Contoh PTK Matematika Kelas 6 Peningkatan Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar Untuk Siswa Kelas VI Sekolah Dasar/Madrasah

Contoh PTK Matematika Kelas 6 Peningkatan Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar Untuk Siswa Kelas VI Sekolah Dasar/Madrasah

Contents [Show Up]
Contoh PTK Matematika Kelas 6 Peningkatan  Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar Untuk Siswa Kelas VI  Sekolah Dasar/Madrasah
Dahlan.  2019. Menghitung Luas Segi Banyak bagi siswa terkadang menjadi satu hal yang membingungkan dan kesulitan, karenanya, Upaya  Peningkatan  Kemampuan  Menghitung    Luas  Segi
Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar Untuk Siswa Kelas VI Seolah Dasar/Madrasah....dirasa perlu untuk dilaksanakan Penelitian tindakan Kelas sesuai dengan refleksi dan keadaan yang ada.
 Contoh PTK Matematika Kelas 6 Peningkatan  Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar Untuk Siswa Kelas VI  Sekolah Dasar/Madrasah
Kata Kunci: Menghitung Luas Segi Banyak 
Melihat  KKM  yang  ditentukan  (60)  ternyata  hasil  belajar  siswa  belum
memenuhi  harapan,  masih  banyak  siswa  yang  belum  tuntas  (40%).  Hal  ini
disebabkan  karena  guru  masih  menggunakan  metode  ceramah  dan  belum
menggunakan  alat  peraga.  Jika  hal  ini  dibiarkan  terus  menerus  akan  membuat
prestasi  siswa  akan  semakin  menurun,  sehingga  perlu  dipecahkan.      Untuk  itu
perlu  diadakan  penelitian  tindakan  kelas  yang  memanfaatkan  alat  peraga  dalam
rangka memperbaiki masalah di atas dengan rumusan   masalah   sebagai   berikut:
bagaimana  memanfaatkan    alat    peraga    untuk    meningkatkan    hasil    belajar 
matematika pada semester I tahun pelajaran 2018 / 2019.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam
dua siklus yang meliputi kegiatan perencyang ditempuh : (1). Menentukan metode.
Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ). (2). Tindakana
Penelitian. Tindakan penelitian yang dilakukan 2 siklus, yaitu siklus I dan siklus II.
Tindakan  setiap  siklus  terdiri  atas  :  1).  Perencanaan,  mencakup  appersepsi,
kegiatan inti, dan penutup. 2). Tindakan penelitian. 3). Pengamatan tindakan. 4).
Refleksi.

Analisis  data  yang  digunakan  berupa  analisis  deskripsi  komparatif,  yaitu
membandingkan  nilai  tes  kondisi  awal,  nilai  tes  setelah  siklus  I,  dan  nilai  tes
setelah  siklus  II.  Untuk  analisis  data  kualitatif  dipergunakan  analisis  deskripsi
kualitatif berdasarkan hasil pengamatan.

Hasil penelitian yang dilakukan (1). Proses pembelajaran pada kondisi awal
siswa  pasif  dan  tidak  kreatif.  Pada  kondisi  akhir  terdapat  peningkatan  keaktifan
dan  kreatifitas  siswa.  (2).  Hasil  belajar  pada  kondisi  akhir  terdapat  peningkatan
daripada  hasil  belajar  pada  kondisi  awal,  dari  nilai  rerata  50,95  menjadi  81,90
meningkat 54.12 %.


D A F T A R  I S I
ABSTRAK....................................................................................................   ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................   iii
DAFTAR ISI.................................................................................................   iv
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................   1
1.1 Latar Belakang Masalah....................................................................   1 
1.2 Identifikasi Masalah..........................................................................   2
1.3 Rumusan Masalah.............................................................................   3
1.4 Tujuan Penelitian  .............................................................................   3
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................   3
BAB II KAJIAN PUSTAKA........................................................................   5
2.1 KajianTeori  ......................................................................................    5
2.2 Kerangka Berpikir ............................................................................   20
2.3 Hipotesis Tindakan  ..........................................................................       21
BAB III METODE PENELITIAN. ..............................................................   22
3.1 Setting dan Subjek Karakteristik.......................................................     22
3.2 Variabel yang Diselidiki ...................................................................   23
3.3 Prosedur Penelitian ........................................................................... .  23
3.4 Data dan Cara Pengumpulannya.......................................................   25
3.5 Indikator Kinerja ..............................................................................   26
3.6 Analisis / Interpretasi Data Penelitian...............................................   26
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............................   27
4.1 Pelaksanaan Tindakan......................................................................   27
4.2 Hasil Analisa Data ...........................................................................   28
4.3  Pembahasan.....................................................................................   33
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN............................................................   35
5.1 Simpulan ..........................................................................................   35
5.2 Saran.................................................................................................   35
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................         35
LAMPIRAN

BAB I 
PENDAHULUAN 

1.1  Latar Belakang   Masalah
Dalam  rangka  meningkatkan  prestasi  belajar  siswa,  telah  banyak  upaya
dilakukan  untuk  memperbaiki  aspek-aspek  yang  berkaitan  pembelajaran.
Perbaikan itu meliputi tujuan, kurikulum, pelaksanaan pembelajaran,evaluasi, dan
kwalitas guru.

Berkaitan dengan perbaikan tujuan dan kurikulum dilakukan setiap
ada  pembaruan  perangkat  kurikulum  baru  yang  saat  ini  sedang  diterapkan
Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP).Sedangkan  yang  menyangkut
pelaksanaan pembelajaran meliputi perbaikan terhadap strategi maupun metode.
Namun kenyataan ini hasil belajar Matematika siswa-siswi Sekolah Dasar/madrasah…. .........
masih  rendah.  Melihat  KKM  yang  ditentukan  (60)  ternyata  belum  memenuhi
harapan, masih banyak siswa yang belum tuntas mencapai 40% Hal ini merupakan
suatu masalah yang memerlukan teknik pemecahannya.

Berhubung belum semua siswa memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan
Minimal ( KKM ) maka diadakan perbaikan. Dari hasil belajar yang masih rendah
inilah, maka  termotivasi untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Hasil  belajar  matematika    rendah  tentu  ada  penyebabnya.  Sebelum
melakukan  penelitian,  proses  pembelajaran  yang  dilakukan  dengan  metode
ceramah dan pemberian contoh serta pemberian tugas.  Dengan metode demikian
ternyata  hasilnya  rendah.  Penyebabnya  yang  dianggap  dominan  yaitu  belum
memanfaatkan/menggunakan  alat  peraga  sebagai  media  proses  pembelajaran.

Proses pembelajaran hanya mengutamakan segi teoritis saja, sehingga siswa cepat
lupa,  bahkan  tidak  mengerti  maksudnya.  Dari  kenyataan  itu  perlu  adanya
perbaikan metode dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan alat peraga
sebagai  media  pembantunya.  Alat  peraga  yang  ingin  digunakan  harus  sesuai
dengan  materi  yang  diajarkan  Dengan  dilakukannya    Penelitian  Tindakan  Kelas
ini, besar harapan kiranya ada perubahan yang lebih baik dari pada sebelumnya,
baik  bagi  siswa  maupun  bagi  guru.  Harapan  bagi  siswa  adalah  hasil  belajar
Matematika  dapat  meningkat.  Sedangkan  harapan  bagi  guru  adalah  sudah
memanfaatkan  alat  peraga,  sehingga  siswa  lebih  mudah  menerima  materi,  yang
pada  akhirnya  semua  siswa  bisa  tuntas  belajarnya,  berdasarkan  Kriteria
Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan yaitu 60..

Dari kenyataan itu, selaku guru merasa tidak berhasil dalam menyampaikan
materi  pelajaran  matematika.  maka  diperlukan  cara  pemecahan  masalah  dengan
melakukan  tindakan  dengan  memanfaatkan  alat  peraga  matematika  model
gabungan  bangun  datar  untuk  meningkatkan  hasil  belajar,  yang  nantinya  akan
dicatat sebagai Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).

1.2   Identifikasi Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  di  atas,  hanya  mengidentifikasi  satu  masalah,
yaitu    rendahnya  hasil  belajar  matematika  menghitung  luas  segi  banyak  yang
merupakan  gabungan  dari  beberapa  bangun  datar.  Hal  ini  dimaksudkan  agar
benar-benar terfokus pada satu masalah. Masalah yang ingin dipecahkan yaitu:
1.Hasil  belajar  Matematika  rendah kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran 
2.Guru mengajar hanya memberi contoh dan tugas karena kurang profesional melaksanakan PAKEM
3.Media alat peraga belum dimanfaat dengan baik. karena hanya mengejar materi saja

1.3  Rumusan Masalah
         Berdasarkan  latar  belakang,  identifikasi  masalah  di  atas,  maka    disajikan 
rumusan   masalah   sebagai   berikut: Apakah pemanfaatkan  alat  peraga bangun
datar  dapat  meningkatkan  hasil    belajar    matematika  siswa  kelas  VI  Sekolah dasar/Madrasah
......... pada Semester I tahun pelajaran 2018 / 2019.

1.4  Tujuan Penelitian 
         Yaitu meningkatkan hasil belajar Matematika menghitung luas segi   banyak
bagi  siswa  kelas  VI  Sekolah  Dasar  Negeri  .........  pada  semester  I  Tahun
Pelajaran 2018 / 2019.

1.5  Manfaat Penelitian
1.  Manfaat Teoritis
a.  Mendapatkan  pengetahuan  atau  teori  baru  tentang  hasil  belajar 
Matematika menghitung luas segi banyak yang merupakan gabungan
dari  beberapa  bangun  datar  melalui  pemanfaatan  alat  peraga  bagi
siswa  kelas  VI  Sekolah  Dasar  Negeri  .........  pada  Semester  I Tahun Pelajaran 2018 / 2019
b.  Dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.

2.  Manfaat Praktis
a.  Manfaat bagi siswa
1.  Mengetahui  dan  memahami  benar  cara  menghitung  luas  segi
banyak yang  merupakan gabungan dari beberapa bangun datar.
2.  Siswa menjadi tuntas belajarnya.
b.  Manfaat bagi guru
1.  Bisa  berhasil  dalam  memberikan  materi  pelajaran  Matematika           
khususnya    menghitung    luas    segi    banyak    yang  merupakan
gabungan dari beberapa   bangun datar.
2.   Hubungannya dengan profesi dapat menunjang karier. 
c   Manfaat bagi sekolah
1.  Tercpainya Standar Kompetensi Belajar Minimal ( SKBM ) mata
pelajaran  Matematika.
2.  Dengan kreatifitas guru menyediakan alat peraga bisa menambah
koleksi  alat peraga di Sekolah Dasar Negeri ..........
d.   Manfaat bagi perpustakaan sekolah
1.  Menambah koleksi buku non fiktif.
2.  Dapat digunakan sebagai referensi bagi yang memerlukan.

BAB  II 
KAJIAN PUSTAKA 
2.1  Kajian Teori
  Beberapa   teori   yang   ada   hubungannya   dengan  judul   Penelitian 
Tindakan  Kelas  kami  yaitu  Upaya  peningkatan  hasil  belajar  Matematika
menghitung  luas segi banyak yang merupakan gabungan dari beberapa bangun
datar melalui pemanfaatan alat peraga bagi siswa kelas VI sekolah Dasar Negeri
......... pada Semester I Tahun Pelajaran 2018 / 2019, yang kami peroleh dari
beberapa buku sebagai referensinya, yaitu:

2.1.1 Hakekat Belajar 
Ada  beberapa  pendapat  yang  dikemukakan  tentang  hakekat  /
pengertian belajar antara lain : 
a.   Menurut  Morgan  (  1986  )  belajar  didefinisikan  sebagai  setiap
perubahan      tingkah  laku  yang  relatif  tetap  dan  terjadi  sebagai  hasil
pengalaman  Definisi  ini.  Mencakup  tiga  unsur,  yaitu  :  (  1  ).  Belajar
adalah perubahan tingkah laku, ( 2 ). Perubahan tersebut terjadi karena
latihan  atau  pengalaman.  Perubahan  yang  terjadi  pada  tingkah  laku
karena kedewasaan bukan belajar, dan ( 3 ). Perubahan tersebut harus
relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.

b.    Menurut Snelbecker ( 1974 ) menyimpulkan devinisi belajar sebagai
berikut :   ( 1 ) Belajar harus mencakup tinglah laku . ( 2 ) Tingkah
laku tersebut harus berubah dari tingkat yang paling sederhana sampai
yang  kompleks.  (  3  )  Proses  perubahan  tingkah  laku  tersebut  harus
dapat dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal.

c.   Menurut  Gagne  (  1984  )  Belajar  adalah  suatu  proses  dimana  suatu
organisma  berubah  tingkah  lakunya  sebagai  akibat    pengalaman  (
Pusat  Penerbitan  Universitas  Terbuka,  2002  :  2.3  ).  Dari  pengertian
tersebut  terdapat  tiga  atribut  pokok  atau  ciri  utama  belajar,  yaitu  :
proses, perilaku, dan pengalaman, dengan pengertian sebagai berikut 

1.   Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan
merasakan.  Seseorang  dikatakan  belajar  apabila  pikiran  dan
perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat
diamati  orang  lain,  akan  tetapi  terasa  oleh  yang  bersangkutan.  Yang
dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai
akibat  dari  adanya  aktifitas  pikiran  dan  perasaan  pada  diri  siswa
tersebut.

2.   Perubahan Perilaku
Hasil  belajar  berupa  perubahan  perilaku  atau  tingkah  laku  seseorang
yang  belajar  akan  berubah  atau  bertambah  perilakunya,  baik  yang
berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai  sikap.

3.   Pengalaman
Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi
antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun
sosial.  Lingkungan  fisik  ,  misalnya  :buku,  alat  peraga,  alam  sekitar.
Lingkungan  sosial,  misalnya  :  guru,  siswa  pustakawan,  dan  Kepala Sekolah.

Belajar  bisa  melalui  pengalaman  langsung  maupun  melalui
pengalaman  tidak  langsung.  Belajar  melalui  pengalaman  langsung,
misalnya  siswa  belajar  dengan  melakukan  sendiri  dan  pengalaman
sendiri.  Belajar  melalui  pengalaman  tidak  langsung,  misalnya
mengatahui  dari  membaca  buku  ,  mendengarkan  penjelasan  guru.
Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik
karena  siswa  lebih  memahami,  lebih  menguasai  pelajaran  tersebut,
bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna.

d.   Menurut HM. Surya, belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh
Individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara   
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu iti sendiri dalam
interaksi  dengan  lingkungannya  (  Depdikbud  Universitas  Terbuka  , 1997:  8.3  ). 

Menurut  HM.  Surya  ada  keterkaitan  antara    pengertian  belajar dengan pengertian lain, misalnya :
1.  Belajar dan Pertumbuhan, Perkembangan dan Kematangan.
Dalam  proses  pertumbuhan,  perkembangan,  dan  kematangan,akan
terjadi  perubahan  tingkah  laku.  Akan  tetapi  perubahan  yang  terjadi
dalam ketiga pengertian itu tidak tergolong sebagai perubahan dalam
arti  belajar.  Perubahan  yang  terjadi  dalam  pertumbuhan,
perkembangan, dan kematangan akan terjadi dengan sendirinya karena
dorongan dari dalam secara naluriah. Proses belajar efektif apabila ada
persesuaian  dengan  proses  pertumbuhan,  perkembangan,  dan
kematangan. Sebaliknya proses pertumbuhan dan perkembangan akan
berlangsung dengan baik apabila disertai dengan belajar.

2.  Belajar dan Menghafal
Antara  belajar  dan  menghafal  ada  keterkaitan.  Belajar  mempunyai
pengertian  lebih  luas  daripada  menghafal.  Dalam  menghafal
perubahan  tingkah  lakunya  hanya  terbatas  dalam  penyimpanan  dan
pengeluaran  informasi  dalam  kesadaran  (  otak  ).  Sedangkan  dalam
belajar perubahan tingkah lakunya mencakup keseluruhan. Menghafal
hanya  salah  satu  aspek  saja  dari  tingkah  laku    kognitif,  dan  belum
mencakup tingkah laku lainnya.

3.   Belajar dan Latihan
Belajar  dan  latihan  mempunyai  keterkaitan  meskipun  tidak  identik
Dalam belajar dan dalam latihan akan terjadi perubahan   tingkah laku.
Aspek  tingkah  laku  yang  berubah  karena  latihan  adalah  perubahan 
dalam bentuk skil atau ketrampilan.

4.   Belajar dan Studi 
 Dalam  aktifitas  studi,  perubahan  tingkah  laku  yang  terjadi  adalah 
aspek  pengetahuan  (  knowledge  )  dan  pemahaman  (understanding)
Aktifitas  studi  merupakan  bagian  dari  aktifitas  belajar  secara
keseluruhan.

5.  Belajar dan Berpikir
Ada keterkaitan antara belajar dan berpikir. Berpikr merupakan proses
kognitif dalam tingkah laku yang lebih tinggi. Dalam berpikir individu
akan  menggunakan  berbagai  informasi  yang  dimilikinya  untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya. Untuk dapat berpikir secara
efektif seseorang harus menguasai sejumlah informasi ( fakta, konsep,
generalisasi, prinsip, teori, dan sebagainya ), Informasi yang dimiliki
seseorang diperoleh melalui belajar.

Teori-teori  belajar  Matematika  dalam  pembelajaran  Matematika, 
banyak dikemukakan oleh para ahli Matematika, antara lain :
1.  Teori Belajar Bruner
Jeromi  S.Bruner  telah  menulis  hasil  studinya  tentang  perkembangan
belajar,  yang  merupakan  suatu  cara  untuk  mendevinisikan  belajar.  Bruner
menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal
peristiwa  atau  benda  di  dalam  lingkungannya,  menemukan  cara  untuk
menyatakan  kembali  peristiwa  atau  benda  tersebut  di  dalam  pikirannya,
yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau  dikenalnya.
Menurut  Bruner  hal-hal  tersebut  dapat  dinyatakan  sebagai  proses  belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :

a.   Tahap Enaktif atau Tahap Kegiatan ( Enactif )
  Tahap  pertama  anak  belajar  konsep  adalah  berhubungan  dengan
benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Anak
masih  dalam  gerak  refleks  dan  coba-coba,  memanipulasikan,
menyusun,  menjejerkan  mengutak  atik,  dan  bentuk-bentuk  gerak  lainnya.

b.  Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Bayangan ( Iconik )
  Pada  tahap  ini  anak  telah  mengubah,  manandai,  dan  menyimpan
peristiwa- peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental.

c.  Tahap Simbolik ( Symbolic )
  Pada  terakhir  ini,  anak  dapat  mengutarakan  bayangan-  bayangan
mental tersebut dalam bentuk simbul dan bahasa.

2.  Teori Belajar Dienes
         Teori belajar Matematika menurur Dienes ada enam tahapan, yaitu :
a.   Tahap  1.  Bermain  Bebas  (  Free  Play  )  Pada  tahap  ini  anak-anak
bermain  bebas  tanpa  diarahkan  dengan  menggunakan  benda-banda
Matematika kongkret.

b.   Tahap  2.  Permainan  (  Games  )  anak  mulai  mengamati  pola  dan
keteraturan  yang  terdapat  dalam  konsep  melalui  permainan,  siswa
diajak  untuk  mulai  mengenal  dan  memikirkan  struktur-struktur
Matematika, untuk menolong anak bersifat logis dan matematis.

c.  Tahap 3. Penelaahan Kesamaan Sifat ( Searching For Comunities )
siswa  mulai  diarahkan  dalam  kegiatan  menemukan  sifat-sifat
kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.

d.  Tahap  4.  Representasi  (  Reprecentation  )  siswa  mulai  belajar
membuat  pernyataan  atau  representasi  tentang  sifat-sifat  kesamaan
suatu  konsep  matematika  yang  diperoleh  pada  tahap  penelaahan
kesamaan sifat. Representasi bisa dalam bentuk gambar,diagram, atau
verbal ( dengan kata-kata atau ucapan )

e.  Tahap 5. Simbolik ( Symboloc ) siswa perlu menciptakan simbol
matematika  atau  rumusan  verbal  yang    cocok  untuk  menyatakan
konsep  yang  representasinya  sudah  diketahui  pada  tahap  keempat.
Simbol  segitiga  adalah  ∆  .  Simbol  angka  satu    adalah  1,  dan
seterusnya. 

f.  Tahap  6.  Formalisasi  (Formalitation)  siswa  belajar
mengorganisasikan  konsep-konsep  mem,bentuk  secara  formal,  dan
harus  sampai  pada  pemahaman  aksioma,  sifat,  aturan,  dalil  sehingga
menjadi struktur dari sistem yang dibahas.

3.  Teori Belajar Van Hiele
  Teori belajar menurut Van Hiele ada lima tahapan, yaitu :
a.  Tahap 1. Pengenalan siswa mulai belajar mengenal suatu bangun
geometri  secara  keseluruhan,  tetapi  ia  belum  mampu  mengetahui
adanya sifat-sifat dari bangun geometri yang dilihatnya itu.
b.  Tahap  2.  Analisis  siswa  sudah  mulai  mengenal  sifat-sifat  yang
dimiliki bangun geometri yang diamati.
c.  Tahap 3. Pengurutan siswa sudah mengenal dan memahami sifat-
sifat  suatu  bangun  geometri  yang  satu  sama  lainnya  saling
berhubungan.
d.   Tahap 4. deduktif siswa telah mampu menarik kesimpulan secara
deduktif, yaitu menarik kesimpulan yang bersifat umum dan menuju
ke hal-hal yang bersifat khusus.
e.  Tahap  5.  Akurasi  siswa  sudah  mulai  menyadari  pentingnya
ketepatan prinsip-prinsip dasar yamg melandasi suatu pembuktian.

2.1.2 Hakekat Hasil Belajar
Hasil belajar didevinisikan sebagai berubahnya tingkah laku seseorang 
yang telah mengalami belajar ( HM. Surya, 1997 : 8.3 ) Perubahan tingkah
laku sebagai hasil belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a.  Perubahan  yang  disadari,  artinya  individu  yang  malakukan  proses
belajar  menyadari  bahwa  pengetahuannya  telah  bertambah,
ketrampilan  telah  bertambah,  ia  lebih  yakin  terhadap  dirinya,  dan
sebagainya

b.  Perubahan yang bersifat kontinu ( berkesinambungan ), artinya suatu
perubahan  yang  terjadi,  menyebabkan  terjadinya  perubahan  tingkah
laku yang lain. Misalnya seorang anak yang telah belajar menghitung,
akan  berubah  tingkah  lakunya  dari  tidak  dapat  menghitung  menjadi
dapat menghitung.
c.  Perubahan  yang  bersifat  fungsional,  artinya  perubahan  yang  telah
diperoleh  sebagai  hasil  belajar  memberikan  manfaat  bagi  individu
yang  bersangkutan.  Misalnya,  kecakapan  dalam  berhitung
memberikan manfaat untuk berdagang.
d.  Perubahan  yang  bersifat  positif,  artinya  terjadi  pertambahan
perubahan  dalam  diri  individu.  Perubahan  yang  diperoleh  itu
senantiasa  bertambah,  sehingga  berbeda  daengan  keadaan
sebelumnya.  Orang  yang  telah  belajar  akan  merasakan  ada  sesuatu
yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih luas dalam dirinya.
e.  Perubahan  yang  bersifat  aktif,,  artinya  perubahan  itu  tidak  terjadi
dengan sendirinya, tetapi melalui aktifitas individu.
f.  Perubahan  yang  bersifat  permanen  (  menetap  ),  artinya  perubahan
yang terjadi sebagai hasil belajar akan berada secara kekal di dalam
diri  individu,  setidak-tidaknya  untuk  masa  tertentu.  Misalnya
kecakapan membaca, menulis, berhitung. Sedangkan perubahan yang
bersifat  sementara  bukan  hasil  belajar,  misalnya  sakit,  menangis,
berkeringat, mabuk, bersin.
g.  Perubahan  yang  bertujuan  dan  terarah,  artinya  perubahan  itu  terjadi
karena  ada  sesuatu  yang  akan  dicapai.  Dalam  proses  belajar  semua
aktifitas  terarah  kepada  pencapaian  suatu  tujuan  tertentu.  Misalnya
seorang  individu  belajar  Matematika  dengan  tujuan  agar  ia  dapat
berhitung dengan lancar.

2.1.3 Hakekat Matematika 
Ada  beberapa  hakekat  atau  devinisi  tentang  pengertian  Matematika,
yaitu
a.   Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Matematika
adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan
prosedur  operasional  yang  digunakan  dalam  penyelesaian  masalah
mengenai bilangan   Depdikbud, 1993 : 566 )

b.  Matematika  adalah  ilmu  deduktif,  aksiomatik,  formal,  hirarkis,
abstrak, bahas simbol yang padat arti, dan semacamnya ( Karso, 2002 : 1.4 )
Mengingat  adanya  perbedaan  karakteristik,  maka  diperlukan  adanya
kemampuan  khusus  dari  seorang  gura\u  untuk  menjembatani  antara
dunia anak yeng belum berpikir secara deduktif untuk mengerti dunia  Matematika yang bersifat deduktif.
Dari  dunia  Matematika  yang  merupakan  sebuah  sistem,  yang  dedukrtif  telah  mampu  mengembangkan  model-model  yang  merupakan contoh dari sistem ini. Model-model Matematuika sebagai  inpretasi  dari  sistem  Matematika  ini  kemudian  ternyata  dapat  digunakan untuk mengatasi persolan-persoalan dunia nyata. Manfaat  lain yang menonjol adalah dengan Matematika dapat membentuk pola  orang yang mempelajarinya menjadi pola pikir matematis, logis, kritis  dengan penuh kecermatan. Namun sayangnya, pengembangan sistem  atu model Matematika itu tidak selalu sejalan dengan perkembangan  berpikir  aanak,  teruatama  pada  anak  usia  Sekolah  Dasar.  Apa  yang  dianggap  logis  dan  jelas  bagi  para  ahli,  merupakan  hal  yang  tidak  masuk  akal  dan  emembingungkan  bagi  anak-anak.  Hal  ini  pulalah  yang menyebabkan pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar selalu  menarik untuk dibicarakan
 
Matematika  bagi  siswa  Sekolah  Dasar  berguna  untuk  kepentingan
hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirannya,
dan  untuk  mempelajari  ilmu-ilmu  yang  kemudian.  Kegunaan  atau
manfaat  Matematika  bagi  siswa  Sekolah  Dasar  adalah  sesuatu  yang
jelas  yang  tidak  perlu  dipersoalkan  lagi.  Lebih-leboih  pada  era
pengembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  dewasa  ini.
Persoalannya  sekarang  adalah  materi-materi  mana  yang  diperlukan
untuk anak-anak Sekolah Dasar, dan bagaimana cara mempelajarinya.

c.  Istilah  Matematika  berasal  dari  bahasa  Yunani,  yiatu  matheinatau
manthenein,  yang  artinya  mempelajari.  Namun  diduga  kata  itu  erat
hubungannya  dengan  kata  Sansekerta  Medha  atau  wydya,  yang
artinya  kepandaianketahuan  atau  intelgensi  (  Andi  Hakim  Nasution,  1980 : 12 ).

d.  Matematika  itu  terorganisaikan  dari  unsur-unsur  yang  tidak
didevinisikan,  devinisi-devinisi,  aksioma-aksioma,  dan  dalil-dalil
dimana  setelah  dalil-dalil  dibuktikan  kebenarannyaberlaku  secara
umum,  karena  itulah  Matematika  sering  disebut  ilmu  deduktif  (  Russeffendi, 1989 : 23 ).

e.  Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian
yang  logik,  bahasa  yang  menggunakan  istilah  didevinisikan  dengan
cermat,  jelas  dan  akurat  representasinya  dengan  simbol  dan  padat,
lebih  dari  bahasa  simbol  daripada  bunyi.  Matematika  adalah
pengetahuan  berstruktur  yang  terorganisasi,  sifat-sifat  atu  teori-teori
dibuat  secara  deduktif  berdasarkan  kepada  unsur  yang  tidak
didevinisikan,  aksioma,  sifat  teori  yang  telah  dibuktikan
kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan,atau
ide,  dan  Matematika  itu  adalah  suatu  seni,  keindahannya  terdapat 
pada keterurutan dan keharmonisannya ( Johnson dan Rising, 1972).

f.  Matematika  adalah  telaahan  tentang  pola  dan  hubungan  suatu  jalan
atau  pola  berpikir,  suatu  seni,  suatu  bahasa,  dan  suatu  alat  (  Reys,  1984 ).

g.   Matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna
karena  dirinya  sendiri,  tetapi  keberadaannya  itu  terutama  untuk
membantu  manusia  memahami  dan  menguasai  permasalahan  sosial,
ekonomi, dan alam.
Berdasarkan pernyataan para ahli Matematika di atas, dapat dikatakan
bahwa  Matematika  merupakan  suatu  ilmu  yang  bberhubungan  dengan
penelaahan  bentuk-bentuk  atau  struktur-struktur  yang  abstrak  dan
hubungan-hubungannya  diperlukan  penguasaan  tentang  konsep-konsep
yang terdapat dalam Matematika. Hal ini berarti belajar Matematika adalah
belajar konsep dan strutur yang terdapat dalam bahan-bahan yang sedang
dipelajari, serta mencari hubungan diantara konsep dan struktur tersebut (  Karso, 2002 : 1.40 )

Matematika  disebut  ilmu  deduktif,  karena  metode  dalam  pencarian
kebenaran dalam Matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan umumnya.
Metode pencarian yang dipakai oleh Matematika adalah deduktif. Sedang
ilmu opengetahuan alam adalah induktif atau eksperimen.

Konsep-konsep  dalam  pembelajaran  Matematika  di  Sekolah  Dasar  yaitu:
1.  Konsep Dasar
  Konsep  dasr  dalam  mempelajari  Matematika  merupakan  materi-
materi  atau  bahan-bahan  dan  sekumpulan  bahasan,  dan  umumnya
merupakan  meteri  baru    bagi  para  siswa  yang  mempelajarinya.
Konsep  dasar  ini  merupakan  konsep-konsep  yang  pertama  kali
depelajari siswa dari sejumlah konsep yang diberikan.

2.  Konsep Yang Berkembang
  Konsep  yang  berkembang  dari  konsep  dasar  merupakan  sifat  atu
penerapan  dari  konsep-konsep  dasar.  Konsep  yang  berkembang  ini
merupakan  kelanjutan  dari  konsep  dasar  dan  dalam  mempelajarinya
memerlukan pengetahuan tenytang konsep dasar.

3.  Konsep Yang Harus Dibina Ketrampilannya.
  Konsep yang termasuk ke dalam konsep ini dapat merupakan konsep-
konsep dasar atau konsep-konsep yang berkembang. Konsep-konsep
jenis ini perlu mendapat perhatian dan pembinaan dari guru, sehingga
para  siswa  mempunyai  ketrampilan  dalam  menggunakan  atau
menampilkan  konsep-konsep  dasar  atau  konsep-konsep  yang  berkembang.

2.1.4 Hakekat Segi Banyak. 
Segi banyak adalah suatu kurva sederhana tetutup yang dibentuk oleh
atau  terdiri  dari  segmen  garis-segmen  garis  (  Mukhtar  A.  Karim,  2003  :  1.24  ). 
Segmen  garis-segmen  garis  yang  telah  membentuk  segi  banyak
tersebut  dinamakan  sisi.  Segi  banyak  mempunyai  paling  sedikit  tiga  sisi.
Segi  banyak  dengan  tiga  sisi  dinamakan  segitiga.  Segi  banyak  dengan
empat sisi dinamakan segi empat, segi banyak dengan lima sisi dinamakan
segi  lima,  dan  begitu  seterusnya.  Apabila  sisi  dan  sudut  segi  banyak  itu
berukuran  sama,  segi  banyak  tersebut  dinamakan  segi  banyak  beraturan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini :
Segitiga  segi empat       segi lima    segi enam

Segitiga merupakan  segi banyak  yang paling  dasar.  Segi  banyak  ini
mempunyai  tiga  sisi  dan  dapat  dibedakan  dari  sisi-sisi  atau  sudut-sudut
yang membentuknya. Segitiga dengan dua sisi yang sama panjang disebut
segitiga  sama  kaki.  Segitiga  dengan  tiga  sisinya  sama  panjang  disebut
segitiga  sama  sisi.  Segitiga  yang  mempunyai  sudut  siku-siku  disebut
segitiga siku-siku.

a.   Segi  banyak  berikutnya  adalah  segi  empat.  Segi  empat  adalah
merupakan  bentuk  segi  banyak  yang  paling  banyak.  Segi  empat
mempunyai  empat  sisi  yang  membentuk  empat  sudut.  Beberapa
bentuk  segi  empat  adalah  :  persegi,  persegi  panjang,  jajar  genjang,
layang-layang,  belah  ketupat,  dan  trapesium.Untuk  membedakan
macam-macam  bentuk  segi  empat  tersebut  dapat  dilihat  sifat-sifat
yang mungkin terdapat pada segi empat tersebut 
Sudut-sudutnya merupakan sudut siku-siku atau bukan. yaitu:

b.  Sisi-sisi yang berhadapan sejajar atau tidak.
c.  Sisi-sisinya mempunyai panjang sama atau tidak.
Persegi adalah segi empat dengan empat sisi sama panjang  dan empat
sudutnya  siku-siku.  Persegi  panjang  adalah  segi  empat  dengan  empat
sudutnya siku-siku. Jajar genjang adalah segi empat dengan dua pasang sisi
yang  berhadapan  sejajar.  Layang-layang  adalah  segi  empat  dengan    dua
pasang  sisi  yang  berdekatan  sama  panjang.  Trapesium  adalah  segi  empat

dengan  tepat  satu  pasang  sisinya  sejajar.  Untuk  lebih  jelasnya  perhatikan
gambar di bawah ini :

Persegi                     Persegi panjang                    jajar genjang
Layang-layang             Belah ketupat                      Trapesium 

2.1.5 Hakekat Bangun Datar
Bangun  datar  merupakan  salah  satu  pokok  bahasan  yang  sangat
penting  baik  dalam  mempelajari  geometri  maupun  penggunaannya  dalam
kehidupan  sehari-hari.  Bangun  datar  sangat  dibutuhkan  sebagai  prasarat
untuk mempelajari bangun ruang.
Bangun datar meliputi titik, garis, ruas garis, sinar, sudut, kurva dan
jenisnya, segi banyak, lingkaran dan tangram. Dalam kehidupan sehari-hari
bangun datar banyak ditemukan, misalnya kusen pintu ruang kelas, sisi atau
tepi papan tulis, sisi atau tepi tegel, dan sebagainya.

2.1.6 Hakekat Alat Peraga. 
Berbicara alat peraga sebagai media pendidikan dan pengajaran dapat
dilihat  dalam  pengertian  yang  luas  maupun  terbatas.  Berbagai  sudut
pandang,  maksud  dan  tujuan  tertentu  menyebabkan  timbulnya  berbagai
macam  pengertian  tentang  alat  peraga.  Berbagai  pendapat  para  ahli
pendidikan yang menjelaskan pengertian  alat peraga antara lain :

a.   Gagne,  menempatkan  alat  peraga  sebagai  komponen  sumber.  Alat
peraga didevinisikan sebagai komponen sumber belajar di lingkungan
siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
b.   Briggs,  berpendapat  harus  ada  sesuatu  untuk  mengkomunikasikan
materi atau pesan kurikuler supaya terjadi proses belajar. Karena alat
peraga didevinisikan  sebagai  wahana  fisik  yang  mengandung  materi
pembelajaran.
c.  Wilber  Schramm,  melihat  alat  peraga  dalam  pendidikan  sebagai
teknik  untuk  menyampaikan  pesan.  Menurutnya  alat  peraga  adalah
teknologi pembawa informasi atau pesan pembelajaran.
d.   Yusup  Hadi  Miarso,  melihat  alat  peraqga  secara  makro  dalam
keseluruhan sistem pendidikan, sehingga devinisinya berbunyi segala
sesuatu yang dapat merangsang proses terjadinya proses belajar.
Terlepas dari ragamnya pengertian alat peraga, secara umum devinisi
dari      alat  peraga  adalah  segala  sesuatu  (  benda,  model,  gambar,  gerak  )
yang  digunakan  guru  dalam  proses  belajar  mengajar  yang  dapat
merangsang  siswa  untuk  mempermudah  atau  memperjelas  dalam  penyampaian materi.

Tujuan, fungsi, dan manfaat alat peraga. 
1.  Tujuan penggunaan alat peraga.
a.  Memperjelas informasi atau pesan pembelajaran.
b.   Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting.
c.   Memberi variasi dalam pembelajaran.
d.   Memperjelas struktur pengajaran.
e.   Memotivasi belajar.
2.  Fungsi alat peraga 
Alat  peraga  sebagai  alat  bantu  dalam  proses  pembelajaran  memiliki
fungsi  yang  jelas,  yaitu  memperjelas,  memudahkan  siswa  dalam
memahami konsep, prinsip atau teori, dan membuat pesan kurikulum
yang  akan  disampaikan  kepada  siswa  menarik,  sehingga  motivasi
belajar  siswa  meningkat  dan  proses  belajar  akan  lebih  efektif  dan efisien.

3.  Manfaat Alat Peraga 
Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran sangat bermanfaat, 
baik bagi siswa maupun bagi guru.
a.   Manfaat bagi siswa 
1. Dapat meningkatkan motivasi belajar
2. Dapat menyediakan variasi belajar
3.Dapat memberikan gambaran struktur yang memudahkan belajar
4. Dapat memberikan contoh yang efektif
5. Dapat merangsang berpikir analisis
6.Dapat memberikan situasi belajar yang tanpa beban atau tekanan

b.   Manfaat alat peraga bagi guru, yaitu :
1.Dapat  digunakan  bagi  guru  dalam  merumuskan  tujuan
pembelajaran
2. Dapat memberikan sistematika mengajar
3. Dapat memudahkan kendali pengajaran
4. Dapat membangkitkan rasa percaya diri dalam mengajar
5. Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran

2.1.7 Alat Peraga Bangun Datar  
Suatu  hal  yang  perlu  mendapat  perhatian  adalah  teknik  penggunaan
alat  peraga  dalam  pembelajaran  matematika  secara  tepat.  Untuk  itu  perlu
dipertimbangkan kapan digunakan dan jenis alat  peraga mana yang  sesuai
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar dapat memilih dan menggunakan
alat  peraga  sesuai  dengan  tujuan  yang  akan  dicapai  dalam  pembelajaran,
maka  perlu  diketahui  fungsi  alat  peraga. 

Fungsi  alat  peraga  bangun  datar adalah: 
1.   Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika bangun datar. 
2.   Sebagai media dalam memantapkan pemahaman konsep bangun datar. 
3.   Sebagai media untuk menunjukan hubungan antara konsep matematika 
dengan  dunia  di  sekitar  kita  serta  aplikasi  konsep  dalam  kehidupan nyata

2.2   Kerangka Berpikir
Agar  upaya  peningkatan  hasil  belajar  Matematika  menghitung  luas  segi
banyak yang merupakan gabungan dari beberapa bangun datar bagi siswa kelas
VI Sekolah Dasar Negeri ......... pada Semester I Tahun Pelajaran 2018 / 2019
dapat  tercapai,  maka  terlebih  dahulu  ditentukan  alur  tindakan  atau  kerangka
berpikir  yang  akan  dilakukan  dalam  Penelitian  Tindakan  Kelas  ini.  Tujuannya
agar  tahapan  tindakan  yang  dilakukan  benar-benar  terarah  dan  tepat  sasaran.
Agar  lebih  jelas  alur  tindakan  atau  kerangka  berpikir  tersebut,  digambarkan
seperti di bawah ini.
Kerangka Peningkatan  Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar
2.3  Hipotesis Tindakan           
Berdasarkaan kajian teori dan kerangka berpikir, melalui pemanfaatan
alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar Matematika menghitung luas
segi banyak yang merupakan gabungan dari beberapa bangun datar. 

BAB III 
METODE  PENELITIAN 

3.1   Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian  Tindakan  Kelas  ini  dilakukan  di  Sekolah  Dasar  Negeri
............,  Kecamatan  ............,  Kabupaten  .............  Di  Sekolah
Dasar  Negeri  .........  inilah  penulis  mengajar,  dan  merupakan  satu-
satunya  sekolah  yang  ada  di  desa  .............  Lokasinya  ujung  barat  laut
wilayah  Kecamatan  ............  berbatasan  dengan  wilayah
Kecamatanm  .............  Jarak  dari  desa  ............  lebih  kurang  4
km. Sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan. Hanya sebagian kecil
dataran  berupa  sawah  tadah  hujan.  Perumahan  penduduk  kebanyakan  di
dataran  tinggi.  Lokasi  Sekolah  Dasar  Negeri  .........  di  samping
persimpangan  jalan  dan  merupakan  jantung  Desa  ..........  Kebetulan
lokasinya  di  dataran  rendah.  Karena  tanah  untuk  mendirikan  gedung
sekolah adalah sawah.

Sekolah  dasar  Negeri  .........  memiliki  dua  gedung  yang
dipisahkan  oleh  jalan  desa  yang  membujur  ke  barat  dan  timur.  Gedung
sebelah  selatan  terdiri  dari  kantor,  ruang  kelas  IV,  ruang  kelas  V,  ruang
kelas VI, dan WC. Gedung sebelah utara terdiri dari ruang kelas I, ruang
kelas II, dan ruang kelas III. Kelas yang diteliti adalah kelas VI, karena :
1.  Kelas  VI  mempunyai  masalah  yang  perlu  depecahkan,  yaitu  hasil
belajar  Matematika  menghitung  luas    segi  banyak  yang  merupakan
gabungan dari beberapa bangun datar rendah.
2.  Peneliti  sebagai  kepala  sekolah  bekerja  sama  dengan  guru  kelas  VI
untuk melaksanakan pembelajarannya.

Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) tentang usaha meningkatkan hasil
belajar  Matematika  menghitung  segi  banyak  yang  merupakan  gabungan
dari  beberapa  bangun  datar  melalui  pemanfaatan  alat  peraga  bagi  siswa
kelas VI Sekolah dasar Negeri ......... pada Semester I Tahun Pelajaran
2018 / 2019 dilakukan dalam waktu dua bulan, yaitu mulai bulan Nopember
2009 sampai dengan bulan Desember 2009, karena  merupakan hari efektif
masuk sekolah dan sesuai dengan program Semester.

Subyek  yang  digunakan  sebagai  pendukung  Penelitian  Tindakan
Kelas  ini  adalah  siswa  kelas  VI  Sekolah  Dasar  Negeri  .........  pada
Semester I Tahun Pelajaran 2018 / 2019, sejumlah 21 siswa terdiri dari laki-
laki 11 anak, perempuan 10 anak. Ini merupakan jumlah siswa terkecil kelas
VI  Sekolah  Dasar  Negeri  .........  dibanding  tahun-tahun  yang  telah
lalu,yang jumlahnya di atas 21, bahkan pernah mencapai 40 lebih.

3.1   Variabel yang Diselidiki
Variabel  dalam  penelitian  adalah  hasil  belajar  Matematika  dengan
pokokbahasan  menghitung  luas  segi  banyak  menggunakan  alat  peraga  bangun
datar pada siswa kelas VI Sekolah Dasar/Madrasah.... ......... Kecamatan ............ Kabupaten
............ tahun pelajaran 2018 / 2019

3.3  Prosedur Penelitian
  Tindakan penelitian dilakukan dalam dua siklus, yaitu :
3.3.1 Siklus I meliputi :
1.   Perencanaan
a.   Appersepsi
Guru  menanyakan  kepada  siswa  tentang  ulangan  Matematika
menghitung  luas  dari  beberapa  bangun  datar  yang  lalu,  untuk
mengingat  dan  menghubungkannya  dengan  tindakan  yang  akan
dilakukan.

b.  Kegiatan inti
1.  Siswa  dibagi  menjadi  3  kelompok  besar  masing-masing   
beranggotakan 7 siswa.
2.  Tiap  kelompok  disuruh  menghitung  luas  bangun  datar  (
persegi,  persegi  panjang,  segitiga,  jajar  genjang,  belah
ketupat,lingkaran,  layang-layang,  dan  trapesium  )  yang
digambar pada paan tulis.
3.  Koreksi hasil penghitungan siswa

c.  Penutup
Pemberitahuan untuk tindakan selanjutnya (Siklus II)

2.   Tindakan Penelitian dan Pengamatan Tindakan
Kegiatan  yang  dibuat  yaitu  upaya  peningkatkan  kemampuan
manghitung  luas  segi  banyak  yang  merupakan  gabungan  dari
beberapa bangun datar melalui pemanfaatan alat peraga.
Obyek  yang  diamati  adalah  siswa  pada  saat  melakukan  kegiatan
menghitung luas dari beberapa bangun datar cecara kelompok.
Dengan pengamatan tersebut kami bisa mengetahui aktifitas setiap
siswa  dalam  kelompoknya.  Sebagai  dasar  untuk  memasukkan  ke
dalam lembar pengamatan.

3.  Refleksi
Dengan  tindakan  siklus  I,  hasilnya  bisa  dibandingkan  dengan
hasil  belajar  pada  kondisi  awal,  sehingga  bisa  ketahui  apakah
meningkat,  apakah  justru  menurun.  Pada  kondisi  awal  proses
pembelajaran  hanya  secara  teoritis.Pada  tindakan  siklus  I  proses
pambelajaran belum memanfaatkan alat peraga.

3.3.2 Siklus II
Tindakan yang diakukan pada siklus II adalah:
1. Perencanaan, terdiri dari:

a.  Appersepsi
Guru menanyakan kepada siswa tentang kegiatan pada tindakan
siklus  I,  untuk  mengingat  kembali  dan  menghubungkannya  ke
tindakan siklus II.

b.  Kegiatan Inti
1.  Siswa  dibagi  menjadi  5  kelompok,  masing-masing
beranggotakan 4 siswa.
2.   Tiap kelompok diberi model beberapa bangun datar (persegi,
persegi  panjang,  segi  tiga,  jajar  genjang,  belah  ketupat,
lingkaran, layang-layang, trapesium), dengan ukuran berbeda
dari siklus I agar di hitung luasnya.
3.  Koreksi hasil penghitungan siswa.

c.  Penutup
1.   Memberitahukan hasil dari penghitungan siswa.
2.  Pemantapan dan pengayaan.
2.   Tindakan penelitian dan Pengamatan Tindakan
Kegiatan  yang  dibuat,  yaitu  upaya  meningkatkan  hasil  belajar
Matematika  menghitung  luas  segi  banyak  yang  merupakan
gabungan  dari  beberapa  bangun  datar  melalui  pemanfaatan  alat
peraga.  Obyek  yang  diamati  yaitu  siswa  pada  saat  melakukan
kegiatan menghitung luas beberapa bangun datar secara kelompok.
Dengan  pengamatan  tersebut  guru  bisa  mengetahui  aktifitas  tiap
siswa  dalam  kelompoknya,  sebagai  dasar  untuk  memasukkan  ke
dalam lembar pengamatan.

3.   Refleksi
Dengan tindakan siklus II, hasilnya bisa dibandingkan dengan hasil
dari tindakan siklus I. Pada siklus I dengan kelompok besar belum
dengan alat peraga, sedang pada siklus II dengan kelompok kecil
menggunakan alat peraga.

3.4   Data dan Cara Pengumpulannya
  Teknik  pengumpulan  data  yang  digunakan  adalah  teknik  test  dan  non
test.Test  menurut  jenisnya  ada  tiga,  yaitu  tertulis,  lisan,  perbuatan.  Sedangkan
menurut  bentuknya,  test  terdiri  dari:  pilihan  ganda,  isian,  menjodohkan,  jawab
singkat dan uraian.Teknik test yang digunakan adalah jenis test tertulis, dengan
bentuk  test  uraian.Sedang  untuk  non  test  menggunakan  pengamatan.Karena
teknik pengumpulan data yang digunakan test tertulis dan pengamatan, maka alat
pengumpul data yang digunakan adalah butir soal dan lembar pengamatan siswa.

3.5    Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dapat dilihat dari hasil nilai tes rata-rata pada mata
pelajaran  matematika  dengan  pokok  bahasan  luas  segi  banyak.  Penelitian  ini
dikatakan  berhasil  apabila  ketuntasan  belajar  secara  klasikal  75%  dengan  nilai KKM (60)

3.6   Analisis/Interpreasi Data Penelitian 
Analisis  data  kuantitatif  yang  dipergunakan  adalah  analisis  deskripsi
komparatif, yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I,
dan nilai tes setelah siklus II.Untuk analisis data kualitatif, dipergunakan analisis
deskripsi kualitatif berdasarkan hasil pengamatan.

BAB IV 
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 

4.1  Pelaksanaan Tindakan
Sebelum  dilakukan  Penelitian  Tindakan  Kelas,  proses  pembelajaran
dilakukan secara klasikal. Siswa duduk menghadap satu arah ke papan tulis
dengan susunan meja tiga baris ke belakang. Perhatian semua siswa terpusat
pada guru dan papan tulis.

Proses pembelajaran yang dilakukan adalah :
1.  Guru menyuruh siswa membuka Buku Matematika Gemar Berhitung
Penerbit Tiga Serangkai halaman 68, sambil menyebutkan materi yang
akan  diajarkan.Guru  memulai  pelajaran  dengan  menyuruh  siswa  membuka buku paket.                             
2.  Guru menulis materi di papan tulis yaitu tentang menghitung luas dari
beberapa  bangun  datar  dan  menuliskan  rumus  cara  menghitung  luas
bangun datar.Guru menulis materi dan rumus sekaligus di papan tulis               
3.  Guru menerangkan cara menghitung luas beberapa bangun datar serta  memberi contoh soal.
4.  Guru memberi Pekerjaan Rumah. 

Dalam  proses  pembelajaran,  guru  lebih  aktif  dari  pada  siswa.  Guru
lebih banyak menerangkan, sedang siswa lebih banyak memperhatikan dan
mendengarkan.  Guru  mengajar  hanya  berdasarkan  teori  yang  ada  di  buku
tersebut. Guru hanya menerangkan secara teoritis tanpa menggunakan alat
peraga atau melakukan percobaan/latihan. Guru mengajar secara teori dan  tidak menggunakan alat peraga, siswa pasif

Berikutnya  adalah  koreksi  hasil  pekerjaan  rumah.  Hasilnya
dicantumkan pada Buku Daftar Nilai. Nilai Ulangan Harian dengan soal 10
butir bentuk uraian dari 21 siswa adalah sebagai berikut : 40, 40, 50, 70, 40,
40, 50, 30, 90, 80, 50, 40, 50, 50, 90,50,60,70,80,70 dan 40. Dengan kata
lain 1 siswa mendapat nilai 30, 6 siswa mendapat nilai 40, 6 siswa mendapat
nilai  50,  4  siswa  mendapat  nilai  70,  2  siswa  mendapat  nilai  80,  2  siswa
mendapat nilai 90. Nilai terendah 30 ada 1 siswa, nilai tertinggi 90 ada 2 siswa. Nilai rata-rata 50,90.

Tabel 1
Ketuntasan belajar pra siklus

Nilai  Banyak siswa  Keterangan %
≥60  5  23,81
<60  16  76,19

a. Siklus I
Tidakan pada siklus I, yaitu :
1).Perencanaan
a. Appersepsi
Kami  menanyakan  kepada  siswa  tentang  ulangan  Matematika
bangun  datar  yang  lalu,  untuk  mengingat  dan  menghubungkannya
dengan tindakan yang akan dilakukan.

b. Kegiatan inti
1.Siswa  dibagi  menjadi  tiga  kelompok  besar  oleh  ketua  kelas
masing-masing beranggotakan 7 siswa.
2.Tiap kelompok diberi tugas mencari luas beberapa bangun datar (
persegi,  persegi  panjang,  segitiga,  jajargenjang,  belah  ketupat,
lingkaran,  layang-layang  dan  trapesium,  beserta  ukurannya.
Dengan bimbingan guru, tiap kelompok menghitung luas bangun-
bangun  tersebut.Dengan  bimbingan  guru  kelompok  siswa  sedang
menghitung luas bangun datar 
3.Tiap  kelompok  menyampaikan  hasil  penghitungan  bangun  datar 
tersebut, dan masing-masing kelompok saling menanggapi. 
4.Guru menanggapi hasil penghitungan tiap kelompok siswa.
5.Guru  memberi  kesempatan  kepada  siswa  untuk  menanyakan
masalah / kesulitan yang dihadapi waktu melakukan kegiatan.
6.Untuk  mengetahui  seberapa  jauh  siswa  menguasai  materi,
diadakan Ulangan Akhir Siklus I.

c.Penutup
- Pemberitahuan hasil dari penghitungan siswa.
- Pemberitahuan untuk tindakan selanjutnya (Siklus II)

2) Tindakan Penelitian

Kegiatan  yang  kami  buat  yaitu  upaya  peningkatkan  hasil  belajar
Matematika manghitung luas segi banyak yang merupakan gabungan dari
beberapa bangun datar melalui pemanfaatan alat peraga.

3) Pengamatan Tindakan
Obyek  yang  diamati  adalah  siswa  pada  saat  melakukan  kegiatan
menghitung  luas  segi  banyak  yang  merupakan  gabungan  dari  beberapa
bangun  datar  secara  kelompok.  Dengan  pengamatan  tersebut  kami  bisa
diketahui aktifitas setiap siswa dalam kelompoknya. Sebagai dasar untuk
memasukkan ke dalam lembar pengamatan.

4) Refleksi
Dengan tindakan siklus I, hasilnya bisa dibandingkan dengan hasil belajar
pada  kondisi  awal,  ketahui  meningkat.  Pada  kondisi  awal  proses
pembelajaran  hanya  secara  teoritis.  Pada  tindakan  siklus  I  proses
pambelajaran sudah memanfaatkan peraga.

Tabel : 2
Ketuntsan belajar siswa siklus 1

Nilai  Banyak siswa  Keterangan %
≥60  18  85,71
<60  3  14,29

b. Siklus II
Tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah:
1) Perencanaan, terdiri dari:
a. Appersepsi
Saya  menanyakan  kepada  siswa  tentang  kegiatan  pada  tindakan
siklus  I,  untuk  mengingat  kembali  dan  menghubungkannya  ke
tindakan siklus II.
b. Kegiatan Inti
1.Siswa    dibagi  menjadi  empat  kelompok  kecil  masing-masing   
beranggotakan 4 siswa.
 
2.Tiap  kelompok  diberi  model  beberapa  bangun  datar  (  persegi,
persegi  panjang,  segitiga,  jajargenjang,  belah  ketupat,  lingkaran,
layang-layang  dan  trapesium,  dengan  ukuran  berbeda  dengan
siklus I.Dengan bimbingan guru, tiap kelompok menghitung luas
bangun bangun tersebut.

3.Tiap  kelompok  menyampaikan  hasil  penghitungan  bangun  datar 
tersebut, dan masing-masing kelompok saling menanggapi. 

4.Guru menanggapi hasil penghitungan tiap kelompok siswa.
 
5.Guru  memberi  kesempatan  kepada  siswa  untuk  menanyakan
masalah / kesulitan yang dihadapi waktu melakukan kegiatan.
6.Untuk  mengatahui  seberapa  jauh  siswa  menguasai  materi,
diadakan Ulangan Akhir Siklus II.

c. Penutup
Memberitahukan hasil dari penghitungan siswa.

2) Tindakan penelitian
Kegiatan  yang  dibuat,  yaitu  upaya  meningkatkan  hasil  belajar   
matematika    tentang  menghitung  luas  segi  banyak  merupakan
gabungan  dari  beberapa  bangun  datar  melalui  pemanfaatan  alat
peraga.

3) Pengamatan tindakan 
Obyek  yantg  dimati  yaitu  siswa  pada  saat  melakukan  kegiatan
menghitung  luas  beberapa  bangun  datar  secara  kelompok.Dengan
pengamatan  tersebut  bisa  diketahui  aktifitas  tiap  siswa  dalam
kelompoknya,  sebagai  dasar  untuk  memasukkan  ke  dalam  lembar
pengamatan.

4) Refleksi
Dengan  tindakan  siklus  II,  hasilnya  bisa  dibandingkan  dengan  hasil
dari  tindakan  siklus  I.Pada  siklus  I  dengan  kelompok  besar,  sedang,
pada siklus II dengan kelompok kecil.
Tabel : 3
Ketuntasan belajar siswa siklus 2
                                   
Nilai  Banyak siswa  Keterangan %
≥60  20  95,24
<60  1  4.76

Tabel : 4
Tindakan dan Hasil Belajar
Tindakan Hasil Belajar Peningkatan  Kemampuan Menghitung Luas Segi Banyak Dengan Menggunakan Alat Peraga Bangun Datar
1. Proses pembelajaran pada kondisi awal siswa pasif dan tidak kreatif. Pada
kondisi akhir terdapat peningkatan keaktifan dan kreatifitas siswa.
2. Hasil belajar pada kondisi akhir terdapat peningkatan dari pada hasil belajar
pada kondisi awal, dari rata-rata 50,95 menjadi 81,8 meningkat 34,8 %.

BAB V 
SIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Simpulan

Berdasarkan  rumusan  masalah,  hasil  penelitian  dan  pembahasan  dalam
penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.  Hasil  belajar  siswa  Kelas  VI  Sekolah Dasar/Madrasah.........  Kecamatan  ............
Kabupaten  ............  tahun  pelajaran  2018 / 2019  pada  pembelajaran
menghitung luas segi banyak dengan menggunakan alat peraga bangun datar
mengalami  peningkatan.  Hal  ini  dapat  dilihat  dari  hasil  tes  siklus  I  sampai
siklus  II  mengalami  peningkatan.  Hasil  rata-rata  tes  siklus  I  mencapai  78,7
atau  85,71%.  Pada  siklus  II  rata-rata  tes  formatif  siswa  mencapai  81,8  atau
95,14%. Antara hasil rata-rata tes yang diperoleh pada siklus I dan siklus II
mengalami peningkatan sebesar 9,43%.
2. Perilaku siswa kelas IV Sekolah Dasar/Madrasah......... Kecamatan ............ Kabupaten
............ tahun pelajaran 2018 / 2019 setelah mengikuti pembelajaran dengan
penggunaan  alat  peraga  bangun  datar  mengalami  perubahan.Perubahan
perilaku siswa ini ditunjukkan dari data non tes melalui observasi.Berdasarkan
data observasi pada siklus I kegiatan pembelajaran kurang bersemangat, siswa
masih kurang siap menerima pembelajaran dengan alat peraga bangun datar .
Sebagian  siswa  masih  pasif  dalam  pembelajaran,  dan  masih  banyak  siswa
melihat  pekerjaan  temannya  saat  mengerjakan  tes  formatif.  Sementara  itu,
pada siklus II terjadi perubahan perilaku siswa kearah yang lebih baik. Siswa
terlihat  lebih  aktif  dan  bersemangat  mengikuti  pembelajaran.  Hal  ini
dikarenakan  siswa  sudah  mulai  menyesuaikan  dengan  pola  pembelajaran
tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan alat peraga
bangun  datar  meningkatkan  perilaku  positif  siswa  dan  mengubah  perilaku
negatif siswa ke arah yang lebih baik.

B. Saran
Berdasarkan  pengalaman  selama  melaksanakan  penelitian  tindakan  kelas
di kelas VI Sekolah Dasar/Madrasah........ , maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.
1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan alat bantu atau peraga dalam 
menghitung luas segi banyak dapat membangkitkan minat belajar siswa
2. Guru dalam pembelajaran menghitung luas segi banyak menggunakan media
atau alat peraga bangun datar agar menarik bagi siswa,
3.  Setiap  siswa  sebaiknya  memiliki  alat  peraga  bangun  datar  minimal  tiap
kelompok satu,
4.  Guru  perlu  menjelaskan  kembali  cara  menggunakan  alat  bangun  datar  agar
yang belum jelas dapat menjadi jelas.

DAFTAR PUSTAKA 

H.  Udin  S.  Winataputra,  2002,  Strategi  Belajar  Mengajar,  Jakarta,  Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka.
HM.  Surya,  DKK,  1997,  Kapita  Selekta  Pendidikan  SD,  Jakarta,  Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka.
Bambang Suharmantri, 1998, Belajar dan Pembelajaran, Seamarang, FPTK IKIP
Veteran Semarang.
Karso,  DKK,  2002,  Pendidikan  Matematika  I,  Jakarta,  Pusat  Penerbitan
Universitas Terbuka.
Depdikbud, 1993, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.
Muchtar  A  Karim,  2003,  Pendidikan  Matematika  II,  jakarta,  Pusat  Penerbitan
Universitas Terbuka.
Rohib Syamsul Alam, 2007, Alat Peraga di Sekolah Dasar ( Diktat ) Semarang.

Lampiran Lampiran
1. Lembar Obervasi, Angket wawancara dengan siswa silahkan download pada link ini
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran  : Matematika
Kelas/Semester : VI/1
Pertemuan Ke-  : 1.2.3.4
Alokasi Waktu   : 4x35 menit
Standar Kompetensi : 3. Menghitung luas segi banyak sederhana, luas lingkaran,dan volume prisma segitiga
Kompetensi Dasar : 3.1 Menghitung luas dan keliling segi banyak
Indikator :
1. Mengenal hubungan antarsatuan luas km2 dan hm2 dan yang lainnya
2. Menghitung luas persegi dan persegi panjang
3. Menghitung luas belah ketupat dan jajargenjang
4. Menghitung luas segitiga, trapesium, layamg-layang dan lingkaran
5. Menentukan luas gabungan dua bangun datar yang berbeda ukurannya
I. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengenal hubungan antarsatuan luas km2, hm2 dan yang lainnya.
2. Siswa dapat menghitung luas persegi dan persegi panjang
3. Siswa dapat menghitung belah ketupat dan jajargenjang
4.Siswa dapat menghitung luas segitiga, trapesium, laying-layang dan lingkaran
5.Siswa dapat menentukan luas gabungan dua bangun datar atau lebih yang berbeda ukurannya
II. Materi Ajar
• Pengukuran luas
III. Metode Pembelajaran
1. Informasi/ceramah
2. Diskusi
3. Tanya jawab

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan ke-1
1. Kegiatan Awal
• Guru mengajak siswa mengingat sekilas pembelajaran yang lalu.
• Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
• Motivasi dan apersepsi dari guru.
2. Kegiatan Inti
• Guru mengajak siswa mengingat kembali hubungan antarsatuan luas.
•Guru memberi soal yang berkaitan dengan hubungan antar satuan luas.Kemudian guru bersama siswa mendiskusikan penyelesaiannya.
• Guru meminta siswa mengerjakan soal-soal yang relevan.
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang
   jelas.
• Selanjutnya, guru bersama siswa mendiskusikan contoh soal kedua
• Guru meminta siswa mengerjakan soal-soal tentang satuan luas.
• Guru memberi umpan balik.
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang
   jelas.
3. Kegiatan Akhir
• Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan mengenai hubungan antarsatuan
    luas.
•Guru memberikan kata-kata pujian kepada siswa atas keaktifan dan kesungguhannya mengikuti proses belajar mengajar.
• Guru memberi tugas PR kepada siswa.
Pertemuan ke-2
1. Kegiatan Awal
• Guru mengajak siswa mengingat pembelajaran yang lalu.
• Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
• Motivasi dan apersepsi dari guru.
2. Kegiatan Inti
• Guru mengajak siswa berdiskusi menghitung luas dari model persegi, persegi panjang,belah ketupat, jajargenjang, segitiga, trapesium, layang-layang dan lingkaran dalam kelompok masing-masing
• Guru mengajak siswa membahas penghitungan luas dari model bangun datar
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
3. Kegiatan Akhir
• Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan tentang luas dari bangun datar
•Guru memberikan kata-kata pujian kepada siswa atas keaktifan dan kesungguhannya mengikuti proses belajar mengajar.
• Guru memberi tugas PR kepada siswa
Pertemuan ke-3
1. Kegiatan Awal
• Guru mengajak siswa mengingat pembelajaran yang lalu.
• Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
• Motivasi dan apersepsi dari guru.
2. Kegiatan Inti
• Guru mengajak siswa mendiskusikan tentang luas dari beberapa bangun datar
• Kemudian, siswa berkelompok mengerjakan tugas menghitung luas segi banyak dari beberapa bangun datar yang dihimpitkan
• Guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan.
• Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
3. Kegiatan Akhir
•Guru memberikan kata-kata pujian kepada siswa atas keaktifan dan kesungguhannya mengikuti proses belajar mengajar.
Pertemuan ke-4
1. Kegiatan Awal
• Guru mengajak siswa mengingat pembelajaran yang lalu.
• Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
• Motivasi dan apersepsi dari guru.
2. Kegiatan Inti
• Pemantapan materi tentang luas segi banyak dengan berbagai bentuk soal.
• Mengerjakan soal evaluasi.
• Guru memberi umpan balik.
• Guru memberi kesempatan perbaikan dan pengayaan
3. Kegiatan Akhir
• Guru memberikan kata-kata pujian kepada siswa atas keaktifan dan prestasi yang diperoleh selama mengikuti proses belajar mengajar.
V. Alat/Bahan/Sumber Belajar
1. Alat/Bahan
• Model bangun datar
• Penggaris sentimeter
• Kalkulator
2. Sumber Belajar
• Buku Matematika Gemar Berhitung 6A halaman 43 – 55
VI. Penilaian
1. Tertulis : terlampir
2. Pengamatan
• Tingkah laku siswa, minat belajar, sikap, keaktifan dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, serta keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.

Lembar Kerja

Mata Pelajaran  : Matematika
Kelas/Semester  : VI/1

1. Hitunglah luas model bangun datar berikut dengan kelompokmu!