AKU DAN HAFALAN JUS ‘AMMA DI SEKOLAHKU

AKU DAN HAFALAN JUS ‘AMMA DI SEKOLAHKU
Sebuah Contoh Karya Tulis Ilmiah (KTI) pada tingkat SD/MI, SMP/MTs/SMA/MA. Karya Tulis Ilmiah ini, termasuk jenis KTI yang masih sangat sederhana, mengingat penulisnya adalah masih berstatus Sekolsh Dasar dan Menengah. Pembuatan Karya Tulis Ilmiah memerlukan pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam setiap topik/temanya, sehingga memerlukan belajar, belajar dan belajar. Menulis KTI memerlukan pemahaman tentang kerangka pembuatan KTI, serta keterampilan mengembangkan kerangka yang baik.
AKU DAN HAFALAN JUS ‘AMMA DI SEKOLAHKU
Sebagai awal dari belajar pembuatan Karya Tulis Ilmiah, perlu adanya latihan membuat KTI secara sederhana, untuk kemudian seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam belajar, diharapkan pembuatan KTI akan mendekati sempurna dan berkualitas.
Di bawah ini saya sajikan contoh kerangka Karyua Tulis Ilmiah beserta contoh karya Tulis Ilmiah untuk jenjang Sekolah dasar dan Menengah, semoga dapat menjadi inspirasi Anda dalam membimbing anak-anak anda membuat Karya Tulis ilmiah (KTI)

Kerangka Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI)
BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab pertama dari karya tulis yang memperkenalkan (intro) kepada pembaca apa masalah yang akan dibahas atupun diteliti. Pendahuluan dalam karya ilmiah berdeda dengan pendahuluan buku ilmu pengetahuan. Pendahuluan dalam karya ilmiah menyatakan barang apa yang menjadi pokok pembicaraan, tujuan, wawasan dan rencana pengembangannya. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan umum biasanya terbatas pada pernyataan subyek,evolusi ilmu dan status ilmu global.

1.1    Latar Belakang Masalah

Pada bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, naik kesenjangan teoritis ataupun kesenjangan praktis yang melatar belakangi masalah yang diteliti. Pada latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori, hasil penelitian, dan diskusi ilmiah ataupun pengalaman – pengalaman pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti.

1.2    Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pernyataan-pernyataan yang hendak dicarikan jawabannya. Perumusan masalah merupakan
pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah.

1.3    Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.

1.4    Tujuan Penulisan

Tujuan merupakan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Masalah penilitian
dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedangkan rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

1.5    Metode Penulisan

Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.
1.6    Manfaat Penulisan

Sedikit berbeda dengan tujuan penelitian, sub bab manfaat penelitian berisikan manfaat penulisan yang dapat diperoleh dari penelitian yang akan dilakukan mahasiswa/peneliti tersebut.

1.7    Sistematika Penulisan
Merupakan aturan – aturan yang ada dalam sebuah penulisan ilmiah. Untuk bagian awal Format Sistematika Penulisan ini berisikan beberapa unsur yang mengandung gambaran dari isi karya tulis, kemudian untuk bagian isi merupakan penjelasan detail mengenai content dari karya tulis dan untuk bagian akhir merupakan data-data pelengkap dan pendukung pembuatan karya tulis.

BAB 2 LANDASAN TEORI
Yang dibahas pada bagian ini adalah teori-teori tentang ilm-ilmu yang diteliti. Penyajian teori dalam landasan teori dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan-bacaan. Akibatnya terjadilah penyajian materi yang tidak proporsional, yaitu mengambil banyak teori walaupun tidak mendasari bidang yang diteliti. Jadi seharusnya teori yang dikemukakan harus benar-benar menjadi dasar bidang yang diteiti. Selain itu, pada bagian ini juga dibahas temuan-temuan penelitian sebelumnya yang terkait langsung dengan penelitian. Teori yang ditulis orang lain atau temuan penelitian orang lain yang dikutip harus disebut sumbernya untuk menghindari tuduhan sebagai pencuru karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Etika ilmiah tidak membenarkan seseorang melakukan pencurian karya orang lain.

BAB 3 METODOLOGI PENULISAN

3.1    Metode Penelitian

Merumuskan metode yang dipakai dalam penelitian. Metode penelitian tersebut meliputi apa atau siapa yang diteliti, bagaimana memilih sampel dari populasinya, data apa saja yang harus dikumpulkan dan dengan metode apa data itu dikumpulkan, teknik  analisis data yang manakah yang digunakan.

3.2    Teknik Pengambilan Data
Dalam Pengambilan Data membutuhkan suatu instrumen. Instrumen ini dibutuhkan untuk pengambilan data untuk penelitian baik penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif. Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.

3.3    Teknik Sampling

Bagian dari metodologi yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Jika sampling dilakukan dengan metode yang tepat, analisis statistik dari suatu sampel dapat digunakan untuk menggeneralisasikan keseluruhan populasi.

3.4    Teknik Analysis
Analisis terhadap data, dengan tujuan mengolah data tersebut menjadi informasi, sehingga karakteristik atau sifat-sifat datanya dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian, baik berkaitan dengan deskripsi data maupun untuk membuat induksi, atau menarik kesimpulan tentang karakteristik populasi (parameter) berdasarkan data yang diperoleh dari sampel (statistik).

BAB 4 PEMBAHASAN

Pada bagian ini adalah pokok pembicaraan penulisan. Bagian pembahasan merupakan bagian paling penting dan merupakan bagian yang selalu dicermati oleh penilai. Dari bagian inilah dapat diketahui gagasan penulis dalam memecahkan masalah yang dikemukakan pada latar belakang masalah. Bagian pembahasan merupakan hasil analisis penelitian dari data-data yang telah diperoleh dan dibahas secara terperinci dan sistematis. Isi pembahasan tidak boleh menyimpang dan harus dilandari teori-teori tang sudah dikutip.

BAB 5 PENUTUP

5.1    KESIMPULAN

Kesimpulan haruslah menjawab rumusan masalah dan tujuan penulisan. Bagian ini menjelaskan simpulan yang telah siperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan dan merupakan gambaran umum seluruh analisa dan relevansi dengan hipotesis yang dikemukakan.

5.2    SARAN

Saran berisi saran penulis kepada pihak-pihak yang terkait dengan tema penelitian dan menjawab dari kesimpulan yang dikemukakan.

BAB 6 DAFTAR PUSTAKA

Tulisan yang tersusun di akhir sebuah karya ilmiah yang berisi nama penulis, judul tulisan, penerbit, identitas penerbit dan tahun terbit sebagai sumber atau rujukan seorang penulis.

Contoh Karya Tulis Ilmiah
AKU DAN HAFALAN JUS ‘AMMA DI SEKOLAHKU

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Robbil’alamiin, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh swt. yang telah meridloi terselesaikannya penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Saya berharap karya ini dapat membantu terhadap peningkatan siswa siswi sekolah Sekolah Dasar pada khususnya agar siswa yang berkarakter, berakhlakul karimah, berkualitas mandiri, tenggung jawab.
Usaha untuk meningkatkan kualitas siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kebumen perlu diberdayakan terus dengan maksud untuk meningkatkan kualitas siswa baik aspek pengetahuan, sikap/tingkah laku maupun keterampilan. Melalui kegiatan literasi dan pembiasaan siswa di SD Negeri ................. kecamatan ................. kabupaten Kebumen,  semoga dapat digunakan sebagai referensi dan acuan orang-orang yang berkepentingan, orang-orang yang peduli dengan anak-anak SD  untuk melakukan kegiatan literasi dan pembiasaan dan dapat dijadikan sebagai masukan terhadap pengambilan kebijakan masalah pendidikan, pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten ................
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya atas bimbingan, bantuan semua pihak yang terkait, terutama pada Bapak Guru sehingga saya dapat menulis Karya Tulis Ilmiah ini.

                   Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar iv
Daftar Isi v
BAB I    PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penelitian 5
D. Manfaat Penelitian 5
BAB II    LANDASAN TEORI
A. Laandasan Teori 7
B. Penelitian Yang Relevan 25
C. Kerangka Berpikir 26
D. Hipotesis Tindakan 28
E. Indikator Kinerja dan Kriteria Keberhasilan 28

BAB III   PEMBAHASAN
A. Setting Tempat dan Waktu Penelitian 30
B. Subyek Penelitian 31
C. Sumber Data 32
D. Tehnik Pengumpulan Data 33
E. Keabsahan Data 34
F. Tehnik Analisa Data 36
G. Prosedur Penelitian 36

BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan 67
B. Saran-saran 67
C. Tindak Lanjut 68
Daftar Pustaka 69

Contoh Karya Tulis Ilmiah dengan judul " AKU DAN HAFALAN JUS ‘AMMA DI SEKOLAHKU"
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan al-Qur’an sangatlah penting.  Sebuah  hadits yang menetapkan adanya syafa’at (pertolongan)  yang dimiliki al Qur’an, diantaranya adalah hadits riwayat dari Abu Umamah:
Bacalah al Qur’an, karana al Qur?an akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at (pembela) bagi ahlinya. (HR. Muslim)
Sekolah atau lingkungan belajar daopat didigunakan untuk  belajar apa saja, ilmu umum, ilmu agama, ilmu social, dan keterampilan  yang bermacam-macam. Yang terpenting dalam proses kegiatan pembelajaran harus kondusif serta nyaman bagi peserta didik dan juga budaya belajar  yang menyenangkan bagi seluruh warga sekolah sehingga akan tercapai hasil yang maksimal . Salah satunya kemampuan untuk dapat membaca dan menulis, serta menghafal  Al Qur’an dengan baik dan benar adalah kewajiban bagi setiap muslim.
Dari keterangan hadits tersebut saya jadi terpanggil untuk belajar Al Qur’an dengan cara menghafalkannya, walaupun hanya sebatas pada surah-surah pendek pada jus 30 yang dikenal dengan Jus ‘Amma, dengan harapan bisa saya jadikan bekal menghadap Allah Subhanahu wata’ala kelak.

Berangkat dari pemikiran tersebut,  Karya Ilmiah ini saya beri judul “Aku Dan hafalan Jus ‘Amma Di Sekolahku”. Karena dari berbagai pengalaman yang telah saya lalui siswa di SD Negeri ................. kecamatan ................., berbagai macam cara, metode, inovasi yang dilakukan, pendekatan pembelajaran belum dapat memenuhi target yang diharapkan oleh Guru dan Wali siswa. oleh karena itu,  Aku menulis Karya Tulis Ilmiah ini. Mudah-mudahan bisa meringankan beban dan perasaan saya yang prihatin melihat anak-anak dan teman-teman saya sangat kurang dalam memperdalam dan belajar Al Qur’an dan meningkatkan hasil belajar menghafal juz 30 atau jus ‘Amma sesuai yang diharapkan atau yang menjadi target sekolah SD  sebagai standar kelulusan.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka identifikasi masalah yang didapatkan di SD Negeri ................. kecamatan ................. yaitu sebagai berikut:
1. Hasil belajar menghafal juz 30 belum optimal (masih jauh dari target 100%),
2. Aktifitas siswa dalam mengikuti pembelajaran hafalan jus ‘Amma belum maksimal.
3. Perlu usaha metode pembelajaran yang tepat untuk dapat mencapai target yang diharapkan.

C. PEMBATASAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka penulis   hanya membatasi permasalahan pada aspek hasil belajar menghafal Al Qur’an juz 30 atau Jus ‘Amma Surah Ad Duha sampai Surah An Nas .  Sehingga pembahasan akan lebih sistematis dan terukur.

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah yang ada adalah
1. Apakah metode Drill dapat meningkatkan hasil belajar menghafal Al Qur’an juz 30 atau jus ‘Amma Surah Ad Duha sampai Surah An Nas pada Siswa SD Negeri ................. kecamatan .................?
2. Bagaimana pelaksanaan atau penerapan metode drill pada pembelajaran menghafal Al Qur’an juz 30 atau jus ‘Amma Surah Ad Duha sampai Surah An Nas pada Siswa SD Negeri ................. kecamatan .................?

E. TUJUAN DAN MANFAAT PENULIS AN
a. Tujuan Penulis an
Tujuan dari penulis an Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk berbagi pengalaman, pengetahuan bagaimana meningkatkan kemampuan menghafal Al Qur’an juz 30 atau jus ‘Amma Surah Ad Duha sampai Surah An Nas pada Siswa SD Negeri ................. kecamatan ................. sebagai standard kualitas (Quality Assurance) kelulusan (out put) SD Negeri ................. Kecamatan ................. .

BAB II
LANDASAN TEORI

A.  Menghafal Al-Qur’an (juz 30 atau jus ‘Amma))
a. Pengertian Menghafal Al-Qur’an (juz 30 atau jus ‘Amma)
Hafalan secara bahasa, berasal dari bahasa Arab “AlHafiz” yaitu hafiza – yuhfazu – hifzan, yang artinya yaitu memelihara, menjaga, menghafal, (Muhamad Yunus, kamus Arab-Indonesia).
Menghafal adalah lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa. Penghafal adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sederetan kaum yang menghafal, (Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al Qur’an Kaifa Tahfazhul Qur’an).
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia menghafal merupakan telah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat (tanpa melihat buku atau catatan lainnya), (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Pada hakekatnya arti hafalan secara bahasa tidak berbeda dengan arti secara istilah, dari segi pengungkapannya membaca tanpa melihat teks bacaan atau menghafalkan.

Menghafalkan al Qur’an bukan merupakan kewajiban semua umat,  tetapi dilihat dari segi-segi positif dan kepentingan umat islam, maka sangat diperlukan adanya para penghafal al Qur’an di setiap zaman atau masa, karena mereka sebagai penjaga keaslian pegangan hidup bagi umat islam.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang menjadi dasar bagi orang yang menghafal  Al Qur;an adalah:
1. Al Qur’an memang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW secara hafalan.
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
3. Melaksanakan anjuran Nabi Muhammad SAW.

B. Jus ‘Amma (jus 30)
disebut juga Juz ‘Amma kerana jus 30 dalam Al Qur’an dimulai dengan kata ‘amma yatasaa aluun, terdiri dari surat : An-Naba, an-Nazi’at, ‘Abasa, at-Takwir, al-Infithar, al-Muthaffifin, al-Insyiqaq, al-Buruj, ath-Thariq, al-A’la, al-Ghasyiyah, al-Fajr, al-Balad, asy-Syams, al-Lail, adh-dhuha, Alam Nasyrah, at-Tiin, al-‘Alaq, al-Qadr, al-Bayyinah, al-Zalzalah, al-‘Adiyat, al-Qari’ah, at-Takatsur, al-‘Ashr, al-Humazah, al-Fiil, al-Quraisy, al-Ma’un, al-Kautsar, al-Kafirun, an-Nashr, al-Lahab, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas. http: blogspot.com

BAB III
PEMBAHASAN
A. Hafalan Al Qur’an Jus 30 (jus ‘Amma) Di SD Negeri .................
Di SD Negeri ................. Kecamatan ................. Kabupaten Kebumen telah dilaksanakan pembelajaran hafalan Al Qur’an jus 30 (Jus ‘Amma),  mulai Surah Ad Duha sampai Surah Annas . hafalan ini dengan menggunakan metode Drill atau latihan secara rutin setiap hari sebelum memulai pelajaran sekolah. dan diwajibkan bagi semua Siswa Muslim dari kelas 1 sampai kelas 6.

Semua kelas di SD Negeri .................  setelah jam masuk sekolah, siswa siswi Muslim dari kelas 1 sampai kelas 6 harus mengikuti kegiatan literasi dan pembiasaan, yaitu hafalan Al Qur’an jus 30 (Jus ‘Amma), dengan pembagian surah yang berbeda antara kelas 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Walaupun berbeda tetapi sifatnya adalah melanjutkan hafalan dari kelas sebelumnya, misalnya, Siswa kelas 2 melanjutkan hafalan surah yang sudah dihafalkan di kelas 1, siswa kelas 3 melanjutkan hafalan surah yang sudah dihafalkan di kelas 2, begitu seterusnya sampai kelas 6, sehingga ditargetkan setelah lulus dari kelas 6, siswa siswi SD negeri ................. sudah mendapat bekal hafalan  hafalan Al Qur’an jus 30 (Jus ‘Amma) mulai dari surat Ad Duha sampai Surah An Naas.
Pembelajaran hafalan di SD Negeri ................. menggunakan metode drill atau metode latihan secara terus menerus setiap pagi. Cara ini aku  rasakan sangat baik dan tidak terasa sulit. Hafalan Jus ‘Amma dengan cara ini tidak terasa tapi hasilnya dapat terbukti dan terukur dengan hasil yang cukup memuaskan. Banyak teman-teman aku yang sudah hafal surah-surah dari Ad Duha sampai surah An Nas.
B. Penggunaan Metode Drill
1) Pengertian Metode Drill
Zuhairini mendefinisikan bahwa metode drill adalah suatu metode dalam pengajaran dengan jalan melatih anak didik terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan, (Zuhairini dkk, 1983:106)

Sedangkan menurut Zakiyah Darajat dkk. Mengatakan bahwa, latihan dimaksudkan agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya. (Roestiyah NK 2008).

Metode drill/latihan ini biasanya digunakan untuk tujuan agar anak didik :
a) Memiliki ketrampilan moroeis/gerak; seperti menghafal kata-kata, menulis, mempergunakan  alat, membuat suatu bentuk atau melaksanakan gerak dalam olah raga.
b) Mengembangkan kecakapan intelek; seperti mengalihkan, membagi, menjumlah, mengurangi, menarik akar dalam menghitung, menebak benda/bentuk dalam ilmu matematik, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya.
c) Dapat menggunakan data fikirnya yang makin lama makin bertambah baik, karena dengan metode drill, anak didik akan menjadi lebih teratur dan lebih teliti dalam mendorong daya ingatannya.
e) Pengetahuan ank didik akan bertambah dari berbagai segi dan anak didik tersebut akan memperoleh pemahaman yang lebih baik dan lebih mendalam.

2) Syarat-syarat Metode Drill
Agar penggunaan metode drill dapat efektif, maka harus memenuhi pesyaratan sebagai berikut:
a) Sebelum pelajaran dimulai, hendaknya diawali terlebih dahulu dengan sosialisasi dan penyampaian tujuan pembelajaran.
b) Harus ada pembimbing atau guru yang memandu kegiatan menghafal.
c) Metode ini dipakai hanya untuk bahan pelajaran kecekatan-kecekatan yang bersifat rutin dan otomatis.
d) Diusahakan hendaknya masa latihan dilakukan secara singkat. Hal ini dimungkinkan agar tidak membosankan siswa.
e) Maksud diadakannya latihan ulang harus memiliki tujuan yang lebih luas.
e) latihan diatur sedemikian rupa sehingga bersifat menarik dan dapat menimbulkan motivasi belajar anak.

3) Langkah-langkah Penggunaan Metode Drill
metode drill dapat lebih maksimal jika dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Kegiatan Guru
(1) Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan (audio, visual atau audio visual).
(2) Membimbing siswa setiap kegiatan menghafal.
(3) Menjaga kondisi siswa, lingkungan agar tetap kondusif dan kegiatan dapat berjalan lancar
(4) Membimbing hafalan  berulang-ulang

b) Kegiatan Murid
(1) Mendengarkan baik-baik pertanyaan atau perintah, arahan yang disampaikan guru kepadanya.
(2) Mengikuti bimbingan guru secara lisan atau tertulis atau melakukan gerakan seperti yang di perintahkan.
(3) Mengulang kembali hafalan atau gerakan sebanyak yang diperintah oleh guru.
(4) Mendengarkan pertanyaan atau perintah, arahan berikutnya. 44

Dengan langkah-langkah di atas, latihan diharapkan dapat betul-betul bermanfaat bagi siswa untuk menguasai kecakapan tersebut, serta dapat menumbuhkan pemahaman untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang diterima secara teori dan praktek.
4) Penilaian/Pemeriksaan
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa materi pelajaran ada dua macam yaitu secara teori dan praktek. Sementara pemeriksaan atau penilaian kedua-duanya dalam metode drill dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
a) Secara klasikal, yaitu murid menghafal bersama-sama.
b) Secara individual yaitu, murid di nilai secara individual secara lisan oleh guru.

Karena manfaat adanya penilaian/pemeriksaan ini dilakukan terhadap guru dan anak didik antara lain:
a) Untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar
b) Untuk menentukan angka kemajuan/hasil belajar masing-masing anak didik.
c) Untuk menempatkan anak didik dalam situasi belajar mengajar yang tepat. Untuk mengenal latar belakang (IQ, psikologi, fisik, lingkungan) anak didik yang mengalami kesulitan belajar, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan tersebut.
5) Kekurangan dan kelebihan metode drill
a) Kelebihan
Kelebihan metode drill adalah sebagai berikut:
(1) Dalam waktu yang relative singkat, dapat diperoleh penguasaan dan ketrampilan yang diharapkan.
(2) Para murid akan memiliki pengetahuan yang siap pakai.
(3) Akan tertanam pada setiap pribadi anak kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin.

Sedangkan kelemahan metode ini adalah sebagai berikut:
 (1) Bisa menghambat pengembangan daya inisiatif murid.
(2) Kurang memperhatikan relevansinya dengan lingkungan.
(3) Membentuk pengetahuan “verbalis” dan “mekanis”.

SD Negeri ................. Kecamatan ................. mewajibkan siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 menghafal Al Qur’an jus 30 (Jus ‘Amma) dari surah Ad Duha sampai surah An Nas dengan pembagian sebagai berikut:
adh-dhuha, Alam Nasyrah, at-Tiin, al-‘Alaq, al-Qadr, al-Bayyinah,
Kelas I di wajibkan menghafal surah al-Lahab, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas
Kelas II di wajibkan menghafal surah al-Ma’un, al-Kautsar, al-Kafirun, an-Nashr
Kelas III di wajibkan menghafal surah al-‘Ashr, al-Humazah, al-Fiil, al-Quraisy
Kelas IV di wajibkan menghafal surah al-Zalzalah, al-‘Adiyat, al-Qari’ah, at-Takatsur
Kelas V di wajibkan menghafal surah al-‘Alaq, al-Qadr, al-Bayyinah
Kelas VI di wajibkan menghafal surah adh-dhuha, Alam Nasyrah, at-Tiin
Pada setiap mau kenaikan kelas diadakan ujian Tahfidzul Qur’an tiap tiap kelas.
Sehingga di kelas VI semua siswa sudah bisa menghafal  Al Qur’an jus 30 (Jus ‘Amma) dari surah Ad Duha sampai surah An Nas

BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan metode Drill atau latihan secara terus menerus dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena dari jumlah siswa 16 di kelasku hanya satu yang hafalannya tergolong kurang baik.
2. Pelaksanaan. metode Drill atau latihan secara terus menerus di SD negeri ................. sesuai dengan langkah-langkah penggunaan, sehingga tidak mengalami kesulitan dan berjalan dengan baik dan lancer.

B. Saran-saran
1. Pelaksanaan kegiatan literasi dan pembiasaan, berupa kegiatan apapun,  hendaknya dilaksanakan secara terprogram dan berkelanjutan agar para siswa merasa diperhatikan, dibimbing, dituntun, sehingga pada akhirnya para siswa akan memperoleh hasil belajar yang baik, berkualitas, terkesan , dan yang terpenting dapat memperoleh bekal untuk menjalani, menghadapi kehidupan di dunia dan akherat seperti apa yang diharapkan oleh guru dan wali siswa, bangsa, dan negara.
2. Pelaksanaan kegiatan literasi dan pembiasaan, berupa kegiatan apapun hendaknya hendaknya dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan budaya mutu, penguatan karakter, dan pembiasaan sehingga berdampak terhadap peningkatan hasil belajar siswa baik aspek pengetahuan, tingkahlaku maupun keterampilan.

C. Tindak Lanjut
Karya Tulis Ilmiah ini mudah-mudahan  dapat dijadikan acuan bagi para pembaca dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan terhadap Allah Subhanahu wata’ala, dan para pembaca dapat melaksanakan kegiatan seperti apa yang telah dilakukan oleh SD Negeri ................. kecamatan ................. kabupaten Kebumen, dalam meningkatkan rasa keimanan dan ketakwaan terhadap Allah Subhanahu wata’ala, atau melaksanakan kegiatan yang lebih baik lagi dan lebih berguna bagi manusia, umat Islam khususnya, bangsa, dan Negara ini.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al Qur’an Kaifa Tahfazhul Qur?an, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), cet. 5, hlm.23
Agus Suprijono, Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 5
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002) hlm. 381
http://ctfarazila.blogspot.com/2013/05/mengapa-dipanggil-juz-amma.html
Muhamad Yunus, kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1989), hlm. 105
Slameto, Belajar dan Hal-hal yang Mempengaruhinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 2
Nana Sudjana , Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar , (Bandung Sinar Baru Algersindo)
Roestiyah NK, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008 ), hlm. 125
Zuhairini, dkk. (1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional.

Pembaca yang budiman, jika Anda merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, silakan bagikan ke media sosial lewat tombol share di bawah ini:
 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top