Mengapa Sekolah Kehilangan Kesaktiannya Untuk Membentuk Kepribadian Dan Karakter Anak (Sebuah Renungan)

Mengapa Sekolah Kehilangan Kesaktiannya Untuk Membentuk Kepribadian Dan Karakter Anak (Sebuah Renungan)

Contents [Show Up]

Mengapa Sekolah Kehilangan Kesaktiannya Untuk Membentuk Kepribadian Dan Karakter Anak (Sebuah Renungan)

Mengapa sekolah sekarang  sepertinya kehilangan kesaktiannya untuk membentuk kepribadian seseorang, karakter seseorang. Ini adalah sebuah pertanyaan dari banyak orang, dan hampir menjadi petanyaan semua Orang Tua. Saya hanya bisa menjawab pertanyaan ini semampu saya, sepengetahuan saya. Kira-kira jawabannya seperti ini.

Mengapa Sekolah Kehilangan Kesaktiannya Untuk Membentuk Kepribadian Dan Karakter Anak (Sebuah Renungan)

Dulu tidak ada orang sekolah setinggi sekarang ini, bahkan dikampung tidak ada yang hebat dan  berteori tentang pendidikan sedahsyat sekarang ini. Bisa dibilang teori pendidikan sekarang  mungkin sudah menyentuh langit ketujuh, tapi kita tidak sadar sebenarnya ada yang hilang yang disebut dengan barokah/keberkahan. Keberkahan bukan buatan manusia melainkan sebuah rahmat Allah Subhanahu wata’ala,  bukan sekolah yang membuat orang sukses, berhasil, menjadikan anak berkarakter, berakhlakul karimah, bukan sekolah yang menjadikan seorang anak berbakti pada orang tua, bukan sekolah yang menjadikan seorang anak tidak berbohong, bukan sekolah yang menjadikan seorang anak tidak nakal, bukan sekolah yang menjadikan seorang anak menurut dan patuh pada orang tua, bukan sekolah yang menjadikan seorang anak  berbuat melanggar hokum agama dan hokum Negara, berbuat anarkis dan jahat.  Tatapi Allahlah yang ada dibalik kesuksesan, keberhasilan, kebaikan seseorang dalam keberhasilannya.  Maksudnya, secara khusus Saya mengajak, mengingatkan anda yang berusia 40, 50 tahun keatas untuk mengingat, menengok sejenak kebelakang.


Ingat waktu kita sekolah di Sekolah Dasar, waktu nafas kita masih terengah-engah dan belum sempat beristirahat, kita sudah disuruh  membantu guru mengambil air,  bertani, membantu mencari batu, kayu dan pekerjaan guru, bahkan kita juga pernah menjaga dagangan guru, dan masih banyak sekali membantu dan melakukan pekerjaan yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan kurikulum sekolah.


Teori praktis  pendidikan saat ini akan berkata, bahwa pekerjaan pekerjaan yang dilakukan anak tersebut  tidak ada hubungannya dengan kurikulum, media pendidikan dan lain-lain (membantu guru mengambil air,  bertani, membantu mencari batu, kayu dan pekerjaan guru, bahkan kita juga pernah menjaga dagangan guru, dan masih banyak sekali lainnya). Kita disuruh oleh guru melakukan pekerjaan yang seakan tidak ada hubungannya dengan sekolah  dan kompetensi akademik.  Bukan itu saja bahkan mungkin kita juga pernah dijewer, dicubit, dipukul dengan mistar (penggaris), tuding (kayu panjang kira-kira 1 meter, kecil seukuran jari), sampai setengah hidup/ setengan mati menahan sakitnya. 


Di sinilah intinya, pernahkah orang tua, mengeluh dengan tugas tugas tadi, orang tua protes, orang tua melaporkan ke Polisi atas perbuatan guru, atas pukulan guru dengan jangka pelingkar yang ujungnya runcing, dengan mistar kayu, serta tuding yang menyengat kulit kita? Pernahkan orang tua kita melarang kita untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ”membantu guru, mengambil air, ke sawah bertani, mengambil kayu, mengambil batu, pasir dan lainnya” jawabanya “NO”, sama sekali, orang  tua tidak pernah melarang kita melakukan kegiatan tersebut, membantu seorang  guru, apapun bentuknya.


Inilah mata air yang mengalirkan keberkahan, atas kesabaran dan kepercayaan orang tua pada guru dan dunia persekolahan, Allah pun turun dengan tangannya . Dia membalas kesabaran, kebaikan hati orang tua, atas penghormatan terhadap guru dan eksistensi sekolahan yang mungkin dengan segala keterbatasannya. Tidak perlu pakai teori pendidikan, sebab orang tua kita tidak paham dengan teori pendidikan, tapi teori dan kehendak Allah yang berlaku yang dinamakan keberkahan. 


Boleh jadi kita telah jauh berjalan  tapi mari kita tengok kebelakang,  betapa hebatnya  pendidikan orang dulu, kebodohan guru zaman dulu dengan ekstrakurikulernya, dan kesabaran orang tua dengan tidakpahamannya mengenai teori pendidikan, rupanya mengusik Allah Subhanahu wata’ala untuk menurunkan rahmatNya, barokahNya. Atas berkah rahmat Allah, tidak hanya dirasakan oleh kita tapi juga dirasakan oleh orang tua, bahkan keberkahan dirasakan oleh anak didik, dan masyarakat lingkungan.


Kita lihat zaman sekarang  orang tua memenjarakan guru, anak memmfitnah guru, dicubit bilangnya ditempeleng, diajari katanya dicaci maki, diingatkan ujarnya dimarahi, dinasehati bilangnya dihina, ditegur ujarnya dipermalukan,  bagaimana mungkin berkah Alloh bisa datang. 


Anda yang berumur 40, 50, 60 tahun, pernah kita melakukan ini…? bahkan kita mungkin berbohong pada orang tua hanya untuk melindungi Guru, kalau perlu orang tua tidak perlu tahu apapun keadaannya, tidak ada rasa dendam dihati kita. Itulah sebabnya diakhir sekolah kita dulu selalu meneteskan air mata kebahagiaan.


Semoga sekolah sekarang ini bisa menciptakan anak didik dan generasi penerus seperti sekolah zaman dulu. Mari kita sebagai orang tua menjadi tauladan bagi anak anak kita dengan selalu menjaga, mengajak  dan berbuat kebaikan dengan selalu mengharap ridha dan barokah  rahmat dari Allah subhanahu wata’ala, berjalan dan berusaha di rell dan jalan yang lurus, mencari rizqi dengan jalan halal dan rizqi yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala..Semoga Kita selalu mendapat hidayah dan petunjukNya..aamiin

Post a Comment