Demensia/Pikun Kenapa Terjadi, bagaimana Pencegahannya Dan Pengobatannya

Demensia/Pikun Kenapa Terjadi, bagaimana Pencegahannya Dan Pengobatannya
Terkadang ada di sekitar kita atau mungkin saudara (kakek,nenek, buyut Anda yang sudah lanjut usia dan sudah mengalami pikun atau melemahnya fungsi kognitif, biasanya Mereka sudah tidak mengenal arah, tempat, atau mungkin sudah tidak mengenal orang lain. Memang keadaan seperti itu terkadang bisa terjadi terhadap orang yang sudah sangat lanjut usia. Tapi tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada orang yang masih muda. Kenapa itu bisa terjadi? dan bagaimana agar kita tidak terkena penyakit Demensia/Pikun tersebut.
Demensia/Pikun Kenapa Terjadi, bagaimana Pencegahannya Dan Pengobatannya
Pukun merupakan berkurangnya fungsi kognitif pada manusia. Fungsi kognitif adalah satu fungsi luhur yang membuat manusia dapat berfungsi dan melakukan aktivitas keseharian dengan baik. Fungsi ini jga memiliki peran yang sangat penting dalam interaksi sosial antar individu. Tanpa fungsi kognitif yang baik, seseorang tidak ndapat bekerja dengan baik, bahkan tidak jarang yang tidak mampu mencapai standar dalam tugasnya

Kenapa bisa terjadi Demensia/pikun?
Demensia/pikun dapat terjadi karena Dementia: Dementia adalah sebuah istilah yang luas yang menyangkut kerusakan atau cedera pada otak yang dapat membuat otak tidak dapat mengingat ingatan dan keahlian hidup seperti cara berkomunikasi atau cara makan cara mencuci, cara beribadah dan lain sebagainya.

  • Alzheimer adalah karena timbunan kekusutan jaringan otak atau timbunan lemak. penggumpalan darah, yang menghambat aliran darah ke dalam otak. Sebagai akibatnya, saraf dan jaringan otak dapat menjadi rusak.
  • Amnesia: Juga dikenal sebagai sindrom amnesic, adalah kondisi yang ditandai dengan kehilangan ingatan setelah suatu kejadian yang mengakibatkan trauma, seperti kecelakaan atau cedera.
  • Obat-obatan: Beberapa jenis obat-obatan, seperti obat antidepresan diketahui dapat mengubah susunan kimia otak, yang akhirnya dapat mempengaruhi kemampuan organ tersebut.
  • Gaya hidup: Gaya hidup seseorang dapat menyebabkan terjadinya kepikunan.
  • Obesitas/kegemukan Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Cambridge University menunjukkan dampak buruk kegemukan dan obesitas tidak hanya terjadi pada jantung ataupun pembuluh darah. Kegemukan dan obesitas juga membuat otak menua 10 tahun lebih cepat, yang secara otomatis mempercepat terjadinya pikun.
  • Stres dan depresi, Penelitian yang dipimpin oleh Dimitry Davydow, MD, dari University of Washington School of Medicine menemukan stres dan depresi dapat meningkatn risiko terserang demensia lebih cepat.
  • Penyakit kronis, Mengidap penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hingga stroke bisa membuat seseorang lebih cepat mengalami demensia. Hal ini terjadi akibat adanya gangguan pada sistem pembuluh darah di mana aliran darah ke otak menjadi berkurang dan membuat fungsi kognitifnya menurun.

Banyak obat yang beredar di pasaran yang ditujukan untuk mengatasi keluhan pikun/lemahnya fungsi kognitif pada usia lanjut usia yang mulai mengalami penurunan fungsi kognitifnya. Keadaan ini sering dikenal dengan istilah "demensia" atau pikun. Namun hingga saat ini belum ada obat yang mujarab dan terbukti menyembuhkan penyakit demensia/pikun, terutama mereka yang membutuhkan peningkatan fungsi tersebut atau mereka yang sudah dalam keadaan stres berat, obat tersebut diantaranya adalah; beta-blocker, methylphenidate, donepezil, cafeine, dan lain-lain, yang dipercaya dapat meningkatkan atensi ataupun performa kognitif. Obat-obat ini umumnya dipasarkan dengan indikasi yang berbeda-beda (bukan sebagai peningkat performa kognitif).

Belakangan ada satu obat yang telah diindikasikan sebagai obat yang mampu meningkatkan fungsi kognitif yaitu, modafinil. Obat ini sebenarnya pertama kali dipasarkan sebagai obat yang mampu memberikan efek terjaga pada orang-orang yang mengalami gangguan tidur. Berdasarkan review oleh Battleday, dkk, ditemukan efek peningkatan fungsi kognitif dari modafinil, sesuai dengan pekerjaan yang ditekuni dan dihadapi oleh orang.

Disebutkan dalam 24 penelitia yang ditelaahnya, efek obat ini semakin konsisten jika mengerjakan ujian yang lebih panjang dan kompleks. Penelitian lain yang melihat efek obat ini pada orang sehat adalah penelitian Muller, dkk, penelitian ini dilakukan dengan desain acak, tersamar ganda, dan dengan kontrol plasebo, melibatkan 64 pasien sehat dan tidak menderita kekurangan tidur, 32 pasien mendapat 200 mg modafinil dan sisanya plasebo. Hasil yang hendak dinilai dalam penelitian ini adalah; efek obat terhadap fungsi kognitif non verbal, task enjoyment, dan krativitas, pengukuran menggunakan tes non verbal cara berfikir konvergen dan divergen untuk menilai kreativitas. Task enjoyment dinilai dengan menggunakan VAS, dan penilaian neuropsikologik dengan CANTAB battery.

Dari penelitian ini didaoatkan hasil bahwa pasien yang mendapatkan modafinil mendapatkan efek peningkatan fungsi memori kerja spesial, perencanaan, dan pembuatan keputusan pada tingkat tersulit. Selain itu ditemukan pula peningkatan vissual pattern recogrition memory following delay. Ditemukan pula adanya peningkatan yang signifikan tingkat task enjoyment secara subyektif. Tidak ditemukan perubahan mood. Efek obat ini terhadap kreatifitas tidak konsisten.

Peneliti menyimpulkan bahwa; modafinil dapat meningkatkan task enjoyment dan performa kognitif tes, terutama dalam hal perencanaan dan memori kerja, tetapi tidak meningkatkan kemampuan paired associates learning. Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa modafinil dapat meningkatkan beberapa aspek terkait performa kognitif pada orang yang tidak menderita gangguan tidur. Hal yang senada dengan penelitian ini juga diungkapkan dalam literatur yang ditulis oleh Kim Dongsoo. Dalam hasil review yang dilakukannya  ditemukan bahwa modafinil dapat digunakan oleh siapa saja yang hendak bekerja lembur. tetap terjaga, meningkatkan mood mereka. Para pengguna bisa saja merupakan orang yang sudah berada dalam tingkat stres yang tinggi, seperti pasien kanker ataupun para tentara di medan perang. Hal ini masih perlu dipastikan dengan pendekatan psikoneurgimonologikal.

Penyakit pikun dapat menyerang siapa saja, dan yang jelas untuk mencegah Demensia/Pikun perlu adanya kebiasaan berfikir secara kontinue walau hanya berfikir ringan dan beraktifitas ringan, misalnya: Membaca dan Menghafal Al Qur'an, mengisi teka teki, beribadah secara rajin, berdo'a, olahraga, menjaga pola makan-(makanan yang cukup gizi), Istirahat cukup, Santai dalah menjalani hidup (enjoy), walaupun seseorang itu sudah lanjut usia, Inshaa Alloh kita tidak akan pikun sampai ajal menjemput kita,,aamiin. Wallohu A'lam

Referensi:
Kelly AM, Webo CM, Athy JR, Ley S, Gaydos S Kognition enhancement by modafinil. Ameta analysis aviat space EnvironMed.2012:83 (7) 685-90

FDA Approved "smart drug"modafinilimproves brainfunction with almost zeroside effect (http//www.ibtimes.com)

Battleday RM, Brem AK. Modafinil for cognitif neuroenhancement in healty non sleep deprived subjects.A Systematic review.Eur Neuropsychopharmacol 2015:2(11)1865-81

Muller U, Rowe JB, Ritman T, Lewis C, Robbins TW, sahakian BJ Effect of modafinil on-non verbal cognition, task enjoyment and creative thinking in healthy volunteers Neurophrmacology, 2013:64 (5) 490-5

Kim D, Practical use and risk of modafinil a novel waking drug Environ Health toxicol (http//www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3286657/

CDK. Edisi November 2016
Pembaca yang budiman, jika Anda merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, silakan bagikan ke media sosial lewat tombol share di bawah ini:
 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top