Contoh Jurnal Pendidikan PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGGUNAKAN MEDIA MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DENGAN TEKNIK PERTEMUAN INDIVIDUAL BAGI GURU

Contoh Jurnal Pendidikan PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGGUNAKAN MEDIA MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DENGAN TEKNIK PERTEMUAN INDIVIDUAL BAGI GURU

Contents [Show Up]
Contoh Jurnal Pendidikan
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGGUNAKAN MEDIA MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DENGAN TEKNIK PERTEMUAN INDIVIDUAL BAGI GURU

Dalam rangka peningkatan kompetensi Guru Kepala Sekolah diharapkan mampu bekerja secara profesional dan berkelanjutan, sehingga dapat memantau dan memonitoring kinerja para guru yang ada serta meningkatkan kinerja dirinya dan para guru. Terlebih lagi tuntutan untuk pengajuan kenaikan pangkat baik guru, kepala sekolah sekarang harus melampirkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Contoh Jurnal Pendidikan  PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGGUNAKAN MEDIA MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DENGAN TEKNIK PERTEMUAN INDIVIDUAL BAGI GURU
Berikut contoh jurnal yang dipublikasikan di media masa. 

ABSTRAKS
“Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Menggunakan Media Melalui Supervisi Akademik Dengan Teknik Pertemuan Individual Bagi Guru    .... Kecamatan    .... Pada Semester II
Tahun Pelajaran    ....”. 
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang peningkatan Kompetensi dan Efektifitas Penggunaan Media Pembelajaran Pembelajaran Bagi Guru pada    .... Kecamatan    .... Kabupaten ...........n Tahun Pelajaran    .....
Penelitian ini menerapkan Penelitian Tindakan Sekolah/Action Research terhadap Penggunaan Media Pembelajaran oleh guru kelas dan guru mapel melalui Supervisi Akademik dengan Teknik Pertemuan Individual Bagi Guru    .... Kecamatan    .... Tahun Pelajaran    ..... Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan penggunaan media pembelajaran secara optimal guna meningkatkan keaktifan, efisien dan minat belajar siswa di kelas dan agar hasil belajar siswa meningkat.
Sumber data atau informasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1) Sumber data primer (Pokok) yaitu seluruh guru kelas dan guru mata pelajaran berupa aktivitas guru dalam pembelajaran, 2) Sumber data sekunder dari siswa berupa hasil wawancara, arsip atau dokumen dan data observasi yang diperoleh observasi berbagai data- data dari kolaboration.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa melalui supervisi secara akademik terhadap  penggunaan media pembelajaran secara optimal meningkatkan (1) disiplin guru, (2) kreativitas guru (3) Kemampuan Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran dan (4) serta profesionalisme guru. Selain guru, juga berdampak positif kepada siswa antara lain: (1) Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran (2) Meningkatkan motivasi belajar (3) Meningkatkan kreativitas belajar siswa, serta (4) Meningkatkan semangat belajar siswa yang positif pada siswa    .... Kecamatan    .... Kabupaten Kebumen.
Kata Kunci :  Supervisi akademik, peningkatan Penggunaan Media Pembelajaran, hasil belajar siswa meningkat.


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kepala sekolah merupakan center of leader yang mengatur dan mengelola aktivitas menjadi terarah, terfokus dan mengalami peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, kepala sekolah berperan penting dalam peningkatan kinerja guru untuk lebih bersemangat dan profesional dalam mengajar dan mengembangkan diri dalam mentransfer ilmu kepada peserta didik. Kepala sekolah memimpin lembaganya dengan peranan yang sangat besar bagi peningkatan kemajuan sekolah. Hal ini disebabkan kepala sekolah dalam mengawasi kegiatan yang di programkan agar menjadi terarah, terfokus dan berhasil dengan baik.

Dalam upaya peningkatan kinerja guru, kepala sekolah sangat berperan penting khusunya dalam meningkatkan kinerja guru untuk lebih bersemangat dan profesional dalam mengajar. Dengan alasan yang sangat mendasar bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas pengajaran yang dilaksanakan, oleh karena itu harus memikirkan dan memuat perencanaan secara seksama dalama meningkatkan kesempatan belajar siswa dengan memperbaiki kualitas pembelajaran. Hal ini diharapkan guru berperan aktif sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang selalu berusaha menciptakan organisasi kelas, penggunaan metode mengajari maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar (Cece Wijaya, 1999:2)
Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah yaitu untuk meningkatkan kompetensi para guru dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga diharapkan dapat memenuhi misi pendidikan nasional dalam lingkup yang luas. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa masalah profesi guru dalam mengemban kegiatan belajar mengajar akan selalu dan terus berlanjut dan bantuan supervisi kepala sekolah sangatlah penting, dalam mengembangkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugasnya secara maksimal.

Hal tersebut di atas diperkuat oleh Permendiknas no. 13 tahun 2007 mengenai standar kepala sekolah atau madrasah yang telah mencantumkan 5 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi managerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial. Rambu-rambu penilaian kinerja kepala sekolah Dirjen Dikdasmen tahun 2000 yaitu : 1) Kemampuan menyusun program supervisi pengajaran, 2) Kemampuan melaksanakan program supervisi pengajaran, 3) Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi.
Berdasarkan studi awal supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah ternyata guru kelas dan guru mata pelajaran dalam melaksanakan pembelajaran dari delapan guru belum seluruhnya menggunakan media pembelajaran secara efektif baru sekitar 62,5% itu pun belum maksimal, sehingga penanaman konsep terhadap anak kurang. Sedangkan berdasarkan indikator kinerja dan keberhasilan guru dikatakan berhasil memiliki kompetensi apabila 75% memenuhi standar ketuntasan minimal atas kinerjanya. Berawal dari ketidak berhasilan dalam pembelajaran tersebut, peneliti mengadakan supervisi akademik untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dari pembelajaran yang dilaksnakan guru SD Negeri  4 Sikayu. Dari hasil diskusi bersama terungkap masalah dalam proses pembelajaran, ternyata penanaman konsep guru kurang tuntas, karena belum seluruhnya guru menggunakan media dalam proses pembelajaran secara efektif.

Permasalahan yang sebenarnya terjadi pada guru tersebut sehingga pembelajaran kurang efektif dan bermakna. Bagaimana guru memilih media pembelajaran yang tepat dan relevan sehingga pembelajaran menarik dan penanaman konsep mudah dipahami. Oleh karena itu kepala sekolah selaku peneliti mencoba melakukan tindakan nyata melakukan supervisi akademik sebagai upaya meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan media pembelajaran bagi guru    .... pada semester dua tahun pelajaran    .....

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah-masalah yang timbul antara lain dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Guru    .... belum seluruhnya menggunakan media pembelajaran / alat peraga secara efektif.
b. Guru    .... masih mengalami kesulitan dalam penanaman konsep pembelajaran.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian tindakan ini adalah :
1. Memperbaiki situasi sekolah saat ini
2. Meningkatkan dan mengem-bangkan mutu input, proses, dan output sekolah
3. Meningkatkan kinerja sekolah yang terkait dengan mutu, inovasi, keefektifitas, efisiensi, dan produktifitas sekolah
4. Meningkatkan kemampuan professional kepala sekolah
5. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah
Tujuan khusus penelitian tindakan ini adalah:
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh supervisi Kepala Sekolah akademik pertemuan individual dapat meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran di    .....
2. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga terjadi perubahan (inovasi) peningkatan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Diharapkan akan dapat meningkatkan prestasi belajar anak dan profesionalisme guru khususnya di    .....

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.   Kajian Pustaka
1. Supervisi Akademik
a. Hakekat Supervisi Akademik
Supervisi secara etimologi dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktivitas, kreativitas, dan kinerja bawahan (E. Mulyana, 2000 : 154).
Terdapat beberapa tokoh yang mengemukakan tentang supervisi diantara-nya:
1. Ngalim Purwanto berpendapat bahwa supervisi adalah suatu aktivitas yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (2006: 103). Supervisi diartikan sebagai pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membantu para guru, orang yang dipimpin agar menjadi personil yang cakap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pendidikan pada khususnya agar mampu meningkatkan efektivitas dalam proses belajar mengajar di sekolah.
2. Hadar Nawawi, berpendapat bahwa supervisi yaitu pelayanan yang disediakan pemimpin untuk membantu agar semakin cakap atau terampil dalam melaksanakan tugas-tugasnya dalam melaksanakan tugas-tugasnya, sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dibidang tugasnya tersebut (1996: 196).
3. Carter dalam Sahertian (2000; 17), supervisi adalah usaha-usaha dari petugas sekolah dalam memimpin para guru dan pegawai lainnya dalam memperbaiki pengajaran trmasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan para guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, dan metode serta evaluasi pengajaran.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi bukanlah kegiatan inspeksi, tetapi merupakan kegiatan berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga para guru selalu berkembang dalam mengerjakan tugas dan mampu memecahkan berbagai masalah pendidikan pengajaran secara efektif dan efisien.

Pada haikatnya supervisi mengandung berbagai kegiatan pokok, yaitu pembinaan yang berkelanjutan, pengembangan personil, perbaikan situasi belajar mengajar dengan sasaran akhir pencapaian tujuan pendidikan dan pertumbuhan pribadi peserta didik. Dengan kata lain supervisi adalah proses pelayanan  untuk membantu atau membina para guru. Pembinaan ini bermanfaat untuk perbaikan dan peningkatan kemampuan yang kemudian ditransfer kedalam perilaku mengajar sehingga tercipta suasana belajar yang lebih baik lagi yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi peserta didik.
Kompetensi supervisi akademik intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran supervisi akademik adalah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok pembelajaran, (1) penyusunan silabus dan RPP, (2) pemilihan metode pembelajaran; (3) penggunaan media dan teknologi informasi pembelajaran; (4) menilai proses dan hasil pembelajaran. Jadi supervisi akademik adalah serangkaian peningkatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran. (Doresh, 1989, Glickman, et al.2007). Supervisi akademik tidak terlepas dari penilain kinerja guru dalam mengelola pembelajaran.
b. Tujuan Supervisi Akademik
Tujuan supervisi menurut M. Moh. Rifama, M.A (1982: 39) sebagai berikut:
1. Membantu guru agar lebih dapat lebih mengerti/menyadari tujuan-tujuan pendidikan di sekolah, dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan itu.
2. Membantu guru agar mereka lebih menyadari dan mengerti kebutuhan dan masalah yang dihadapi siswanya, supaya dapat membantu siswanya itu lebih baik lagi.
3. Untuk melaksanakan kepemimpinan efkif dengan cara yang demokratis dalam rangka meningkatkan kegiatan-kegiatan prefosional di sekolah.
4. Menemukan kemampuan dan kelebihan tiap guru dan memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan itu dengan memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya.
5. Membantu guru meningkatkan kemampuan penampilannya di depan kelas.
Dari beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa fungsi dan tujuan supervisi adalah menganalisa faktor-fator yang memengaruhi perbaikan belajar mengajar seperti mengenai aktivitas guru dan peserta didik, memberikan pengalaman dan umpan balik terhahap perbaikan pembelajaran, dan tujuan pendidikan. Jadi, tujuan supervisi akademik adalah : (1) membantu guru mengembangkan kompetensinya; (2) mengembangkan kurikulum; (3) mengembangkan kelompok kerja guru dan membimbing penelitian tindakan kelas.
Hasil supervisi akademik sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.
c. Manfaat Supervisi Akademik
Keberhasilan supervisi tidak dapat dinilai oleh supervisor saja, justru guru yang disupervisi yang dapat merasakan keberhasilannya dari proses supervisi akademik. Karena supervisi tidak dapat dilakukan sepihak saja oleh supervisor, melainkan harus bersama-sama secara kooperatif, maka supervisi akademik sebagai berikut:
1. dapat mengidentifikasi kelemahan atau kekurangan yang perlu ditingkatkan guru.
2. Dapat menentukan cara-cara dan melaksanakan usaha-usaha peingkatan dan perbaikan pada guru yang disupervisi.
3. Dapat memberikan fasilitas dan membiming guru yang telah ditingkatkan untuk menerapkan hasil peningkatannya dalam proses belajar mengajar dan menilai keberhasilannya (M. Moh. Rifai, M.A, 1982;80)
Fungsi utama supervisi akademik ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran (Piet A. Sahertian, 2000: 21). Jadi kesimpulan manfaat supervisi akademik adalah membantu guru meningkatkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan

d. Supervisi Akademik Teknik Individual
Pertemuan individual adalah salah satu pertemuan percakapan, dialog dan tukar pikiran antara supervisor dan guru. Tujuannya adalah 1) Mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik; 2) Meningkatkan keampuan guru dalam pembelajaran; 3) memperbaiki segala keleahan dan kekurangan pada diri guru.
Sevearingen (1961) mengklasifikasikan empat jenis pertemuan (percakapan) individual sebagai berikut:
1) Classroom-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat).
2) Office-conference, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru, dimana alat-alat sudah dilengkapi dengan alat-alat baru bantu yang dapat dgiunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.
3) Causal-conference, yaitu percakapan yang bersifat informal yang dilaksanakan seecara kebetuan bertemu dngn guru.
4) Observation visitation, yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau bseravasi kelas.
Dalam peneliti ini, peneliti menggunkan supervisi akademik teknik perttemuan individual obeservation visitation.
Hal yang dilakukan supeervisor dalam pertemuan individu yaitu:
1) Berusaha mengemangkan segi-segi positif guru.
2) Mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitannya.
3) Memberikan pengarahan.
Menyepakati berbagai solusi permasalahn dan menindaklanjutinya.
2. Pengertian Kompetensi Guru
Berdasarkan Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang kualifikasi akademik guru dan kompetensi guru dijelaskan bahwa standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk meningkatkan kinerja guru yaitu :
a. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki seorang guru berkenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek, seperti moral, emosional, dan intelektual. Seorang guru harus menguasai teori belajar dan prinsip belajar, karena siswa memiliki karakter dan kemampuan berbeda.
b. Kompetensi Kepribadian
Tata nilai termasuk norma, moral, estetika, dan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi perilaku etika siswa sebagai pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Penerapan disiplin yang baik dalam proses belajar, akan menghasilkan sikap, mental, watak, dan kepribadian siswa yang kuat. Guru dituntut harus mampu membelajarkan siswanya tentang disiplin diri, belajar membaca, mencintai buku, menghargai waktu, mematuhi tata tertib, dan belajar bagaimana harus berbuat.
c. Kompetensi Sosial
Seorang guru harus memiliki kemampuan sosial dalam masyarakat. Kemampuan sosial meliputi kemampuan guru dalam berkomunikasi, bekerjasama, bergaul, dan mempunyai jiwa yang menyenangkan. Kriteria kinerja guru yang harus dilakukan adalah (1) bertindak objektif dan tidak diskriminatif; (2) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat; (3) berdaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki keberagaman sosial budaya; (4) berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tertulis atau bentuk lain.

d. Komptensi Profesional
Kompetensi profesional yaitu kemampuan yang harus banyak dimiliki oleh seorang guru dalam perencanaan, dan proses pembelajaran. Guru mempunyai tugas untuk mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran serta dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran.
Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran yang diamati dari beberapa aspek yaitu : (1) menguasai materi struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajran yang diampu; (2) menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang pengembangan yang diampu; (3) mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif; (4) mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif; (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.


1. Media Pembelajaran
a. Hakekat Media Pembelajaran
Dalam pembelajaran di SD agar bahan pengajaran yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa diperlukan alat bantu pembelajaran yang disebut dengan media. Media adalah alat bantu pembelajaran yang secara sengaja dan terencana disiapkan atau disediakan guru untuk mempresentasikan dan menjelaskan bahan pelajaran serta digunakan siswa untuk dapat terlibat langsung dengan pembelajaran.
Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah alat bantu apasaja yang dapat disajikan sebaagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran (Syaiful: 2010, 121).
Media pembelajaran telah dikenal lama. Bahkan sejak pendidikan formal atau pengajaran ada. Ada beberapa pengertian media berikut ini (dalam Miarso 1984) adalah :
1) AECT (Association of Education and Comunication Technology). Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan dan informasi.
2) NEA (National Education Association), media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya.
3) Leslie, J. Briggs, media adalah segala alat fisik yang dapat menyampaian pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contohnya: Buku, film, kaset.
4) Robert Gagne,  media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar.
5) Wilbur Schramm, media adalah teknologi pembawa informasi atau pesan intruksional.
6) Yusufhadi Miarso, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan media pembelajaran yaitu sebagai berikut :
1. Segala sesuatu (fisik) yang dappat menyampaikan informasi atau pesan pembelajaran.
2. Dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian atau peneriman pesan (siswa).
3. Sehingga tercipta bentuk-bentuk komunikasi atau proses belajar mengajar.

b. Fungsi Media
Media mempunyai kemampuan atau potensi tertentu dapat dimanfaatkan untuk keperluan guru (Raharjo : 1984) yaitu sebagai berikut :
1. Membuat konsep yang abstrak menjadi kongkret.
2. Menampilkan objek yang berbahaya atau langka ke dalam situasi belajar, misalnya film tentang binatang buas atau berbisa.
3. Menampilkan objek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, misalnya mikroskop.
4. Mempersingkat perkembangan yang memakan waktu, misalnya film tentang pertumbuhan biji kecambah
5. Memberi kesan perhatian individual.
6. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang tanpa kenal jemu kapanpun diminta.
Dengan demikian fungsi dan peranan media dalam proses belajar mengajar tidak lagi sekedar peraga atau alat bantu guru semata-mata melainkan segala sesuatu yang menyampaikan pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa.

c. Jenis-jenis dan Karakteristik Media
Secara singkat dikemukakan tentang penggolongan atau klasifikasi media, ada yang yang mengelompokan menjadi media cetak dan non cetak atau elektronik dan non elektronik. Namun secara umum media dapat dikelompokan sebagai berikut :
1) Media pandang dengan gerak : vidio/ VCD, film.
2) Media pandang-dengar diam : slide suara
3) Media dengar semi gerak : radio/ rekaman, audio bersinyal
4) Media pandang gerak : film tak bersuara
5) Media pandang diam : OHT, gambar, grafis (Chart = bagan, diagram, peta) poster, benda asli dan lain- lain.
6) Media dengar : radio, rekamn, audio (Kaset dan CD)
7) Media cetak : buku ajar, majalah ilmiah, koran dan lain- lain.
8) Multi media/multi image  : komputer, slide berangkai.(Drs. Kukuh Sansoro dan Drs. Sumardi M. Si, 2004)
Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar tidak hanya menggunakan media yang sudah tersedia lebih ditekankan pada penggunaan obyek nyata yang ada disekitar sekolah atau siswa.

d. Manfaat Media Pembelajaran
Nana Sudjana dalam bukunya Syaiful (2010:134) manfaat media pengajaran menjadi enam kategori, yaitu sebagai berikut:
1) Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan erupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendi sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi beajar mengajar yang efektif.
2) Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dri keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru.
3) Media pengajaran  dalam pembalajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4) Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5) Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar membantu siswa dam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6) Penggunaan media dalam pengajaran untuk mempertinggi mutu hasil belajar. Dengan kata lain, menggunakan media hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.

METODE PENELITIAN
A. Setting Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan di    ....  Kecamatan    .... Kabupaten Kebumen.    .... terletak 10 km di sebelah selatan kota    .... dan 8 km sebelah utara pantai    ...., sebagai desa di kaki gunung yang airnya gemercik sebagai sumber PDAM di Kecamatan    .... dan sekitarnya dan lebih tekenal dengan ikan guraminya, hampir setiap keluarga mepunyai kolam ikan. Peneliti memilih    .... sebagai obyek penelitian karena ingin mengetahui lebih jauh kondisi yang ada dan juga sebagai lokasi kerjanya sehingga dapat mempunyai manfaat ganda yaitu untuk berdampak terhadap peningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi di    .....
Pelaksanaan penelitian diawali dari observasi untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi di sekolah dalam proses pembelajaran, utama pemanfaatan media pembelajaran yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Mei 2018.
B. Subjek  Penelitian
Sebagai subjek penelitian ini adalah guru    ..... Pada semester dua tahun pelajaran    ..... Guru yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang dengan perincian laki-laki berjumlah 3 orang dan perempuan berjumlah 5 orang dengan perincian 6 guru kelas dan 2 guru mata pelajaran. Sasaran penelitian adalah guru kelas dan guru mata pelajaran dalam proses pembelajaran dengan melalui tindakan nyata sehingga mampu meningkatkan pembelajaran yang efektif utamanya dalam memanfaatkan media pembelajaran yang ada di sekitar sekolah, sehingga berdampak pada siswa prestasinya dapat meningkat.
C. Sumber Data
Pengumpulan data dilaksanakan 2 jenis yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa data tentang ketertiban dan kektifan siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan data kualitatif yaitu data tentang presentasi aktivitas guru dan pembelajran.
Sumber data atau informasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Sumber data primer (Pokok) yaitu seluruh guru kelas dan guru mata pelajaran berupa aktivitas guru dalam pembelajaran.
Sumber data sekunder dari siswa berupa hasil wawancara, arsip atau dokumen dan data observasi yang diperoleh observasi berbagai data- data dari kolaboration. 
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai teknik diantaranya penggunaan tes, penggunaan angket atau kuisioner, penggunaan metode interview atau wawancara, penggunaan metode observasi, dokumentasi dan sebagainya.
E. Teknik Analisa Data
Secara garis besar analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan langkah prosedur-prosedur yang diambil adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan dan Telaah Data
Pada tahap analisis data ini yang peneliti lakukan adalah menelaah sebuah data yang telah terkumpul dimulai sejak awal data terkumpul, penelaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis, mensintesis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan.
2. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan pengabstrakan dan transformasi data. Data yang dihasilkan dari observasi partisipatif, angket balikan dari siswa merupakan data yang relevan dan bermakna untu disajikan dengan cara memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah dan memiliki data yang mampu menjawab permasalahan penelitian yang selanjutnya data tersebut disederhanakan.
3. Penyajian Data
Penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Pada tahap ini peneliti mengajukan data yang telah direduksi ke dalam laporan secara sistimatik dilakukan untuk melihat gambaran data secara keseluruhan tentang data yang disajikan dalam bentuk narasi berupa informasi mengenai pengelolaan pelaksanaan tindakan kelas pada kelas I-VI    .....
4. Verifikasi Menarik Kesimpulan
Mengambil kesimpulan dan verifikasi adalah dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat dan proposisi. Dari pendapat tersebut maka data yang telah diproses dengan langkah-langkah seperti di atas, kemudian ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode induktif yang berangkat dari hal-hal khusus untuk memperoleh kesimpulan umum yang obyektif. Kesimpulan tersebut kemudian diverifikasi dengan cara melihat kembali pada reduksi data maupun pada display data sehingga kesimpulan yang diambil tidak menyimpang dari permasalahan penelitian. Bila kesimpulan masih kurang mantap, peneliti melakukan pengumpulan data kembali untuk mencari pendukung pembuatan kesimpulan dan sekaligus pendalaman yang ditemukan di lokasi penelitian
G. Prosedur Penelitian
Berdasarkan langkah-langkah sebagaimana tujuan supervisi akademik ada beberapa fungsi supervisi yaitu: (1) meningkatkan disiplin kerja secara luas (2) memecahkan masalah-masalah yang dihadapi guru di dalam kelas (3) membantu guru mengembangkan kompetensinya, (4) mengembangkan kurikulum, (5) mengembangkan kelompok kerja guru, dan meningkatkan serta memotivasi kerja guru (6) membimbing pengembangan profesi guru (7) mewujudkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dalam tugas. Dengan demikian maka prosedur umum supervisi akademik dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pra Kegiatan
1) Menciptakan situasi kebersamaan dan kekeluargaan.
2) Menginformasikan tentang fungsi supervisi secara klasikal kepada seluruh guru    ....
3) Melaksanakan supervisi akademik secara terstruktur berdasarkan jadwal serta memberikan informasi kepada guru akan pentingnya supervisi dilaksanakan.
b. Kegiatan Awal
1) Melakukan wawancara tentang pelaksanaan pembelajaran sebelumnya kepada guru yang disupervisi.
2) Tanya jawab tentang kondisi siswa yang sebenarnya sebelum dilakukan supervisi.
3) Memberikan motivasi dan perhatian terhadap guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
4) Menyampaikan tujuan pelaksanaan supervisi terhadap seluruh guru kelas.
c. Kegiatan Inti
1) Melaksanakan supervisi akademik di dalam/di luar kelas bagi guru mapel dengan mengamati guru dalam proses belajar mengajar.
2) Melakukan penilaian proses dalam kegiatan pembelajaran.
3) Melaksanakan diskusi atas kegiatan pembelajaran setelah selesai kegiatan belajar mengajar.
4) Melakukan penilaian  atas hasil supervisi akademik.
d. Kegiatan Akhir.
1) Membahas tentang  umpan balik atas supervisi yang telah dilaksanakan.
2) Menyimpulkan hasil pelaksanaan supervisi akademik guru di kelas masing-masing.
3) Melakukan tindak lanjut dan membahas topik tentang supervisi berikutnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari hasil rata-rata nilai pra siklus sampai dengan siklus 2, diperoleh data sebagai berikut :
No Hasil (%)
Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2
1 62,50% 69,88% 88,46%
Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Terjadi kenaikan persentase tingkat keberhasilan guru dalam penggunaan media pembelajaran pada siklus 1 dibandingkan pra siklus yaitu naik sebesar 7,38%.
2. Terjadi kenaikan persentase tingkat keberhasilan guru dalam penggunaan media pembelajaran dari siklus 2 dibandingkan siklus 1  yaitu naik sebanyak 18,58%
Selanjutnya peneliti menyajikan data tingkat pencapaian kinerja guru dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Berdasarkan diagram di atas, dapat dijelaskan bawaha pada siklus 1 dengan menggunakan teknik pertemuan individual kepada 8 guru. Setelah diadakan tindakan perbaikan, peneliti memperoleh data hasil penilaian rata-rata sebesar 69,88%. Hasil tersebut meningkat sebanyak 7,39% dari sebelumnya yaitu 62.50%.
Setelah RPP dan media pembelajaran disepakati bersama dan melakukan tindakan perbaikan, diperoleh hasil rata-rata nilai sebesar 88,46%. Hasil tersebut meningkat sebanyak 18,58% dari perbaikan sebelumnya pada siklus 1 yaitu hanya sebesar 69,88%.

KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan supervisi akademik terhadap guru di    .... sejak pelaksanaan siklus pertama sampai dengan siklus 2 mengalami peningkatan, terbukti bahwa hasil penelitian rata-rata pada studi awal untuk penggunaan media pembelajaran baru mencapai 62,50%. Setelah diadakan perbaikan pada siklus pertama mengalami peningkatan menjadi 69,88%. Sedangkan pada siklus kedua meningkat menjadi 88,46%.
2. Melalui supervisi akademik kepala sekolah terhadap 8 orang guru    .... pada semester II tahun pelajaran    .... dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan media dalam pembelajaran secara efektif, efisien, dan meningkatkan kreativitas serta semangat belajar siswa.
3. Melalui penilaian kinerja terhadap 8 orang guru    .... yang terprogram dan terencana yang baik akan berdampak terhadap proses belajar mengajar dalam penggunaan media dalam pembelajaran secara efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
B. Saran-saran
1. Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah terhadap guru hendaknya dilaksanakan secara terprogram dan kontinyu agar para guru dinilai kinerjanya secara terprogram sehingga dapat meningkatkan profesionalisme para guru.
2. Pelaksanaan supervisi akademik terhadap para guru oleh kepala sekolah hendaknya dijadikan komunikasi profesi antar guru dan kepala sekolah sehingga pelaksanaan supervisi mampu memberi dorongan kepada guru untuk meningkatkan dalam proses pembelajaran yang kondusif dan memperkenalkan teknik pembelajaran modern untuk inovasi dan kreativitas pembelajaran.
3. Pelaksanaan supervisi akademik terhadap para guru oleh kepala sekolah, hendaknya dijadikan alat untuk meningkatkan mutu guru sehingga berdampak terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

C. Tindak Lanjut
1. Penelitian ini hendaknya dapat dijadikan acuan bagi kepala sekolah dan para guru untuk meningkatkan kinerjanya.
2. Kepala sekolah mampu menjadi manager pendidikan yang melaksanakan tugas pelaksana supervisi akademik secara terprogram dan terencana.
3. Kepala sekolah sebagai penanggungjawab di satuan pendidikan mampu memberikan pembinaan untuk mengembangkan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran.
4. Kepala sekolah harus dapat mendampingi guru untuk selalu berkontribusi dan berpartisipasi sebagai mitra kerja yang aktif.
5. Kepala sekolah memberikan penguatan dan penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerja yang memenuhi atau melampaui standar dan memberikan kesempatan untuk mengikuti program keprofesionalan yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Purwanto Ngalim. 2006. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nawawi Hadar. (1996). Administrasi Sekolah. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Sahertian. (2000). Supervisi Pendidikan dalam Rangka Inservice Education. Jakarta : Rineka Cipta.
Rifama, Moh. M. (1992). Permendiknas No.16 Tahun 2007 Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Syaiful Bahri Djamaiah, Aswan Zaeri. L. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Kurikulum 2014 Untuk Kepala Sekolah. Prosedur Operasional Standar Bahan Ajar Implementasi.
Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembang Sumber Daya Manusia Pendidikandan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Kementrian dan Kebudayaan.