serta mempersiapkan penilaian pada buku raport Kurikulum Merdeka. Mari kita belajar bersama dan berusaha menyelesaikan tugas profesi yang kita jalani... 

A.  Rasional Capaian Pembelajaran
Penyusunan  Capaian  Pembelajaran  di  Pendidikan  Anak  Usia  Dini (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) dapat dimaknai sebagai sebuah tanggapan terhadap  adanya  kebutuhan  untuk  menguatkan  peran  PAUD (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  sebagai  fondasi  jenjang  pendidikan  dasar. 

Capaian  Pembelajaran  merupakan  masukan  kurikulum  yang digunakan  oleh  satuan  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  dalam merancang  pembelajaran  sehingga  dapat  mencapai  STPPA.  Capaian Pembelajaran  memberikan  kerangka  pembelajaran  yang  memandu pendidik  di  satuan  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  dalam memberikan stimulasi yang dibutuhkan oleh anak usia dini. 

Stimulasi  dirancang  dengan  cara  memperkaya  lingkungan  yang  akan menyuburkan interaksi anak dengan lingkungan di sekitar, termasuk pendidik  dan  orangtua.  Kurikulum  berdasarkan  pendekatan konstruktivistik  yang  berasal  dari  teori  Piaget  dan  Vygotsky  juga percaya  bahwa  pembelajaran  perlu  melibatkan  anak  dalam  interaksi aktif antara diri dan lingkungannya. Diharapkan proses stimulasi akan memberikan  dampak  yang  optimal  pada  peningkatan  karakter, keterampilan,  maupun  pengetahuan  anak.  Stimulasi  tersebut dilakukan  pada  semua  aspek  perkembangan  anak,  baik  dari  aspek moral dan agama, fisik motorik, emosi dan sosial, bahasa, dan kognitif melalui  kegiatan  bermain.  Peran  guru  dan  orang  tua  pada  stimulasi anak  usia  dini  selaras  dengan  pemikiran  Ki  Hadjar  Dewantara  yaitu guru  dan  orang  tua  berfungsi  sebagai  fasilitator,  mentor,  dan  mitra anak dalam proses perkembangannya. Selanjutnya guru perlu bekerja sama  dengan  orang  tua  untuk  memastikan  keselarasan  antara pendidikan di satuan PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA)  dan di rumah dalam keseharian anak. 

Secara  umum,  dapat  dikatakan  stimulasi  bertujuan  agar  anak bertumbuh  kembang  optimal  secara  holistik  dan  siap  bersekolah. Diharapkan  mereka  kelak  membentuk  pribadi  yang  dicita-citakan dalam  profil  pelajar  Pancasila,  yaitu  sebagai  pelajar  sepanjang  hayatyang  kompeten,  berkarakter,  dan  berperilaku  sesuai  nilai-nilai Pancasila.  Proses  membangun  pengetahuan  anak  terjadi  ketika  ia sedang  bermain  dan  berinteraksi  dengan  lingkungannya  secara  aktif.
 
Proses  tersebut  berupa  desain  lingkungan  belajar  yang  sesuai  dari satuan  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  serta  tantangan  dan dukungan  yang  diberikan  bagi  tiap  anak  oleh  pendidik  untuk memastikan anak memperoleh kemampuan-kemampuan baru. 

Bermain  bagi  anak  usia  dini  adalah  belajar,  yang  didukung  dengan masukan  dari  orang  lain  yang  lebih  berpengalaman  di  sekitarnya (pendidik,  orang  tua/wali,  saudara  yang  lebih  tua,  dan  sebagainya). 

Anak bertindak dari perilaku bermain dan model yang dicontohkan oleh orang  dewasa  atau  anak-anak  yang  lebih  tua.  Mereka  mengajukan pertanyaan  untuk  belajar  lebih  banyak,  dan  dapat  dirangsang  untuk belajar lebih banyak melalui dukungan dari orang dewasa yang terlibat, atau  anak-anak  yang  lebih  tua  yang  menanggapi  minat  anak, menjelaskan berbagai hal, mengajari mereka kata-kata untuk berbicara tentang  apa  yang  mereka  lakukan,  dan  mendorong  anak  untuk mengeksplorasi lebih cermat, atau berpikir lebih dalam. 

Bermain secara alami dan spontan yang berasal dari ide-ide anak merupakan kegiatan belajar yang menyenangkan yang dengan dukungan yang tepat, akan mengarah  pada  pembelajaran  yang  lebih  dalam  dan  bermakna  bagi anak  tentang  diri  mereka  dan  dunianya.  

Melalui  bermain,  anak-anak menampilkan  hal-hal  yang  ia  ketahui  tentang  dunianya  yang memberikan kesempatan yang tepat bagi pendidik atau orang tua/wali, untuk  menstimulasi  anak  mengambil  langkah  berikutnya,  atau mencoba  tantangan  berikutnya  agar  mereka  belajar  lebih  banyak. 

Stimulasi  bermain  yang  berkualitas,  yang  selaras  dengan  minat  anak dan  menantang  secara  tepat  akan  memberikan  kesempatan  kepada anak  untuk  menunjukkan  pengenalan  tentang  dirinya  sebagai  anak Indonesia,  dan  mendemonstrasikan  kemampuannya  dalam mengeksplorasi,  memecahkan  masalah,  berpikir  dan mengimplementasikan  nilai-nilai  Pancasila.  Anak  tersebut  akan memiliki kesadaran terhadap alam dan lingkungan, serta tumbuh dan berkembang  menjadi  anak  yang  kreatif,  bugar,  sehat,  serta  dapat berkomunikasi dan berekspresi dengan bahasa dan seni.

Berikut adalah sejumlah rasional yang mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di jenjang PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA): 

Pertama,  memberikan  lebih  banyak  ruang  kemerdekaan  bagi  satuan PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  untuk  menetapkan  kebutuhan pengajaran  dan  pembelajaran.  Kebutuhan  belajar  mengajar  PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA)  harus didasarkan pada kebutuhan anak. Ini membutuhkan  pertimbangan  kemampuan  fisik,  sosial,  moral, linguistik,  dan  kognitif  anak  serta  penyediaan  berbagai  lingkungan yang  menantang  dengan  dukungan  pendidik  ke  tiap  anak  yang memadai  untuk  memastikan  potensi  belajar  anak  terwujud. 

Capaian  Pembelajaran  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  merupakan fase fondasi, yang artinya fase ini merupakan pijakan pertama anak di dunia  pendidikan  dan  tujuannya  adalah  memfasilitasi  tumbuh kembang  anak  secara  optimal,  yang  tidak  hanya  siap  bersekolah, namun  lebih  siap  menempuh  perjalanannya  dalam  berkembang  dan berperan  di  komunitas,  negara,  dan  dunia.  

Kedua, menguatkan transisi PAUD-SD. Kesinambungan pembelajaran di  PAUD  dan  sekolah  dasar. Hal  ini  yang  diharapkan  akan mendukung kesiapan bersekolah anak dalam rentang usia tersebut. 
Kesiapan bersekolah dimaknai sebagai hadirnya hasil interaksi dari tiga dimensi: 
1. peserta didik yang siap (ready children), 
2. keluarga siap (ready family),  dan  
3. sekolah  yang  siap  (ready  school)  (UNICEF,  2012).  ketiga  dimensi  ini berada  dalam  sebuah  ekosistem  besar  yang  dipengaruhi  oleh  nilai budaya  serta  kerangka  kebijakan  yang  berlaku.  Kesiapan  bersekolah merupakan kondisi yang terus dibangun berdasarkan kemitraan antara satuan PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA), keluarga, sekolah dasar kelas rendah. 

Komponen  penting  dari  kesiapan  bersekolah  yang  dapat  didukung satuan PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) diantaranya adalah:
●  Kematangan  emosi  yang  cukup  untuk  mengatasi  masalahnya sehari-hari.
●  Keterampilan sosial yang memadai untuk berinteraksi sehat dengan teman sebaya. 
●  Kematangan  kognitif  yang  cukup  untuk  berkonsentrasi  saat bermain-belajar.
●  Pengembangan  keterampilan  motorik  dan  perawatan  diri  yang memadai untuk dapat berpartisipasi di lingkungan sekolah secara mandiri. 

Keterampilan  umum  ini  dipelajari  di  lingkungan  dimana  anak-anak memiliki  kesempatan  untuk  berinteraksi,  dimana  ada  masalahmasalah  yang  perlu  mereka  selesaikan  ketika  berinteraksi  dengan teman. Pendidik juga perlu siap mendukung anak-anak untuk terlibat secara  baik  dengan  orang  lain,  menyelesaikan  perselisihan  secara konstruktif,  dan  mengelola  emosi  mereka.  Pendidik  juga  perlu mengajari anak cara mendengarkan dengan cermat, dan memberikan stimulus untuk membangun konsentrasi dan keterampilan mengingat anak untuk mendukung kesiapan bersekolah.

Ketiga, menguatkan artikulasi penanaman literasi, matematika, sains, teknologi,  rekayasa, dan seni sejak di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA). Literasi  dan  matematika  awal  tersirat  di  dalam  kurikulum  terdahulu namun  dalam  pelaksanaannya,  masih  ada  satuan  yang  menghindari penggunaan  aspek  pembelajaran  ini  ditengarai  karena  kekhawatiran terjadinya  schoolification  (anak  belajar  secara  klasikal  di  mana  fokus lebih  ke  muatan  pembelajaran  di  ruangan  kelas  dalam  waktu  lama dengan kertas dan pensil), sementara penting dalam pembelajarannya anak usia dini untuk mengeksplorasi diri dan lingkungan. Pengenalan pada  sains,  matematika,  teknologi,  rekayasa,  dan  seni  dihadirkan  di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) untuk membantu anak memecahkan masalah  dan  berkreasi.  

Kemampuan  literasi  dan  matematika  di  sini tidaklah  diartikan  sebagai  keharusan  membaca,  menulis,  atau berhitung  karena  semua  pendidikan  di  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS, TPA)  kembali  pada  prinsip  berpusat  pada  kebutuhan  anak.  Artinya, kemampuan  literasi  dan  matematika  adalah  kemampuan  dasar  yang dibutuhkan  anak  untuk  dapat  memahami  dunia,  serta  dapat menggunakan  kemampuan  tersebut  dalam  kegiatan  sehari-harinya. 

Agar  anak  memiliki  kemampuan  literasi  dan  matematika  awal  dalam makna yang luas, maka penggunaan metode drilling  yang secara sempit memaknai  kemampuan  ini  sebagai  kemampuan  baca,  tulis,  hitung  –harus  dihindarkan.  

Hal  yang  diperlukan  adalah  pemahaman  yang meluas  di  satuan  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  dan  komunitas orang  tua  mengenai  perkembangan  literasi  dini,  matematika  awal, sains, teknologi, rekayasa, dan seni dalam PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) yang mencakup pengembangan: 

●  Kemampuan menyimak dan mengolah informasi.
●  Kemahiran  berbahasa  yang  memadai  untuk  berpartisipasi  dalam percakapan sehari-hari, mengekspresikan gagasan, pendapat, dan perasaan,  menjelaskan  berbagai  peristiwa  yang  dekat  dengan kehidupan  anak,  mendengarkan  secara  efektif,  dan  merespons dengan tepat.

●  Kecintaan  pada  buku,  yang  dipupuk  dengan  mendengarkan berbagai  cerita  serta  teks  informasi  sederhana  dan  menarik sehingga  dapat  mendorong  anak  untuk  mengekspresikan tanggapan mereka. 

●  Pengalaman  langsung  yang  memadai  dalam  menghitung  di antaranya  berbagai  jenis  jumlah  kecil,  menyortir  objek  yang berbeda  dengan  cara  yang  berbeda,  menggunakan  bahasa matematika  untuk  mengidentifikasi  objek  yang  panjang,  pendek, berat,  ringan,  penuh,  kosong,  cepat,  lambat,  dan  juga  untuk menjelaskan  beberapa  bentuk  sederhana  di  lingkungan  mereka; 

●  Pengalaman  yang  cukup  dalam  mengeksplorasi  berbagai  elemen lingkungan  alam  mereka  serta  alat-alat  sederhana,  teknologi  dan bahan  konstruksi  agar  mereka  terbiasa  dan  mampu menggambarkan  pengalaman  mereka  dan  apa  yang  telah  mereka pelajari.

Keterampilan awal ini dikembangkan melalui kegiatan belajar-bermain dengan  tetap  memperhatikan  keunikan  anak.  Setiap  anak  memiliki minat  yang  berbeda  dan  tingkat  keterampilan  yang  berbeda,  oleh karena  itu  pendidik  perlu  mengenali  dan  menanggapi  hal  ini. 

Keterampilan keaksaraan awal PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) harus fokus  pada  pengembangan  keterampilan  bahasa  lisan.  Anak  perlu meningkatkan perbendaharaan kata dan keterampilan berbicara serta menyimak,  dengan  cara  terlibat  dalam  percakapan  dengan  pendidik dan orang tua/wali. Percakapan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas bahasa lisan reseptif dan ekspresif anak.

Demikian  pula,  untuk  mengembangkan  keterampilan  matematika awal, pendidik perlu terlibat dalam percakapan dengan setiap anak di mana  mereka  membantu  anak  untuk  memahami  dan  menggunakan beberapa  ide  dan  bahasa  matematika  sederhana  yang  berlaku  dalam kegiatan bermain. Pengalaman sains, teknologi, dan kerekayasaan yang sesuai  untuk  anak-anak  di  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA) memerlukan  penyediaan  materi  untuk  dimainkan  anak  agar  dapat merangsang  eksplorasi  mereka.  Setiap  elemen  lingkungan  alam  yang menjadi  bagian  dari  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  dapat  menjadi stimulus  untuk  mendorong  anak  berpikir  secara  ilmiah.  

Perangkat mekanis sederhana yang dapat digunakan anak untuk bermain dengan aman,  atau  bahan  yang  dapat  digunakan  untuk  konstruksi memungkinkan  anak  untuk  mengeksplorasi  elemen  teknologi  dan kerekayasaan.  Peran  pendidik,  sekali  lagi,  untuk  terlibat  dalam percakapan empat mata dengan setiap anak, setiap hari mencari tahu apa  yang  sedang  dieksplorasi  oleh  anak,  apa  yang  membuat  mereka penasaran  dan  menanyakan  jenis  pertanyaan  yang  akan  mendorong anak  untuk  mengeksplorasi  lebih  banyak  dan  memikirkan  tentang hasilnya.

Keempat,  lebih  memberikan  pijakan  bagi  anak  untuk  memahami dirinya dan dunia. Hasil pembelajaran di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) menekankan pentingnya untuk membantu anak-anak memahami dan  bangga  akan  identitas  mereka,  dan  untuk  memperkuat pemahaman  mereka  tentang  dunia  dimulai  dengan  menjelajahi lingkungan sekitarnya. Anak-anak membutuhkan kepercayaan diri dan kepercayaan  pada  kemampuan  mereka  agar  dapat  secara  efektif menjelajahi  dan  belajar  tentang  dunia  mereka.  Mereka  perlu  merasa bangga terhadap dirinya sendiri, budaya asal mereka, penampilan dan cara  hidup  mereka.  Pendidik  perlu  mendukung  anak-anak  untuk mengembangkan identitas yang kuat dan positif dengan menghormati dan  menyambut  masing-masing  keunikan  anak  serta  latar  belakang sosial dan budaya mereka.

Relevansi PAUD sangat ditentukan oleh manfaat yang dirasakan secara konkret  oleh  keluarga  dan  anak.  Keluarga  perlu  melihat  jejak  serta dampak  dari  partisipasi  anak-anaknya  di  PAUD  (Smith,  1996), karenanya  tujuan  dari  setiap  pembelajaran  perlu  dikaitkan  dengan pengalaman  anak  sehari-hari  dan  kontekstual  (selaras  dengan  nilai sosial budaya lingkungan) sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya  adalah  bagian  dari  lingkungannya  serta  meningkatkan kompetensi  dirinya  untuk  dapat  berperan  dalam  kegiatan  seharihari.  

Capaian  Pembelajaran  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  secara spesifik  menekankan  pentingnya  pendampingan  anak  dalam menemukan jati dirinya, serta menguatkan pemahaman anak terhadap dunianya melalui eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

B.  Tujuan Capaian Pembelajaran
Pembelajaran di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA)  adalah pembelajaran yang  mengintegrasikan  semua  aspek  perkembangan  anak  dengan penekanan  pada  kesejahteraannya.  Tujuan  capaian  pembelajaran  di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) adalah memberikan arah yang sesuai dengan  usia  perkembangan  anak  pada  semua  aspek  perkembangan anak  (nilai  agama-moral,  fisik  motorik,  emosi-sosial,  bahasa,  dan kognitif) dan menarasikan kompetensi pembelajaran yang diharapkan dicapai anak pada akhir PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA), agar anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.

C.  Karakteristik Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA)
Pembelajaran  di  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  memiliki karakteristik  yang  memandang  setiap  anak  dipandang  unik  dan memiliki  potensi  (kelebihan/kekuatan)  masing-masing  sehingga memungkinkan  untuk  dikembangkan  lebih  lanjut  melalui  dalam lingkungan yang dirancang dengan cermat di mana stimulasi bermain diberikan  dan  pembelajaran  disediakan  oleh  pendidik.  

Scaffolding (perancah,  dukungan  belajar  secara  terstruktur)  sangat  penting diberikan pendidik dengan cara terlibat dalam percakapan sehari-hari dengan setiap anak, yang seiring waktu akan memberikan tantangan, dukungan  dan  bimbingan  bagi  anak  untuk  mengembangkan keterampilan  motorik,  keterampilan  sosial  dan  nilai-nilai  moral, keterampilan  bahasa  lisan  dan  kemampuan  anak  untuk  secara produktif memikirkan dan mengeksplorasi lingkungan. 

Pembelajaran  di  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA)  perlu memperhatikan beberapa karakteristik spesifik yaitu:
1.  Mendukung terbentuknya kesejahteraan diri (well-being) anak.
2.  Menghargai dan menghormati anak.
3.  Mendorong rasa ingin tahu anak.
4.  Menyesuaikan  dengan  usia,  tahap  perkembangan,  minat  dan kebutuhan anak.
5.  Memberikan stimulasi secara holistik integratif.
6.  Memberikan  tantangan,  bimbingan,  dan  dukungan  pada pembelajaran  tiap  anak  melalui  percakapan  dan  interaksi bermakna dengan tiap anak.
7.  Melibatkan keluarga sebagai mitra.
8.  Memanfaatkan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar.
9.  Menggunakan  penilaian  otentik  (penilaian  yang  diperoleh bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran).

D.  Lingkup Capaian Pembelajaran
Lingkup  capaian  pembelajaran  di  PAUD  (TK/RA/BA,  KB,  SPS,  TPA) mencakup  tiga  elemen  stimulasi  yang  saling  terintegrasi.  Tiga  elemen stimulasi  tersebut  merupakan  elaborasi  aspek-aspek  perkembangan nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa, dan nilai Pancasila serta bidang-bidang lain untuk optimalisasi tumbuh kembang  anak  sesuai  dengan  kebutuhan  pendidikan  abad  21  dalam konteks Indonesia. Tiap elemen stimulasi mengeksplorasi aspek-aspek perkembangan secara utuh dan tidak terpisah. Ketiga elemen stimulasi tersebut  adalah:  
1)  Nilai  agama  dan  budi  pekerti,  yang  mencakup kemampuan  dasar-dasar  agama  dan  akhlak  mulia;  
2)  Jati  diri mencakup pengenalan jati diri anak Indonesia yang sehat secara emosi dan  sosial  dan  berlandaskan  Pancasila,  serta  memiliki  kemandirian fisik. 
3) Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa,dan  Seni  yang  mencakup  kemampuan  memahami  berbagai  informasidan  berkomunikasi  serta  berpartisipasi  dalam  kegiatan  pramembaca. Setiap  elemen  stimulasi  harus  digunakan  sebagai  dasar  untuk mengeksplorasi aspek perkembangan anak secara keseluruhan, bukan secara terpisah. 

E.  Rumusan Capaian Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA)
Pada  akhir  fase  fondasi,  anak  menunjukkan  kegemaran mempraktikkan dasar-dasar nilai agama dan budi pekerti; kebanggaan terhadap dirinya; dasar-dasar kemampuan literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni untuk membangun sikap positif terhadap belajar dan kesiapan untuk mengikuti pendidikan dasar.Elemen Capaian Pembelajaran

1.  Nilai Agama dan Budi Pekerti: 
Anak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulai mengenal  dan mempraktikkan  ajaran  pokok  sesuai  dengan  agama  dan kepercayaanNya.  Anak  berpartisipasi  aktif  dalam  menjaga kebersihan,  kesehatan  dan  keselamatan  diri  sebagai  bentuk  rasa sayang terhadap dirinya dan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.  Anak  menghargai  sesama  manusia  dengan  berbagai perbedaannya  dan  mempraktikkan  perilaku  baik  dan  berakhlak mulia.  Anak  menghargai  alam  dengan  cara  merawatnya  dan menunjukkan  rasa  sayang  terhadap  makhluk  hidup  yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. 

2.  Jati Diri:
Anak  mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi diri serta membangun  hubungan  sosial  secara  sehat.  Anak  mengenal  dan memiliki  perilaku  positif  terhadap  diri  dan  lingkungan  (keluarga, sekolah, masyarakat, negara, dan dunia) serta rasa bangga sebagai anak Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Anak menyesuaikan diri  dengan  lingkungan,  aturan,  dan  norma  yang  berlaku.  

Anak menggunakan fungsi gerak (motorik kasar, halus, dan taktil) untuk mengeksplorasi dan memanipulasi berbagai objek dan lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri.
Pembaca yang budiman, jika Anda merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, silakan bagikan ke media sosial lewat tombol share di bawah ini:
 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top