Senin, 04 Mei 2020

Contoh PTK Bahasa Indonesia Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Pemodelan pada Siswa Sekolah Dasar/Madrasah

Contoh PTK  Bahasa Indonesia Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Pemodelan pada Siswa Sekolah Dasar/Madrasah
Pitaloka, Dewi, 2019. Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Pemodelan pada Siswa Sekolah Dasar/Madrasah .... .......... Kecamatan .......... Kabupaten .......... Kelas V Semester 1 Tahun Pelajaran 2018/2019.

Contoh PTK  Bahasa Indonesia Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Pemodelan pada Siswa Sekolah Dasar/Madrasah
Kata kunci : Keterampilan, membaca puisi, pemodelan.

Selama ini keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V di Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... masih rendah. Ketika membaca puisi, mereka belum menunjukkan cara-cara membaca  puisi yang ideal dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai. Mereka kelihatan malu-malu dan belum secara bebas mengekspresikan puisi yang dibacanya. Pada tahun pelajaran  2018/2019 dari 35 siswa, yang bernilai sama dan atau di atas KKM (67) hanya 20 siswa. Jadi yang tuntas hanya 58%, dengan rata-rata nilai 63. Hal ini disebabkan kurang tepatnya metode dan pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran membaca puisi di  kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ...........

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, fokus permasalahan adalah rendahnya keterampilan membaca puisi siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... karena kurang tepatnya metode dan pendekatan yang digunakan oleh guru.

Rendahnya keterampilan membaca puisi di kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... merupakan masalah yang perlu segera dicarikan pemecahannya. Solusi yang akan diambil oleh guru adalah melakukan pembelajaran puisi melalui pemodelan. Pemodelan merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran kontekstual.Sebagai model tidak harus guru itu sendiri tetapi bisa diambilkan media audio visual atau mendatangkan model pembaca puisi yang sudah bagus yang memang bisa dijadikan contoh cara membaca puisi yang ideal dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi awal sebelum dilaksanakan pembelajaran dengan pemodelan diperoleh hasil rata-rata nilai 65, ketuntasan 16 (65%), tidak tuntas 13 (45%) dari jumlah siswa 29. Pada akhir siklus I, setelah mengamati model yang ditayangkan melalui audio visual, diketahui semua  siswa mencapai nilai ketuntasan (KKM) sebesar 65, denga rata-rata nilai 77. Pada akhir siklus 2, setelah mengamati model langsung dan menirukan, semua siswa mencapai nilai ketuntasan (KKM) sebesar 65 dan rata-rata nilai meningkat menjadi 79,4.
Penulis menyarankan adanya peneliti lanjutan terhadap komponen pendekatan kontekstual yang lain, yaitu: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru perlu membuat persiapan yang matang termasuk memilih pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan agar tercipta pembelajaran yang aktif,  efektif, dan menyenangkan.

KATA PENGANTAR

Puji  syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah  menyertai selama penyusunan skripsi untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Universitas .............
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
a. Dirjen Dikti yang telah memberikan beasiswa untuk menempuh S1.
b. Bupati .......... atas Izin Belajar yang telah diberikan.
c. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten .......... atas rekomendasinya untuk melanjutkan belajar.
d. Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Unit Kecamatan .......... atas rekomendasinya untuk melanjutkan belajar.
e. Pengawas TK/SD/SDLB atas saran dan motivasi yang telah diberikan.
f. Para dosen   S1 PGSD atas ilmu yang diberikan.
g. Kepala Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... atas izinnya untuk mengadakan penelitian.
h. Rekan-rekan guru Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... atas kerjasamanya selama penelitian.
i. Rekan-rekan mahasiswa   S1 PGSD atas sumbang sarannya.
j. Siswa-siswi Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... yang telah bersedia menjadi responden.
k. Keluarga, saudara, dan sahabat, atas dukungan dan doa restunya.
Semoga bantuan dan peran dari semua pihak menjadi amal kebajikan dan mendapat imbalan berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis berharap semoga penelitian yang dilaksanakan dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya bagi Sekolah Dasar/Madrasah .... .........., tempat mengadakan penelitian.
..........,     Desember 2019
Penulis

DAFTAR ISI
 
HALAMAN JUDUL...................................................................... i
SURAT PERNYATAAN ..............................................................    ii
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................    iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...........................    iv
KATA PENGANTAR ................................................................... v
ABSTRAK...................................................................................... vi
DAFTAR ISI................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................ 1
B. Identifikasi Masalah.................................................................. 2
C. Rumusan Masalah .................................................................... 2
D. Tujuan Penelitian............................. ........................................ 3
E Manfaat Penelitian ................................................................... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA......................................................... 5
A. Kajian Teori ............................................................................ 5
B. Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan ........................... 9
C. Kerangka Berpikir .................................................................. 10
D. Hipotesis Penelitian ................................................................ 11
BAB III METODE PENELITIAN .............................................. 12
A. Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian .......................... 12
B. Variabel yang Diselidiki ........................................................ 13
C. Prosedur Penelitian ................................................................ 13
D. Data dan Cara Pengumpulannya ........................................... 16
E. Indikator Kinerja ................................................................... 16
F. Analisis/Interpretasi Data Penelitian………………………. 16
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........... 17
A. Pelaksanaan Tindakan .......................................................... 17
B. Hasil Analisis Data ............................................................... 30
C. Pembahasan .......................................................................... 32

BAB V PENUTUP ............................................................... 35
A. Simpulan .......................................................................... 35
B. Saran ................................................................................ 35
Daftar Pustaka ...................................................................... 36
Lampiran ............................................................................... 37
- Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
- Instrumen Pengumpulan Data
- Kumpulan Nilai
- Surat Keterangan

BAB I
PENDAHULUAN

 A.  Latar Belakang Masalah
Dalam beberapa penelitian ditemukan   bahwa    pengajaran  Bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru Bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2009)
Pembelajaran Bahasa Indonesia  diarahkan    untuk    meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (Standar Isi, BSNP,  Permendiknas No 22 tahun 2006,)
Salah satu kemampuan yang harus dimiliki peserta didik adalah membaca puisi. Hal ini tercantum dalam  Standar Isi  Bahasa Indonesia kelas V semester 1, aspek membaca, pada kompetensi dasar 3.3Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat.
Membaca puisi merupakan suatu kegiatan yang mengasyikkan. Selain sebagai bentuk apresiasi karya sastra, membaca puisi bisa sebagai hiburan. Terbukti sekarang munculnya para selebritis, seperti: Happy Salma, Ratih Sanggarwati, dan lain-lain  yang menjadi bintang tamu pada acara-acara tertentu untuk membacakan puisi, disamping para sastrawan-sastrawan yang lebih dulu tenar, seperti: Rosihan Anwar, W. S. Rendra,  Emha Ainun Najib, dll.
Selama ini keterampilan membaca puisi peserta didik kelas V di Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... masih rendah. Ketika membaca puisi, mereka belum menunjukkan cara-cara membaca  puisi yang ideal dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai. Mereka kelihatan malu-malu dan belum secara bebas   mengekspresikan   puisi   yang   dibacanya.   Pada   tahun    pelajaran
 2018/2019 dari 35 siswa, yang bernilai sama dan atau di atas KKM (67) hanya 20 siswa. Jadi yang tuntas hanya 58% dan rata-rata nilai sebesar 63. Hal ini disebabkan kurang tepatnya metode dan pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran membaca puisi di  kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ...........
Rendahnya keterampilan membaca puisi di kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... merupakan masalah yang perlu segera dicarikan pemecahannya. Solusi yang akan diambil oleh guru adalah melakukan pembelajaran puisi melalui pemodelan. Pemodelan merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran kontekstual.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca puisi melalui pemodelan.

B. Identifikasi Masalah
a.    Rendahnya keterampilan membaca puisi pada siswa Sekolah Dasar/Madrasah .... ...........
b. Kurangnya pembelajaran melalui pemodelan dalam meningkatkan keterampilan membaca puisi pada siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... ...........

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas,  maka permasalahan dalam penelitian ini adalah :
a. Apakah pembelajaran melalui pemodelan dapat meningkatkan keterampilan membaca puisi di kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ..........?
b. Bagaimana implementasi pembelajaran dengan pemodelan pada pembelajaran membaca puisi di kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ..........?

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran melalui pemodelan dapat meningkatkan keterampilan membaca puisi pada siswa kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ...........
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan keterampilan membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat melalui pembelajaran dengan pemodelan  pada siswa kelas V Sekolah Dasar/Madrasah..... ...........
E. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan kajian untuk mendalami tentang pemodelan yang merupakan salah satu komponen dari pendekatan kontekstual.
Hasil-hasil temuan ini diharapkan dapat diimplementasikan pada pembelajaran di Sekolah Dasar maupun sekolah lanjutan , termasuk dalam pembelajaran membaca puisi.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi Siswa
Memberi suasana baru agar siwa lebih berminat dan senang mengikuti pembelajaran sehingga keterampilan membaca puisi meningkat.
2) Bagi Guru
a). Menambah pengalaman dan tantangan untuk meningkatkan kemampuan dalam memilih pendekatan pembelajaran supaya terwujud pembelajaran yang menyenangkan.
b). Memberi gambaran dan informasi bagi teman-teman guru tentang alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca puisi.

3) Bagi Sekolah
Meningkatkan mutu pendidikan sekolah dengan meningkatnya prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa, salah satunya dapat dilihat dari hasil pembelajaran Bahasa Indonesia, termasuk membaca puisi.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Keterampilan Membaca Puisi
a) Hakikat Keterampilan Membaca
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) dijelaskan bahwa keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas.
Arti keterampilan ialah keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat. (Bappenas)
Dari kedua pendapat di atas, dapat   saya  simpulkan bahwa
keterampilan adalah   kecakapan/keahlian   untuk    menyelesaikan
tugas.
Berikut pendapat para pakar tentang membaca :
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) dijelaskan bahwa membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).
Membaca adalah usaha memahami bacaan sebaik-baiknya,jika teks yang dilafalkan maka pembelajarannya jelas dan fasih, tepat informasi dan penjedaannya sehingga komunikatif dengan pendengar dan juga ditandai oleh suatu pemahaman teks.       ( Amir, 1996  )
Membaca merupakan perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerja sama beberapa keterampilan yaitu mengamati, memahami dan memikirkan.
Ada beberapa jenis membaca yaitu :
1) Membaca Teknik
Membaca teknik mementingkan kebenaran pembacaan, ketepatan, lafal, intonasi dan jeda.


2) Membaca Indah
Obyek kajiannya adalah karya sastra serta bacaan lain yang ditulis dengan bahasa indah dan harus disuarakan dengan pelafalan yang fasih dan jelas serta mempunyai irama.
3) Membaca cepat
Jenis membaca ini hanya digunakan untuk mencari kata-kata kunci atau hal-hal penting saja dan ide-ide penjelas dilompati .
4) Membaca bahasa
Tujuan jenis membaca ini adalah untuk menambah perbendaharaan kata, gaya bahasa, dan variasi kalimat.
5) Membaca dalam hati
Membaca dalam hati adalah jenis teknik membaca yang tidak dengan menyuarakan apa yang dibacanya, dan biasa digunakan untuk keperluan belajar untuk menambah pengetahuan.
Mencermati beberapa jenis membaca di atas, membaca puisi tergolong membaca indah.
Tujuan membaca :
1) Salah satu tujuan membaca adalah untuk mendapatkan informasi.
2) Untuk menambah pengetahuan.
3) Untuk menghilangkan kejenuhan ( refresing )
4) Tujuan membaaca yang paling tinggi adalah untuk mencari nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis dan nilai-nilai kehidupan lainnya ( Akhadiah,Sabarti,dkk 1991)
Manfaat banyak membaca ( Amir, 1996  ):
1). Menambah perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman hidup.
b). Meningkatkan intelektual/kecerdasan serta memeperdalam penghayatan keilmuwan.
c). Memperkaya kosakata, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, berwawasan dan puitis.
d). Memperluas cakrawala pikir dan pandang, meningkatkan penghayatan hidup yang lebih dalam serta membina keterbukaan dan obyektifitas.
e). Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
f). Meningkatkan citra rasa aristik.

b). Hakikat Puisi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) dijelaskan bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasannya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Puisi adalah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu meningkatkan kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus. Adapula yang mengatakan puisi adalah karangan bahasa yang khas yang memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna yang ditafsirkan secara estetik. Puisi juga dapat disebut sebagai karya seni yang puitis karena puisi dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, atau dapat pula menimbulkan keharuan (Haryadi 1996:113).
Ralph Waldo Emmerson mengatakan bahwa puisi adalah mengajarkan sebanyak-banyaknya dengan kata-kata yang sedikit-dikitnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa puisi itu mengandung makna yang sangat luas tetapi disampaikan dengan kata-kata yang sangat singkat.
Dari pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang menggunakan kata-kata  estetik singkat yang terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait sehingga bisa membangkitkan perasaan dan menimbulkan keharuan.

c) Hakikat Keterampilan Membaca Puisi
Ali (1982) dalam M. Faisal dkk. (2009), menjelaskan bahwa pada hakikatnya deklamasi dan baca puisi itu sama, yakni keduanya menyampaikan puisi lisan kepada khalayak penonton untuk dinikmati nilai – nilai estetis dan humanistik puisi tersebut.
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan membaca puisi apabila memenuhi beberapa persyaratan seperti yang diungkapkan oleh Ali (1982) dalam M. Faisal dkk. (2009) bahwa syarat yang harus dipenuhi seorang deklamator/pembaca puisi adalah :
Mempunyai kemampuan teknis
Penguasaan mimik
Penguasaan gesture
•        Penguasaan memahami puisi dengan tepat
Menurut M. Faisal dkk. (2009) penilaian deklamasi puisi untuk keperluan anak usia SD adalah terdiri atas lima aspek, yaitu :
Pelafalan
Intonasi
Ekspresi Wajah (Mimik)
Gesture (kelenturan tubuh)
Konversasi

2. Pemodelan dalam pembelajaran membaca puisi
a) Hakikat pemodelan (modeling)
Hairuddin dkk. (2007) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen untuk pembelajaran efektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
Pemodelan dalam pembelajaran dilakukan dengan cara memberikan model atau contoh yang perlu ditiru. Yang merasa kurang mampu membacakan puisi, atau bermain drama, tidak perlu cemas karena guru bukan satu – satunya yang dapat dijadikan model. Kita dapat meminta kepada teman sejawat, atau mendatangkan pihak luar, pembaca puisi, atau pemain drama yang sudah terkenal. Dengan demikian kita pun dapat melaksanakan pembelajaran puisi drama lewat model tadi. Demikian pula pembelajaran menulis / mengarang kita dapat memberikan contoh – contoh tulisan yang baik yang telah kita pilih. Hal ini disampaikan oleh Hairuddin, dkk. (2007)
Sejalan dengan pendapat W.F. Connel dalam Parsono dkk. (1990:5:33) dalam Eddy Menurut Tukidjan, dkk.(2009) Peran seorang guru adalah (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga.

b). Hakikat pemodelan dalam pembelajaran membaca puisi.
Pembelajaran puisi dengan pemodelan dilakukan dengan cara memberikan contoh atau model pembaca puisi baik melalui media audio, audio visual, maupun model langsung untuk ditiru lafal, intonasi, dan ekspresinya.
Sebagai model tidak harus guru itu sendiri tetapi bisa diambilkan dari media audio visual atau mendatangkan model pembaca puisi yang sudah bagus yang memang bisa dijadikan contoh cara membaca puisi yang ideal dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.

B. Kajian Hasil Penelitian yang relevan
Menurut peneliti terdahulu, Erna Dwi Handayani (2006), menyebutkan pembelajaran puisi dengan demonstrasi yang relevan dengan pemodelan merupakan pilihan yang paling tepat dan efektif. Kelebihan metode ini dalam pembelajaran membaca puisi adalah; (1) Siswa dapat secara langsung mengamati bentuk pembacaan puisi, (2) Siswa dapat secara langsung mengetahui pelafalan kata, intonasi dalam membaca puisi dengan baik, (3) Siswa dapat secara langsung mengetahui pentingnya interpretasi,penampilan ketika membaca puisi, (4) Suasana kelas akan lebih hidup karena menghilangkan kejenuhan serta dapat dijadikan sebagai hiburan. Sedangkan kelemahan metode ini antara lain; (1) Siswa cenderung meniru model tanpa kreatifitas sendiri, (2) Siswa menganggap model adalah yang paling baik, (3) Tidak setiap guru menjadi model yang baik dan tidak mudah mencari model yang baik di luar guru.

C. Kerangka Berpikir
Sebelum guru menerapkan pemodelan, keterampilan membaca puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... masih rendah. Peserta didik masih malu-malu dalam berekspresi. Belum memenuhi syarat dan kriteria penilaian membaca puisi.
Pada siklus I guru menggunakan model dengan memanfaatkan media audio visual untuk menayangkan model.
Pada siklus II guru mendatangkan model pembaca puisi.
Dengan pemodelan diharapkan keterampilan membaca puisi peserta didik meningkat.
Bagan Kerangka Berpikir

D. Hipotesis Tindakan
Melalui pembelajaran dengan pemodelan diharapkan keterampilan membaca puisi peserta didik lebih meningkat. Tidak lagi malu-malu dan memiliki rasa percaya diri yang kuat. Peserta didik mampu membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai karena peserta didik tidak hanya menerima penjelasan tentang teori membaca puisi tetapi mengamati model pembaca puisi yang bisa dicontoh.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Setting dan Karakteristik Subyek Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas V semester 1 Sekolah Dasar/Madrasah..... .........., Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Unit Kecamatan .........., Kabupaten .......... yang beralamat di Jalan Ronggowarsito Nomor 292 .........., Kecamatan .........., Kabupaten ...........
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan sejak awal semester 1 tahun 2018/2019, tepatnya bulan Agustus 2009, sedangkan tindakan kelas dilaksanakan pada tanggal 2 s.d. 21 November 2009.
3. Karakteristik Subjek Penelitian
Mulai tahun pelajaran 2018/2019 Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... menjadi SD rintisan Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN). Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... merupakan SD regrouping dari Sekolah Dasar/Madrasah..... dan SD Negeri 3 .......... sejak tahun pelajaran 2018/2019. Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... berlokasi di kota kecamatan. Sebelum diregrouping, siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... berjumlah ± 200 siswa dan siswa SD Negeri 3 ± 121.  Setelah diregrouping menjadi Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... dengan jumlah siswa 321 siswa. Jumlah kepala sekolah, guru, dan karyawan adalah 22 orang. Guru yang sudah sarjana baru 3 orang, yang sedang menempuh S1 sebanyak 3 orang, termasuk penulis, sedangkan lainnya lulusan D2 dan SPG. Kondisi sosial ekonomi wali siswa sangat beragam, ada yang sangat mampu, ada yang cukup, tetapi tidak sedikit yang ekonomi lemah. Pekerjaan wali siswa ada yang  pegawai, pengusaha sampai buruh pabrik. Tidak sedikit pula yang tukang becak.  Tidak   semua  wali

siswa peduli terhadap pendidikan. Ada beberapa prestasi yang diraih oleh  SD ini terutama tingkat kecamatan, baik bidang akademik maupun non akademik.

B. Variabel yang Diselidiki
1. Keterampilan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... Selama Ini
Berdasarkan observasi dan analisis nilai unjuk kerja membaca puisi, keterampilan membaca puisi siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... rendah, tidak memenuhi kriteria membaca puisi yang tepat, misalnya memperhatikan lafal, intonasi, dan ekspresi. 
2. Penggunaan Pendekatan Mengajar oleh Guru Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... Selama Ini
Rendahnya keterampilan membaca puisi siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... rendah karena penggunaan pendekatan pembelajaran kurang tepat. Selama ini guru sering menggunakan metode ceramah yang bersifat teoretis, kurang adanya model atau demonstrasi.
3. Pemodelan
Untuk mengatasi permasalahan pembelajaran membaca puisi seperti yang diungkapkan pada kedua variabel di atas, peneliti menerapkan pendekatan pembelajaran pemodelan. Pemodelan merupakan komponen pendekatan kontekstual. Dengan pemodelan diharapkan adanya suatu contoh/model, sehingga siswa tidak ragu-ragu dan malu-malu dalam membaca puisi. Penelitian dilakukan untuk meningkatkan keterampilan membaca puisi pada siswa Sekolah Dasar/Madrasah..... ........... 
C. Prosedur Penelitian
1. Siklus I
a). Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan identitas mata pelajaran, kelas, semester dan alokasi waktu. Komponen RPP terdiri dari aspek, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, skenario pembelajaran, metode, pendekatan, sumber belajar, jenis penilaian, dan dilengkapi dengan lampiran RPP berupa uraian materi pembelajaran dan instrumen penilaian. (RPP secara lengkap dapat dilihat pada lampiran skripsi)
b). Pelaksanaan Tindakan
Siklus I dilaksanakan sebanyak dua pertemuan. Pada pertemuan I digunakan untuk mencermati model pembaca puisi yang ditayangkan melalui media audio visual, pembahasan materi melalui diskusi kelompok tentang pemberian tanda jeda, tanda tempo, dan tanda dinamik pada teks puisi, serta latihan membaca puisi dengan bimbingan guru dan koreksi dari teman. Pada pertemuan II dilaksanakan penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
c). Observasi
Pada siklus I pertemuan I dilaksanakan observasi terhadap aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dua orang teman guru senior. Guru mengadakan penilaian proses aktivitas siswa dalam mengikuti diskusi kelompok. Pada pertemuan II dua orang teman guru senior melakukan observasi terhadap siswa dalam membaca puisi. Guru mengadakan penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
d). Analisis dan Refleksi
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan terhadap tindakan pada siklus I, diadakan analisis terhadap hasil observasi dan penialain. Pada tahap refleksi kepala sekolah dan seorang teman guru senior memberikan masukan untuk perbaikan siklus berikutnya.
2. Siklus II
a). Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan identitas mata pelajaran, kelas, semester dan alokasi waktu. Komponen RPP terdiri dari aspek, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, skenario pembelajaran, metode, pendekatan, sumber belajar, jenis penilaian, dan dilengkapi dengan lampiran RPP berupa uraian materi pembelajaran dan instrumen penilaian. Materi teks puisi berbeda dengan teks puisi pada siklus I. Teks puisi pada siklus II tingkat kesulitan lebih tinggi. (RPP secara lengkap dapat dilihat pada lampiran skripsi)
b). Pelaksanaan Tindakan
Siklus II dilaksanakan sebanyak dua pertemuan. Pada pertemuan I digunakan untuk mencermati model pembaca puisi secara langsung yang diperagakan oleh kakak kelas dan guru, pembahasan materi melalui diskusi kelompok tentang pemberian tanda jeda, tanda tempo, dan tanda dinamik pada teks puisi yang berbeda dengan teks puisi pada siklus I, serta latihan membaca puisi dengan bimbingan guru dan koreksi dari teman. Pada pertemuan II dilaksanakan penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
c). Observasi
Pada siklus II pertemuan I dilaksanakan observasi terhadap aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran oleh dua orang teman guru senior. Guru mengadakan penilaian proses aktivitas siswa dalam mengikuti diskusi kelompok. Pada pertemuan II dua orang teman guru senior melakukan observasi terhadap siswa dalam membaca puisi. Guru mengadakan penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
d). Analisis dan Refleksi
Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan terhadap tindakan pada siklus II, diadakan analisis terhadap hasil observasi dan penialain. Pada tahap refleksi dua orang teman guru senior memberikan masukan untuk perbaikan penelitian berikutnya.

D. Data dan Cara Pengumpulannya
Data yang hendak dikumpulkan dalam PTK ini meliputi :
1. Hasil observasi oleh dua orang teman guru senior terhadap proses pembelajaran
2. Hasil penilaian/pengamatan oleh guru terhadap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
3. Hasil penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi
4. Jawaban siswa melalui angket tentang pembelajaran dengan pemodelan
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1. Pengamatan proses pembelajaran oleh dua orang teman guru senior
2. Pengamatan/penilaian oleh guru terhadap siswa  dalam mengikuti proses pembelajaran
3. Penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi
4. Angket siswa tentang pembelajaran melalui pemodelan

E. Indikator Kinerja
1. Untuk Guru :
Guru mampu menerapkan pemodelan dalam pembelajaran membaca puisi sehingga pembelajaran berjalan aktif, efektif, dan menyenangkan.
2. Untuk Siswa :
Siswa mampu membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat dengan nilai  ≥ KKM (65), minimal 75% dari keseluruhan jumlah siswa

F. Analisis / Interpretasi Data Penelitian
a. Analisa pengamatan proses belajar dinyatakan dengan kata-kata dan disimpulkan dengan kalimat dan prosentase.
b. Analisa penilaian unjuk kerja dinyatakan dengan angka-angka dan kesimpulan dengan pernyataan tuntas dan tidak tuntas serta prosentase.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Tindakan
1. Kondisi Awal
Pada kondisi awal belum dilaksanakan pembelajaran dengan pemodelan. Pada tahap ini guru masih terlalu banyak menggunakan metode ceramah. Materi pembelajaran banyak bersifat teoretis tentang cara-cara membaca puisi atau seputar pengertian dari puisi. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa belum mempunyai gambaran secara konkrit tentang cara membaca puisi dengan kriteria membaca puisi yang betul. Siswa merasa malu-malu dan tidak mempunyai rasa percaya diri dalam membaca puisi, apalagi membaca dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang benar. Dapat dikatakan keterampilan siswa dalam membaca puisi rendah. Pada kondisi ini ketuntasan siswa dalam membaca puisi baru mencapai 55%  (16 siswa) dari jumlah keseluruhan 29 siswa dan rata-rata nilai 65. Ketuntasan yang diharapkan mencapai 75 %. Kondisi seperti ini tentu sangat tidak memuaskan bagi seorang guru. Sebagai seorang guru, guru merasa gagal maka perlu melakukan tindakan supaya keterampilan siswa dalam membaca puisi meningkat.

2. Siklus I 
a. Rencana Tindakan (Deskripsi Skenario Pembelajaran)
RPP untuk siklus I terdiri dari dua pertemuan. Kegiatan inti pada skenario pembelajaran (RPP) siklus I, pertemuan I meliputi lima langkah, yaitu :
1). Mendengarkan dan mengamati model pembaca puisi yang ditayangkan melalui media audio visual (LCD). 
2). Mendiskusikan dan memberikan tanda jeda, tanda tempo, dan tanda dinamik pada teks puisi.
3). Mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi kelompok lain.
4). Dengan bimbingan guru, secara berpasangan siswa berlatih membaca puisi dan teman lain membetulkan.
5). Dengan bimbingan guru, secara bergantian siswa berlatih membaca puisi di depan kelas.
Sedangkan pada pertemuan II, kegiatan inti terdiri dari :
1). Mengamati model pembaca puisi yang ditayangkan melalui media audio visual (LCD).
2). Penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
3). Analisis nilai
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada siklus I dilaksanakan pembelajaran sebanyak  dua pertemuan. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Senin, 9 November 2009, jam ke 7 dan 8, pukul 11.00 s.d. 12.10 WIB. Pada pertemuan I digunakan untuk membahas materi tentang teori membaca puisi dan cara memberi tanda jeda, tempo, dinamik, dan intonasi pada teks puisi dengan metode diskusi dan melalui pemodelan pembaca puisi yang ditayangkan dengan media audio visual. Pada pertemuan ini diadakan observasi terhadap aktivitas siswa oleh kepala sekolah dan seorang teman guru senior. Selain itu, guru  memberikan penilaian proses terhadap kegiatan diskusi siswa.
Dari observasi dan penilaian proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :
Hasil observasi dua orang teman guru senior
No. Aspek yang diamati Jumlah siswa (%)
Observer I Observer II Rata-rata
1. Siswa antusias mengikuti pembelajaran puisi dengan pemodelan 24 (84%) 25 (86%) 85%
2. Siswa merasa senang mengikuti pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan 25 (86%) 25 (86%) 86%
3. Siswa mengamati model pembaca puisi dengan seksama 28 (96%) 27 (93%) 94,5%
4. Siswa mendiskusikan tentang pemberian tanda jeda, tempo, dan dinamik pada teks puisi 21 (72%) 23 (79%) 75,5%
5. Siswa berani menanyakan kesulitan tentang materi diskusi 5 (17%) 5 (17%) 17%
6. Siswa melaporkan hasil diskusi di depan kelas 20 (68%) 20 (68%) 68%
7. Siswa ikut menyimpulkan materi pelajaran 15 (51%) 10 (34%) 42,5%
8. Siswa berani mencoba membaca puisi di depan kelas untuk dibetulkan 3 (10%) 3 (10%) 10%
Rata-rata 60,5% 59% 59,81%

Siklus I pertemuan II dilaksanakan dilaksanakan pada hari Rabu, 11 November 2009, jam ke 3 dan 4, pukul 08.10 – 09.20. Pada siklus I pertemuan II dilaksanakan penilaian oleh guru terhadap unjuk kerja/performance siswa dalam membaca puisi. Selain itu, pada kegiatan ini dilaksanakan observasi oleh kepala sekolah dan teman guru senior terhadap unjuk kerja tersebut.

Dari penilaian dan observasi diperoleh data sebagai berikut :
Hasil observasi oleh dua orang teman guru senior
No. Aspek yang diamati Jumlah siswa dalam persen
Observer I Observer II Rata-rata
(%)
1. Siswa membaca puisi dengan percaya diri 24 (82%) 22 (75%) 79%
2. Siswa membaca puisi tanpa malu-malu 23 (79) 21 (72%) 75%
3. Siswa membaca puisi dengan lafal yang tepat 23 (79) 21 (72%) 75%
4. Siswa membaca puisi dengan intonasi yang benar 21 (72) 21 (72%) 72%
5. Siswa membaca puisi dengan mimik yang sesuai 20 (70%) 20 (70%) 70%
6. Siswa membaca puisi dengan gestur yang sesuai 21 (72%) 20 (70%) 71%
7. Siswa membaca puisi dengan konversasi yang komunikatif 17 (60%) 17 (60%) 60%
8. Siswa membaca puisi dengan pandangan yang luwes, tidak kaku 20 (68%) 19 (65%) 67%
Rata-Rata 71%

c. Hasil Tindakan
Berdasarkan hasil observasi oleh dua orang teman guru senior dan  penilaian oleh guru terhadap proses pembelajaran pada pertemuan I siklus I serta penilaian unjuk kerja siswa oleh guru dan observasi oleh dua orang guru senior terhadap siswa dalam membaca puisi  pada pertemuan II siklus I dapat diperoleh analisis data sebagai berikut :
a). Pada siklus I pertemuan I dua orang teman guru senior mengobservasi terhadap delapan aspek pengamatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam pembelajaran, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Jumlah siswa yang beraktivitas pada masing-masing aspek pengamatan tidak sama. Hasil observasi dari kedua pengamat dapat dinyatakan bahwa rata-rata jumlah siswa yang beraktivitas sebanyak 17 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 29 anak atau 59,81% .
b). Pada siklus I pertemuan I guru mengobservasi keterlibatan siswa ketika sedang melaksanakan diskusi dan hasilnya dapat dinyatakan bahwa nilai keaktifan dengan rata-rata 80 , nilai kerja sama dengan rata-rata 78 , nilai kreatifitas dengan rata-rata 77 , dan nilai akhir dengan rata-rata 78,3
c). Pada siklus I pertemuan II kepala sekolah dan seorang teman guru senior mengobservasi terhadap delapan aspek pengamatan pada siswa dalam membaca puisi, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Jumlah siswa yang mampu pada masing-masing aspek tidak sama. Hasil observasi dari kedua observer dapat dinyatakan bahwa rata-rata jumlah siswa dari kedelapan aspek sebanyak 20 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 29 atau 71%.
d). Pada siklus I pertemuan II guru memberikan penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam membaca puisi. Penilaian meliputi lima aspek, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Analisis hasil penilaian dapat dinyatakan bahwa rata-rata nilai aspek pelafalan sebesar 78 , aspek intonasi sebesar 77, aspek mimik sebesar 77, gesture sebesar 77, dan aspek konvirsasi sebesar 76. Rata-rata nilai akhir sebesar 77.
e). Setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan, 29 siswa kelas V  menjawab tujuh pertanyaan tujuh pertanyaan pada angket, sebagai berikut:
- Bagaimana perasaanmu dalam mengikuti pembelajaran membaca    puisi selama ini, sebelum pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 20 siswa menjawab tidak suka, 5 siswa menjawa suka, 2 siswa menjawab sangat suka, 2 orang menjawab sangat tidak suka.
- Bagaimana perasaanmu dalam mengikuti pembelajaran membaca    puisi selama ini, dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 25 siswa menjawab suka, 4 siswa menjawab sangat suka
- Bagaimana menurut kamu membaca puisi sebelum mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 4 siswa menjawab sangat sulit, 20 siswa menjawab sulit, 5 siswa menjawab mudah
- Bagaimana menurut kamu membaca puisi setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 27 siswa menjawab mudah, 2 siswa menjawab sangat mudah
- Bagaimana perasaanmu ketika membaca puisi sebelum mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 23 menjawab malu, 1 siswa menjawab berani, 5 siswa menjawab sangat malu
- Bagaimana perasaanmu ketika membaca puisi setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 27 siswa menjawab berani, 2 siswa menjawab sangat berani

d. Hasil Belajar Peserta Didik Aspek Kognitif
Penelitian ini menggunakan materi mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan aspek membaca dan kompetensi dasar 3.3 Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat. Pada KD ini indikator diprioritaskan pada kemampuan membaca indah. Dengan demikian hasil belajar juga diprioritaskan pada hasil penilaian unjuk kerja/praktik.
Unsur Penilaian Rata – rata Nilai
Lafal 78
Intonasi 77
Mimik 77
Gesture 77
Konvirsasi 76
Rata-rata 77
Ketuntasan 100%

Data nilai lengkap dapat dilihat pada lampiran.

Untuk hasil belajar aspek kognitif dapat diambilkan dari nilai hasil diskusi kelompok tentang cara memberi tanda pada teks puisi mengenai tanda jeda, tempo, dan dinamik.
Pada siklus I semua kelompok telah  mampu memberikan tanda jeda, tempo, dan dinamik dengan nilai rata-rata sebesar 81.
Berikut kumpulan nilai hasil kerja kelompok tentang pemberian tanda jeda, tempo, dan dinamik :
No. Kelompok Unsur Penilaian
Pemberian Tanda Rata-rata
Jeda Tempo Dinamik
1. I  (SENIN) 80 85 80 81,7
2. II (SELASA) 80 85 80 81,7
3. III (RABU) 85 80 80 81,7
4. IV (KAMIS) 85 75 80 80
5. V (JUMAT) 80 75 80 78
6. VI (SABTU) 80 85 85 83,3
Rata-rata 81,7 80.8 80,8 81,1

e. Hasil Belajar Peserta Didik Aspek keterampilan Sosial
Unsur Penilaian Rata – rata Nilai
Keaktifan 80
Tanggung jawab 78
Kreatifitas 77
Rata – rata 78,3
Data nilai lengkap dilihat pada lampiran
f. Efektifitas Cara PembelajaranMenurut Peserta Didik
Berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa setelah pembelajaran dengan pemodelan selesai, dapat dikatakan bahwa 100% siswa menyatakan suka/sangat suka terhadap pembelajaran dengan pemodelan, 100% siswa menjawab mudah/sangat mudah membaca puisi, dan 100% menjawab berani/sangat berani membaca puisi.
g. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis tindakan, sudah dapat dikatakan bahwa indikator kinerja sebagian sudah tercapai. Hasil penilaian unjuk kerja/praktik pada kondisi awal dari 29 siswa yang tuntas baru 16 siswa dengan rata-rata nilai 65. Pada siklus I sudah mencapai nilai rata-rata 77. Semua siswa tuntas. Siswa sudah menyatakan suka mengikuti pembelajaran membaca puisi, menyatakan mudah membaca puisi, dan menyatakan berani/ tidak malu membaca puisi.
Walaupun demikian, peneliti masih harus menyempurnakan pendekatan pembelajaran. Pada siklus II peneliti akan menggunakan model pembaca puisi langsung. Pembacaan puisi diperagakan oleh seorang kakak kelas dan guru, bukan yang ditayangkan melalui LCD supaya hasil penilain unjuk kerja dapat maksimal.

3. Siklus II
a. Rencana Tindakan (Deskripsi Skenario Pembelajaran)
RPP untuk siklus II terdiri dari dua pertemuan. Kegiatan inti pada skenario pembelajaran (RPP) siklus I/pertemuan I meliputi lima langkah, yaitu :
1). Mendengarkan dan mengamati model pembaca puisi yang diperagakan oleh seorang siswa kelas VI  dan guru.
2).    Mendiskusikan dan memberikan tanda jeda, tanda tempo, dan tanda dinamik pada teks puisi.
3). Mempresentasikan hasil diskusi dan menanggapi presentasi kelompok lain.
4). Dengan menirukan guru, secara klasikal siswa berlatih membaca puisi.
5). Dengan bimbingan guru, secara bergantian siswa berlatih membaca puisi di depan kelas.
Sedangkan pada pertemuan II, kegiatan inti terdiri dari :
1). Mengamati model pembaca puisi yang diperagakan oleh guru
2). Penilaian unjuk kerja siswa dalam membaca puisi.
3). Analisis nilai


b.    Pelaksanaan Tindakan
Pada siklus II dilaksanakan pembelajaran sebanyak  dua pertemuan. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Senin, 16 November 2009, jam ke 7 dan 8, pukul 11.00 s.d. 12.10 WIB. Pada pertemuan I digunakan untuk membahas materi tentang teori membaca puisi dan cara memberi tanda jeda, tempo, dinamik, dan intonasi pada teks puisi dengan metode diskusi dan melalui pemodelan pembaca puisi yang ditayangkan dengan media audio visual. Pada pertemuan ini diadakan observasi terhadap aktivitas siswa oleh dua orang teman guru senior. Selain itu, guru  memberikan penilaian proses terhadap kegiatan diskusi siswa.
Dari observasi dan penilaian proses pembelajaran diperoleh data sebagai berikut :
Hasil observasi oleh dua orang teman guru senior
No. Aspek yang diamati Jumlah siswa (%)
Observer I Observer II Rata-rata
1. Siswa antusias mengikuti pembelajaran puisi dengan pemodelan 29 (100%) 27
(93%) 97%
2. Siswa merasa senang mengikuti pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan 28
(96%) 28
(96%) 96%
3. Siswa mengamati model pembaca puisi dengan seksama 29 (100%) 29 (100%) 100%
4. Siswa mendiskusikan tentang pemberian tanda jeda, tempo, dan dinamik pada teks puisi 24 (82%) 26 (89%) 86%
5. Siswa berani menanyakan kesulitan tentang materi diskusi 24 (17%) 24 (17%) 24%
6. Siswa melaporkan hasil diskusi di depan kelas 20 (68%) 20 (68%) 68%
7. Siswa ikut menyimpulkan materi pelajaran 22 (75%) 21 (72%) 73,5%
8. Siswa berani mencoba membaca puisi di depan kelas untuk dibetulkan 10 (34%) 10 (34%) 34%
Rata-rata 71,5% 71% 71,25%

Siklus II pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu, 18 November 2009, pukul 08.10 – 09.20. Pada siklus II pertemuan II dilaksanakan penilaian oleh guru terhadap unjuk kerja/performance siswa dalam membaca puisi. Selain itu, pada kegiatan ini dilaksanakan observasi oleh kepala sekolah dan teman guru senior terhadap unjuk kerja tersebut.
Dari penilaian dan observasi diperoleh data sebagai berikut :
Hasil observasi oleh dua orang teman guru senior
No. Aspek yang diamati Jumlah siswa dalam
persen (%)

c. Hasil Tindakan
Berdasarkan hasil observasi kepala sekolah dan seorang teman guru senior dan  penilaian oleh guru terhadap proses pembelajaran pada pertemuan I siklus II serta penilaian unjuk kerja siswa oleh guru dan observasi kepala sekolah dan seorang guru senior terhadap siswa dalam membaca puisi  pada pertemuan II siklus II dapat diperoleh analisis data sebagai berikut :
1). Pada siklus II pertemuan I dua orang teman guru senior mengobservasi terhadap delapan aspek pengamatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam pembelajaran, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Jumlah siswa yang beraktivitas pada masing-masing aspek pengamatan tidak sama. Hasil observasi dari kedua pengamat dapat dinyatakan bahwa rata-rata jumlah siswa yang beraktivitas sebanyak 21 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 29 anak atau 71,25% .
2). Pada siklus II pertemuan I guru mengobservasi keterlibatan siswa ketika sedang melaksanakan diskusi dan hasilnya dapat dinyatakan bahwa nilai keaktifan dengan rata-rata 81 , nilai kerja sama dengan rata-rata 79 , nilai kreatifitas dengan rata-rata 80 , dan nilai akhir dengan rata-rata 80
3). Pada siklus II pertemuan II dua orang teman guru senior mengobservasi terhadap delapan aspek pengamatan pada siswa dalam membaca puisi, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Jumlah siswa yang mampu pada masing-masing aspek tidak sama. Hasil observasi dari kedua observer dapat dinyatakan bahwa rata-rata jumlah siswa dari kedelapan aspek sebanyak 25 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 29 atau 85%.
4). Pada siklus II pertemuan II guru memberikan penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam membaca puisi. Penilaian meliputi lima aspek, seperti yang tertera pada halaman sebelumnya. Analisis hasil penilaian dapat dinyatakan bahwa rata-rata nilai aspek pelafalan sebesar 80 , aspek intonasi sebesar 80, aspek mimik sebesar 79, gesture sebesar 79, dan aspek konvirsasi sebesar 79. Rata-rata nilai akhir sebesar 79,4
5). Setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan, 29 siswa kelas V  menjawab tujuh pertanyaan tujuh pertanyaan pada angket, sebagai berikut:
- Bagaimana perasaanmu dalam mengikuti pembelajaran membaca    puisi selama ini, sebelum pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 20 siswa menjawab tidak suka, 5 siswa menjawa suka, 2 siswa menjawab sangat suka, 2 orang menjawab sangat tidak suka.
- Bagaimana perasaanmu dalam mengikuti pembelajaran membaca    puisi selama ini, dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 20 siswa menjawab suka, 9 siswa menjawab sangat suka
- Bagaimana menurut kamu membaca puisi sebelum mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 4 siswa menjawab sangat sulit, 20 siswa menjawab sulit, 5 siswa menjawab mudah
- Bagaimana menurut kamu membaca puisi setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 26 siswa menjawab mudah, 3 siswa menjawab sangat mudah
- Bagaimana perasaanmu ketika membaca puisi sebelum mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 23 menjawab malu, 1 siswa menjawab berani, 5 siswa menjawab sangat malu
- Bagaimana perasaanmu ketika membaca puisi setelah mengikuti pembelajaran dengan pemodelan?
Jawaban yang terkumpul : 25 siswa menjawab berani, 4 siswa menjawab sangat berani

d. Hasil Belajar Peserta Didik Aspek Kognitif
Penelitian ini menggunakan materi mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan aspek membaca dan kompetensi dasar 3.3 Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat. Pada KD ini indikator diprioritaskan pada kemampuan membaca indah. Dengan demikian hasil belajar juga diprioritaskan pada hasil penilaian unjuk kerja/praktik.
Berikut  hasil nilai unjuk kerja/praktik membaca puisi:
Unsur Penilaian Rata – rata Nilai
Lafal 80
Intonasi 80
Mimik 79
Gesture 79
Konvirsasi 79
Rata-rata 79,4
Ketuntasan 100%
Data nilai lengkap dapat dilihat pada lampiran
Untuk hasil belajar aspek kognitif dapat diambilkan dari nilai hasil diskusi kelompok tentang cara memberi tanda pada teks puisi mengenai tanda jeda, tempo, dan dinamik.
Pada siklus II semua kelompok telah  mampu memberikan tanda jeda, tempo, dan dinamik dengan nilai rata-rata sebesar 83. Sedangkan nilai unjuk kerja dapat dilhat pada halaman sebelumnya.
Berikut kumpulan nilai hasil kerja kelompok tentang pemberian tanda jeda, tempo, dan dinamik :
No. Kelompok Unsur Penilaian
Pemberian Tanda Rata-rata
Jeda Tempo Dinamik
1. I  (SENIN) 85 85 85 85
2. II (SELASA) 80 85 80 82
3. III (RABU) 85 80 80 82
4. IV (KAMIS) 85 80 80 82
5. V (JUMAT) 80 80 80 80
6. VI (SABTU) 85 85 85 85
Rata-rata 83,3 82,5 81,7 82,7

e. Hasil Belajar Peserta Didik Aspek keterampilan Sosial
Unsur Penilaian Rata – rata nilai
Tanda jeda 81
Tanda tempo 79
Tanda dinamik 80
Rata-rata 80
Ketuntasan 100%

f. Efektifitas Cara PembelajaranMenurut Peserta Didik
Berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa setelah pembelajaran dengan pemodelan selesai, dapat dikatakan bahwa 100% siswa menyatakan suka/sangat suka terhadap pembelajaran dengan pemodelan, 100% siswa menjawa mudah/sangat mudah membaca puisi, dan 100% menjawab berani/sangat berani membaca puisi.
g. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis tindakan, dapat dikatakan bahwa ada peningkatan keterampilan siswa dalam membaca puisi. Hasil rata-rata nilai unjuk kerja mencapai 79,4. Dari kondisi awal rata-rata nilai 65, dan pada siklus I rata-rata nilai 77.
Siswa sudah mampu membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat.
B. Hasil Analisis Data
Hasil  analisis data dari seluruh tahapan penelitian dapat dijelaskan bahwa adanya peningkatan yang signifikan tentang perubahan tingkah laku siswa dalam mengikuti pembelajaran dan peningkatan hasil penilaian baik unjuk kerja maupun tertulis atau yang bersifat kognitif.
Hasil analisis tersebut dapat ditunjukkan dengan tabel dan grafik sebagai berikut:
1. Rata – rata nilai keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (kegiatan diskusi)

Unsur Penilaian Siklus I Siklus II
Keaktifan 80 81
Tanggung jawab 78 79
Kreatifitas 77 80
Rata – rata 78,3 80


2. Penilaian oleh guru terhadap unjuk kerja siswa dalam membaca puisi

Unsur Penilaian Siklus I Siklus II
Lafal 78 80
Intonasi 77 80
Mimik 77 79
Gesture 77 79
Konvirsasi 76 79
Rata-rata 77 79,4

3. Penilaian oleh guru terhadap hasil diskusi (nilai kognitif)

Unsur Penilaian Siklus I Siklus II
Tanda jeda 81,7 83,3
Tanda tempo 80,8 82,5
Tanda dinamik 80,8 81,7
Rata-rata 81,1 82,7

C. Pembahasan
Berdasarkan uraian siklus I dan siklus II di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajara membaca puisi dengan pemodelan dapat mempengaruhi beberapa aspek, yaitu: perubahan tingkah laku siswa, prestasi siswa, bahkan mempengaruhi perilaku guru itu sendiri.
Sebelum menggunakan pemodelan, pembelajaran membaca puisi tidak disukai oleh siswa. Siswa menganggap membaca puisi itu sangat sulit dan merasa malu saat membawakannya.
Ternyata pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan dapat meningkatkan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran dan meningkatkan keberanian siswa dalam menanyakan kesulitan yang berhubungan dengan teknik membaca puisi. Dengan begitu, siswa mendapat gambaran yang jelas tentang cara membaca puisi yang benar. Akhirnya nilai pengamatan proses, nilai kognitif, dan nilai unjuk kerja siswa dalam membaca puisipun meningkat. Terbukti nilai rata-rata pada kondisi awal hanya 65 dan ketuntasan hanya 55%, setelah dilakukan PTK nilai rata-rata mencapai 77 pada siklus I dan 79,4 pada siklus II. Ketuntasan mencapai 100% pada kedua siklus.
Walaupun tingkat kesulitan teks puisi yang dibawakan dari siklus I ke siklus II meningkat, siswa tetap mampu dan suka membacanya. Hal ini sangat membanggakan dan memuasakan bagi peneliti. Ini membuktikan bahwa penelitian ini berhasil.
Perubahan perilaku tidak hanya terjadi pada siswa/peserta didik. Dengan pemodelan gurupun dituntut agar benar-benar kreatif dalam mempersiapkan pembelajaran yang dapat menarik minat dan semanagat peserta didik. Walaupun sebagai model tidak harus guru itu sendiri tetapi tentu akan lebih berwibawa jika guru itu sendirilah yang jadi modelnya. Hal ini disebabkan oleh rasa percaya peserta didik yang sangat tinggi kepada gurunya, sesuai istilahnya orang Jawa ”Guru iku digugu lan ditiru” yang sama artinya ”Guru itu dipercaya dan dicontoh”
”Tiada gading yang tak retak”. Segala sesuatu pasti ada kekurangannya, termasuk pemodelan. Pemodelan kadang-kadang tidak membuat peserta didik kreatif karena ada kecenderungan untuk meniru yang sangat kuat. Untuk itu perlu adanya latihan yang sering bagi peserta didik menggunakan teks puisi dengan tingkat kesulitan yang meningkat. Dengan demikian siswa semakin kaya tentang teknik membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai. Akhirnya siswa mampu membaca puisi sendiri walaupun tanpa diberi contoh terlebih dahulu.
Pelaksanaan pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan di Sekolah Dasar/Madrasah..... .......... tidak mengalami kendala baik model yang ditayangkan melalui media audio visual maupun model yang secara langsung. Hal ini karena ditunjang dengan adanya CD pembelajaran tentang contoh membaca puisi yang didapat dari LPMP Jateng, laptop yang dimiliki oleh peneliti dan LCD milik sekolah. Selain itu, model yang secara langsung dapat diperagakan oleh siswa kelas VI yang pandai membaca puisi dan  guru yang sekaligus sebagai peneliti tanpa mendatangkan model dari luar sekolah.
Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat membantu kelancaran pelaksanaan proses pembelajaran membaca puisi melalui pemodelan.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang benar. Secara berturut-turut dapat disebutkan bahwa hasil nilai unjuk kerja diperoleh rata-rata nilai sebagai berikut :
a). Kondisi awal     : 65 dan 16 (55%) siswa tuntas, 13 (45%) siswa tidak tuntas, dengan KKM 65.
b). Siklus I : 77 dan semua siswa tuntas
c). Siklus II : 79.4 dan semua siswa tuntas
2. Pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan dapat meningkatkan :
a). Antusias dan rasa senang peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.
b). Rasa berani dan percaya diri peserta didik dalam membaca puisi.
c). Pembelajaran membaca puisi dengan pemodelan dapat mengurangi anggapan sulit peserta didik dalam membaca puisi

B. Saran - Saran
A. Untuk peneliti lanjutan :
Perlu penelitian terhadap komponen pendekatan kontekstual yang lain, yaitu : konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
B. Untuk para guru :
Sebelum melaksanakan pembelajaran, guru perlu membuat persiapan yang matang termasuk memilih pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan agar tercipta pembelajaran yang aktif,  efektif, dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Amir dan Rukayah. 1996. Peningkatan Bahasa Indonesia di kelas Tinggi Sekolah Dasar. Surakarta : FKIP UNS.
Depdikbud, 1999, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka.
Eddy Tukijan, dkk. 2009, Sosiologi Pendidikan, Dirjen Dikti Depdiknas.
Erna Dwi Handayani, PTK, http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library?e=d- 00000-00---0skripsi--00-1--0-10-0---0---0prompt-10---4-------0-0l--11-zh- 50---20-about---00-3-1-00-11-1-0gbk- 00&a=d&d=HASH01e81531a55d1999f6722e38&showrecord=1, Friday, October, 19, 2009, 7:17 pm

Hairuddin, dkk. (2007) Pembelajaran Bahasa Indonesia, Dirjen Dikti Depdiknas.
M. Faisal, 2009, Kajian Bahasa Indonesia SD, Dirjen Dikti Depdiknas.
Pakde Sofa, Contoh Proposal PTK, http://massofa.wordpress.com/2008/01/11/contoh-proposal-ptk- pendidikan/ , Wednesday, July, 19,  2008, 7.14 pm.

Soli Abimanyu, dkk. 2008, Strategi Pembelajaran, Dirjen Dikti Depdiknas.
Standar Isi. BSNP, Permendiknas no 22 th 2006.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Contoh PTK Bahasa Indonesia Peningkatan Keterampilan Membaca Puisi Melalui Pemodelan pada Siswa Sekolah Dasar/Madrasah