Mau Jadi Pecundang Dan Budak Syaitan Atau Pemenang Di Dunia Dan Akherat! Tentukan Pilihan Anda

Mau Jadi Pecundang Dan Budak Syaitan Atau Pemenang Di Dunia Dan Akherat! Tentukan Pilihan Anda
Pecundang,  bisa kita maknai sebagai ’orang yang lemah dan tidak bertanggungjawab, melakukan kecurangan demi mencapai tujuannya’. Persoalan yang mengemuka ternyata di dalam wacana masyarakat, kata pecundang mempunyai makna yang multitafsir dan disesuaikan dengan selera pengucapnya.

Jadi boleh dibilang kata pecundang ini termasuk salah satu kosakata yang sering salah kaprah dan ”salah asuhan”. Di suatu masa pecundang pernah dikonotasikan dengan ’pengecut’, penghianat, Musang berbulu Domba, Pembual. dan lain sebagainya.
Mau Jadi Pecundang Dan Budak Syaitan Atau Pemenang Di Dunia Dan Akherat! Tentukan Pilihan Anda
Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia Pusat Bahasa sampai edisi yang kedua, istilah pecundang bahkan tidak tercantum dan hanya ditemukan kata dasar cundang. Cundang di situ punya dua makna. Yang pertama ’hasutan’ dan yang kedua merujuk ke kata kecundang yang diberi makna ’kalah’.

Mari membuka Kamus Lengkap
Inggeris-Indonesia dan Kamus Indonesia-Inggris susunan Prof Wojowasito dan WJS Poerwadarminta yang memadani
kata tjundang (masih dalam ejaan lama) dengan conquered, mischief-making dan kata mentjundang dengan makna ’to make mischief, to cause trouble’ (berbuat onar). Di masa kini pecundang lebih banyak dipadankan dengan kata a loser ’orang yang selalu menemui kegagalan dalam hampir semua kegiatannya’.

Dengan begitu banyak permaknaan yang berkembang, mungkin Pusat Bahasa perlu turun tangan mendudukkan secara wajar kolokasi kata pecundang. Ini belum lagi membahas mengenai imbuhan yang dipadukan dengan pecundang.

Dari bermacam-macam pengertian di atas maka dapat kita simpulkan, pecundang adalah orang yang mempunyai sifat’ seperti pada kata pemalu, pemarah, pemalas, tidak bertanggung jawab, lemah, curang, pegecut, penghasut, dan seterusnya yang berkaitan dengan sifat negatif seseorang dalam usahanya untuk mencapai tujuannya.

Pemenang
Pemenang memiliki satu arti. Pemenang berasal dari kata dasar menang. Pemenang memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga pemenang dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Berkaitan dengan Orang, pribadi seseorang, pemenang adalah orang yang Berhasil mengalahkan, menjadikanmu juara. Berhasil mengalahkan orang lain, menjadikanmu pemenang dalam segala hal.

Sebagai inspirasi Anda, saya mengajak anda menyimak kisah seorang anak, yang sering dianggap pecundang oleh lingkungan disekitarnya. Begini caranya.
Sejak kecil ia sudah sakit-sakitan. Bahkan ketika usia TK, SD, sering kali ia tidak masuk sekolah karena sakit. Dapat dikatakan, di antara teman-teman dan saudara-saudaranya, dialah anak yang paling sering sakit.
menginjak usia remaja kondisi fisiknya masih sangat lemah. Hampir setiap bulan, ia selalu tidak masuk sekolah selama beberapa hari, karena alasan sakit. Bayangkan saking lemahnya, sewaktu olahraga dan upacara saja, sering kali ia pingsan. Padahal dia laki-laki dan sudah SMA!
Bukan cuma gampang sakit. Ketika kelas SMP, ia adalah anak paling bodoh untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Ketika kelas SMA, ia adalah satu-satunya anak yang tidak berani tampil di depan kelas. Selain minder. Ia juga kuper. Teramat sangat kuper.

Tidak cukup sampai di situ. Keluarganya yang serba pas-pasan itu tinggal dirumah kontrakan di Dumai, sebuah kota kecil di Riau. Selama 10 tahun ibunya bekerja dan setiap hari pulang pergi menumpangi becak. Kemudian keluarganya pindah ke kota lain di Kepulauan Riau dan tinggal di rumah tipe 21. yah terhitung rumah yang sangat kecil untuk sebuah keluarga yang terdiri dari 6 orang.
Ketika ia kuliah, ayahnya meninggal. Agar bisa bertahan hidup dan kuliah, ia berjualan makanan setiap harinya, dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam.

Begitu beranjak remaja dan dewasa, barulah ia menyadari kelemahan-kelemahan dirinya. Ia pun berniat, berhasrat dan bertekad untuk berubah, dari pecundang jadi pemenang. Dan berkat pertolongan Yang Maha Kuasa melalui Sepasang Bidadari, ia berhasil mengubah nasibnya. Betul-betul berubah!
Bagaimana kesehatannya? Dibanding teman-teman dan saudara-saudaranya, dialah orang yang paling jarang sakit. Andai sakit sekalipun, hamper selalu ia sembuh tanpa harus berobat atau kedokter sama sekali.
Bagaimana Bahasa Inggris-nya? Siapa sangka, ia sempat menjadi penerjemah untuk proyek PBB, dosen untuk kelas internasional, dan pengarang lagu untuk lirik Bahasa Inggris.
Bagaimana keuangannya? Ia pun memilikii beberapa bisnis.
Sebabagian dari anda mungkin bisa menebak. Yah, dengan segala kerendahan hati saya sampaikan, orang itu adalah saya sendiri Ippho Santosa. Hendaknya, rangkaian kejadian diatas menyadarkan kita semua bahwa menjadi pemenang itu adalah hak siapa saja. Tidak jadi soal apakah dulunya kita lemah, bodoh, minder, kuper, berasal dari keluarga miskin, berasal dari daerah, atau apapun. Karena bagi Yang Maha Kuasa. Tidak mustahil. Apalagi kalau Sepasang Bidadari sudah turut menyertai. Jadi siapakah Sepasang Bidadari itu? Bersabarlah, tidak lama lagi Anda akan mengetahuinya.

Berkaitan dengan pilihan Anda, sangat perlu Anda pahami tentang Law Of Attraction (LOA) Dan kekuatan Doa. Saya yakin, kebanyakan dari pembaca sudah pernah mendengar tentang Hukum Tarik-Menarik (Law Of Attraction). Supaya mudah sebut saja LOA. Intinya kurang lebih begini: apa yang anda pikirkan, itulah yang semesta berikan. Boleh juga dibilang, pikiran andalah yang menarik segala sesuatu itu terjadi. Thoughts become things.
Nah, LOA itu punya hukum-hukum tersendiri. Dan berikut ini saya hanya akan membeberkan sederet hukum LOA yang tersembunyi selama ini.

Tentu saja, itu terjadi karena izin Yang Maha Kuasa. Bukankah Dia itu persis seperti persangkaan hamba-Nya?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

Inilah bentuk husnuzhon atau berprasangka baik pada Allah yang diajarkan pada seorang muslim. Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim no. 2877).

Husnuzhon pada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam do’a. Ketika kita berdo’a pada Allah kita harus yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya do’a dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya do’a.  Karena ingatlah bahwasanya do’a itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhon pada Allah.

Tahukah Anda, do’a itu terkait erat dengan LOA? Yap, keduanya saling menguatkan satu sama lain. pada hakikatnya do’a, impian, dan harapan itu kurang-lebih sama saja? Dia adalah sesuatu yang ingin Anda wujudkan.
Tahukah Anda, terdapat satu buhul (ikatan) yang menghubungkan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda? Sehingga mau tidak mau, buhul ini mempengaruhi terwujud atau tidaknya impian Anda.
Tahukah Anda, begitu impian orang-orang di sekitar Anda selaras dengan impian Anda, berarti impian Anda menjadi lebih ‘bersayap’. Dimana impian Anda akan lebih cepat terwujud. Sangat cepat!
Tahukah Anda, pikiran kosong itu gampang kesambet? Jangan salah paham, ini sama sekali bukan soal kerasukan. Maksud saya, pikiran yang kosong mudah dikalahkan oleh pikiran yang berisi. Pikiran yang lemah mudah dikalahkan oleh oleh pikiran yang yakin.

Sebagian kita kadang menggerutu, mengapa Yang Maha Kuasa tidak mau mengabulkan do’a dan mewujudkan impian kita. Padahal bukan begitu. Justru kitalah yang tidak mau mematuhi hukum-hukum LOA. Ingatlah do’a itu terkait erat dengan LOA. Terbukti, orang atheis sekalipun dapat mewujudkan impiannya, semata-mata karena ia mematuhi hukum-hukum LOA.

Dengarkan saya, gabungkan antara adab do’a dan hukum LOA membuat impian Anda terwujud dalam waktu yang jauh lebih cepat! Jadi, gabungan keduanya, bukan salah satunya. Menurut paham otak kiri, tentu ini sulit untuk diterima, sampailah ia benar-benar mencoba dan membuktikannya.
Stephen Covey pernah berwasiat,”Sesuatu yang tidak bisa Anda kendalika, maka lupakan saja.” Menurut saya, ini kurang tepat. Dengarkan saya, yang sesungguhnya, segala sesuatu masih bisa Anda ‘kendalikan’. Dengan apa? Dengan do’a, zikir, dan sejenisnya.

Berkaitan dengan pilihan Anda juga, pertimbangkan Kesenangan Pribadi Anda dengan Kesenangan, dan keinginan Orang Tua

Saya punya satu kisah menarik untuk Anda. Siang itu, salah seorang sahabat saya ingin membeli satu unit rumah di perumahan yang saya kembangkan. Ketika kami bertemu, dia bilang, “Pengen sih Pak. Hitung-hitung buat investasi. Tapi, saya juga memuliakan dan mengutamakan Ibu saya. Jadi, rada bingung ngatur duitnya.” Yah, antara kesenangan pribadi dan kesenangan orangtua. Lantas apa jawaban saya? “Kalau Ibu. Kapan lagi bisa menyenangkan hati orangtua?” Dengan kata lain, saya melepaskan calon pembeli. Akhirnya sahabat saya memutuskan tetap memuliakan dan mengutamakan ibunya.
Kemudian, apa yang terjadi? Tidak disangka-sangka, dia malah memenangkan salah satu doorprize, yang memmang disediakan dan memang akan diundi untuk setiap pembeli di perumahan saya. Hm, Anda mau tahu apa doorprize,-nya? Satu unit motor senilai belasan juta! Hampir-hampir setara dengan biaya umrah tersebut! Saya sampai terkagum-kagum sendiri. Dapat rumah dapat motor, memuliakan dan mengutamakan orangtua, berbakti kepada orangtua lagi. Yang awalnya Cuma kepikir dapat salah satu. Eh, ujung-ujungnya malah dapat semuanya.
Begitulah. Yang namanya berbakti kepada orangtua tidak akan pernah berakhir dengan sia-sia.

Sesuai dengan QS Al Isra ayat 24
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا23 

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا24

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia(1).Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Israa’: 23-24)

Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata sebagai berikut.

Aku bertanya kepada Nabi saw., “Amal apakah yang paling utama?” Nabi saw. menjawab, “Salat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan salat di awal waktunya).” Aku bertanya lagi, “Kemudian, apa?” Nabi menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian, apa?” Nabi menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (H.R. Bukhari I/134, Muslim No 85, Fathul Baari 2/9)

Berbakti kepada orang tua agar Allah ridha. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim, dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr bin Ash r.a. dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.

“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.” (H.R. al-Bukhari No.2, Ibnu Hibban No.2026, at-Tirmidzi No. 1899, al-Hakim IV/151-152)

Saudaraku, inilah rahasianya :
Tahukah Anda, keridhaan Yang Maha Kuasa itu tidak terlepas dari keridhaan orangtua? Tahukah anda, lingkar penciptaan itu tidak terlepas Lingkar keluarga? Kalaulah dia sudah ridha. Maka menggerakkan LOA, doa, dan impiian adalah perkara yang mudah.
Tahukah Anda, berbakti kepada orang tua itu akan menguak langit dan memanggil rezeki? Soal ini. Anda boleh pegang kata-kata saya! Memang itulah sebenarnya!
Tahukah Anda, do’a orangtua membuat rezeki Anda betul-betul tercurah? Namun hati-hati, demikian pula sebaliknya.

Begitu do’a orangtua Anda selaras dengan do’a Anda, berarti do’a Anda menjadi lebih ‘melangit’. Begitu impian orangtua Anda selaras dengan impian Anda, berarti impian Anda menjadi lebih ‘bersayap’. Yah, melipatgandakan kekuatan do’a dan LOA! Inilah dampak dari keselarasan impian.
Karena cukup sulit meminta orangtua untuk mengganti atau mengubah do’a mereka, maka saran praktis dari saya, mintalah mereka untuk menyebutkan impian Anda dalam do’a mereka. Percayalah, ini jauh lebih gampang ketimbang mengganti atau mengubah do’a mereka.
Lebih baik lagi, jika Anda awali dengan meminta maaf (ulang) kepada orangtua Anda.
Orangtua dan do’anya, inilah Bidadari yang pertama.
Kembali soal keselarasan. Ibarat shalat berjamaah, imam mesti memastikan keselarasan niat seluruh makmum. Dengan begitu, mudah-mudahan shalat tersebut akan 27 derajat lebih powerful. Demikian pula dengan impian, Anda mesti memastikan keselarasan impian Anda dengan impian orangtuadan pasangan Anda. Akan lebih powerful lagi, jika anda berhasil memastikan keselarasan impian Anda dengan impian tim Anda, kerabat Anda dan teman-teman Anda. Makin banyak, makin selaras, makin powerful. Bagaikan sebuah keajaiban!

Dan salah satu alasan mengapa bangsa yang kita cintai ini susah majunya adalah karena masing-masing mempunyai impian yang berbeda-beda. Mulai dari warga negara sampai ke pejabat negara. Ibarat shalat berjemaah, masing-masing mempunyai niat yang berbeda. Lha, mau jadi apa tub shalat? Hei, tolong dijawab, mau jadi apa tubuh shalat? Saya yakin malaikat pun akan geleng-geleng kepala melihatnya.

Kalau Anda masih ragu-ragu dengan kekuatan Sepasang Bidadari, silakan dengar baik-baik pengalaman Denni Delyandri, Badroni Yuzirman, dan A. Pramono, yang ada di CD bonus. Sepenuh hati mereka mengakui bahwa berbakti kepada orangtua dan doa orang­tua itu laksana sebuah keajaiban, yang pada akhirnya membuka pintu rezeki, go national, dan meraih kemenangan demi kemenangan.

Saudaraku,  pembaca sekalian, sejenak coba Anda pikirkan:
·         Orangtua selalu membanggakan Anda. Apakah Anda selalu membanggakan mereka?
·         Orangtua selalu mendoakan Anda. Apakah Anda selalu men­doakan mereka?
·         Orangtua selalu berkorban untuk Anda. Apakah Anda selalu berkorban untuk mereka?
·         Orangtua berusaha membahagiakan Anda. Apakah Anda ber­usaha membahagiakan mereka?
·         Orangtua membesarkan serta menafkahi Anda dan saudara-­saudara Anda, tanpa pernah mengeluh. Padahal kehidupan orangtua kadang serba berkekurangan. Tapi, begitu Anda dan saudara-saudara Anda beranjak dewasa, malah mengeluh ketika harus membantu dan menafkahi orangtua. Padahal kehidupan Anda dan saudara-saudara Anda sering serba berkecukupan.

Sekarang, coba renungkan apa yang telah kita buat untuk Orang Tua Kita:

  • · Saat kita berusia 1 tahun, orangtua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
  • · Saat kita berusia 2 tahun, orangtua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orangtua memanggil kita.
  • · Saat kita berusia 3 tahun, orangtua memasakkan makanan ke‑ sukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
  • · Saat kita berusia 4 tahun, orangtua memberi kita pensil berwarna. Sebagai balasan, kita malah mencoret-coret dinding dengan pensil tersebut.
  • · Saat kita berusia 5 tahun, orangtua membelikan kita baju yang bagus-bagus. Sebagai balasan, kita malah mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
  • ·   Saat kita berusia 10 tahun, orangtua membayar mahal-mahal uang sekolah dan uang les kita. Sebagai balasan, kita malah malas-malasan bahkan bolos.
  • ·  Saat kita berusia 11 tahun, orangtua mengantarkan kita ke mana-­mana. Sebagai balasan, kita malah tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.
  • · Saat berusia 12 tahun, orangtua mengizinkan kita menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan, kita malah meminta orangtua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
  • ·  Saat kita berusia 13 tahun, orangtua membayar biaya kemah, biaya pramuka, dan biaya liburan kita. Sebagai balasan, kita malah tidak memberinya kabar ketika kita berada di luar rumah.
  • · Saat kita berusia 14 tahun, orangtua pulang kerja dan ingin me­meluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, "Papa, Mama, aku sudah besar!"
  • · Saat kita berusia 17 tahun, orangtua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-­teman kita yang sama sekali tidak penting.
  • · Saat kita berusia 18 tahun, orangtua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan, kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokan harinya.
  • · Saat kita berusia 19 tahun, orangtua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, "Papa, Mama, aku malu! Aku 'kan sudah gede!"
  • ·  Saat kita berusia 22 tahun, orangtua memeluk kita dengan haru ketika kita diwisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepa­danya, "Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membeli­kan aku ini dan itu?"
  • ·  Saat kita berusia 23 tahun, orangtua membelikan kita sebuah barang yang kita idam-idamkan. Sebagai balasan, kita malah mencela, "Duh! Kalau mau beli apa-apa untuk aku, bilang-bilang dong! Aku'kan nggak suka model seperti ini!"
  • ·  Saat kita berusia 29 tahun, orangtua membantu membiayai per­nikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah ke luar kota, meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
  • ·  Saat kita berusia 30 tahun, orangtua memberi tahu kita bagai­mana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, "Papa, Mama, zaman sekarang sudah beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu."
  • · Saat kita berusia 40 tahun, orangtua sakit-sakitan dan mem­butuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan, "Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku."
  • · Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orangtua. Bukan mustahil, itu yang menyumbat rezeki dan kebahagiaan kita selama ini.

Inspirasi Lebah
Bukan lebah jantan, melainkan lebah betinalah yang membuat sarang dan mencari makan. Dua ayat dalam Surat An-Nahl atau Surat Lebah
(QS. An-Nahl, ayat 68-69
{وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (69) }

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia, “kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Seolah-olah mengisyaratkan ini. Di mana ayat-ayat tersebut menggunakan kata kerja femina, berkisah tentang lebah yang membuat sarang dan mencari makan.

Bagai Sepasang Bidadari. Kalau orangtua itu adalah bidadari yang pertama, lantas siapakah bidadari yang kedua? Tidak lain tidak bukan, dia adalah pasangan Anda. Menurut saya, menikah itu ber­korelasi positif dengan rezeki. Dan bukan saya saja yang berpenda­pat begitu. Pengusaha kebab Hendy Setiono juga berpendapat bah­wa menikah itu dapat membuka pintu-pintu rezeki.
1. Istri yang selalu mendoakan suami, istri juga berperan besar dalam kelancaran rezeki dalam keluarga.
2. Istri yang selalu bertawakal
3. Istri yang pandai bersyukur
4. Istri yang baik agamanya
5. Istri yang banyak beristighfar
6. Istri yang gemar bersilaturrahim, “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Bersilaturrahim artinya menyambung tali persaudaraan, baik kepada orang tua atau sanak keluarga. Istri yang demikian secara tidak langsung membantu memperlancar rezeki suami khususnya dan umumnya untuk keluarga.

7. Istri yang gemar bersedekah, “Perumpamaan orang-orang yang menaf¬kahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)
Berbahagialah anda para suami jika sudah memiliki istri yang gemar besedekah. Seperti itulah janji Allah. Jika dihitung, sedekah sang istri akan dilipatgandakan menjadi 700 kali kebaikan.

8. Istri yang bertaqwa, “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At Thalaq: 2-3)
Ayat di atas merupakan janji Allah SWT terhadap orang yang bertaqwa. Dan mustahil bagi Allah SWT untuk mengingkarinya.

9. Istri yang taat pada suami, Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya, sepanjang tidak mendurhakai Allah SWT. Meskipun tidak secara langsung berpengaruh kepada rezeki, namun istri yang taat kepada suami akan membawa ketenangan kepada suami yang tengah mencari nafkah. Ketenangan tersebut yang akan membawa kepada suami meraih apa yang dicita-citakan.
Pembaca yang budiman, jika Anda merasa bahwa artikel di blog ini bermanfaat, silakan bagikan ke media sosial lewat tombol share di bawah ini:
 
About - Contact Us - Sitemap - Disclaimer - Privacy Policy
Back To Top